
Manusia biasa, yang datang dan pergi kapan saja. Waktu adalah sahabat yang paling dekat dan setia untuk bercerita tentang apa saja.
Dibaca: 195
Komentar: 10
1 dari 1 Kompasianer menilai Menghibur
Membaca Rathy
(Gelisah dalam Derasnya Kata-kata)
Oleh Putra Gara
Sudahkah kita gelisah? Karena kegelisahan adalah sebuah proses berpikir untuk mencari kesejatian hidup. Gelisah adalah renungan yang menuntun arah kebijakan. Kita gelisah ketika melihat pejabat korup, kita gelisah ketika melihat ketimpangan hidup yang disebabkan oleh ekonomi, sosial, politik atau juga budaya.
Gelisahlah yang telah melahirkan rumusan-rumusan. Gelisah adalah cahaya yang terpantul dari kehidupan gelisah itu sendiri. Dan segala kegelisahan itu, tergambar jelas dari setiap tulisan yang ditoreh oleh seorang penulis Rathy Oktriana dalam bukunya ini.
Sulit menjelaskan apakah Rathy adalah penulis puisi, cerpen, atau hanya seorang penulis tanpa embel-embel. Namun membaca karyanya dalam bentuk catatan pendek – sengaja saya bilang catatan, karena dibilang cerita pun beberapa tulisannya tidak tersusun dalam struktur cerita utuh, ia hanya ungkapan kegelisahan dari narasi dan dialog-dialog tanpa ending dan benang merah keutuhan cerita. Karena itulah saya menyebutnya sebagai catatan – dan dalam catatan-catatan Rathy, kita akan menemukan cahaya dari kegelisahan yang Rathy sodorkan.
Seperti dalam tulisan Bab tanpa Judul misalnya, kegelisahan Rathy sangat bercahaya ketika di alinea ketiga ia menuliskan :
Aku tak pernah menghitung, berapa banyak hari yang kita habiskan bersama, berapa banyak tawa, berapa banyak canda, berapa banyak lagu yang kita cipta. Tak penting, menurutku. Karena yang terpenting adalah, ini semua tentang KAU dan AKU. Dan diantara itu semua, tak ada tempat untuk cemburu. Cemburu bukanlah milik kita. Cemburu adalah milik mereka, yang melihat kita bahagia.
Kata-katanya sangat kuat. Membetot rasa sehingga mencoba mencerna dari setiap rangkaian kata-kata yang dicipta. Rathy seperti tukang mantra yang mampu menghipnotis penikmat bacaannya. Dan ia memang benar-benar pemantra kata ketika melontarkan kegelisahannya melalui derasnya kata-kata dalam puisi – saya sebut puisi karena pola penulisannya layaknya puisi – dalam puisi Mantra Pemabuk (dengan huruf besar semua).
DATANGLAH O INSPIRASI…
KUKETUK DAN KUJAMPI, SEPETAK TANAH INI
MELENGGAK-LENGGOK DALAM DENTING KECAPI
HARUM DUPA DAN MALAM YANG GULITA
Bait pertama puisi Mantra Pemabuk ini sudah membius pembaca dengan mengajaknya untuk terus mengikuti kata-kata yang lainnya.
DATANGLAH O SANG PERI…
BERI SERBUK MIMPI-MIMPI YANG KAU KANTONGI
UNTUK HARI YANG TAK LAGI SUNYI
AGAR DIAM DENGAN TEMARAM TANPA KELAM
MARI BERNYANYI UNTUK SEBUAH LITANI
Sangat elok Rathy bermain dengan kata-kata. Puisi itu ia tuliskan dengan huruf-huruf besar, entah disengaja atau tidak, kata-katanya seperti berteriak. Menerikai kegelisahan hati sang penulis dalam melihat dirinya, lingkungannya, atau bisa jadi lingkungan di luar dirinya yang ia coba tarik untuk mengisi rasa dalam hatinya, yang akhirnya melahirkan kegelisahan dalam derasnya kata-kata.
Buatku, tak ada cukupnya membaca Rathy dalam kata-kata, karena diluar dari kegelisahan dalam tulisan-tulisannya, bagiku ia adalah buku yang tak pernah selesai dibaca. Semakin aku sering membacanya, semakin terisi jiwaku oleh vitamin kehidupan dari dirinya. Kalau raga untuk menemukan fitalitas perlu mengkonsumsi makanan, jiwaku pun untuk tetap hidup memerlukan asupan. Dengan membaca Rathy, mungkin jiwaku akan dapat terpuaskan.
Sedangkan buat pembaca lainnya, bukalah lembar demi lembar buku ini, rasakan kegelisahan Rathy dalam setiap kata-katanya. Percayalah, kalian akan mendapatkan cahaya-cahaya jiwa yang dapat membawa kegelisahan itu menjadi kebijakan dalam hidup kalian ke depan.
Selamat Membaca.
Kedai Sastra Gara
10 Januari 2010