Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Bilik Sukma

Pemuda kelahiran Jakarta Juli 1989 yang mencoba menulis karena percaya bahwa menulis adalah pekerjaan menuju keabadian.

The True Life of Habibie, Cerita di Balik Kesuksesan

HL | 25 June 2010 | 10:48 Dibaca: 2209   Komentar: 29   12

http://lh3.ggpht.com

http://lh3.ggpht.com

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: A. Makmur Makka

“…, Oemar Bakrie, bikin otak orang seperti otak Habibie…”
(Iwan Fals, Guru Oemar Bakrie).

Begitulah Iwan Fals megkiaskan bagaimana guru mendidik dan membentuk manusia agar menjadi pandai, logis, cerdas, atau bahkan genius. Mengapa yang diibaratkan otak B.J. Habibie, menurut majalah Military Technology, 1987 yang mengomentari tentang sosok B.J. Habibie : “Manusia pintar, genius, dan mungkin dari 130 juta hanya akan ada satu seperti dia.”

Kata-kata itu memang bukan omong kosong, meski bukan itu yang terpenting. Tidak juga karena ia menciptakan suatu industri pesawat terbang canggih yang tidak pernah di percaya orang akan bisa dilakukan oleh orang-orang Indonesia.

Yang lebih penting sebetulnya bahwa kehadiran dan keberadaan B.J Habibie bagaikan angin yang telah memberikan getaran pada serumpun bambu sehingga semua bambu di sekitarnya jadi ikut bergetar keras dan makin keras, sehingga tidak ada lagi yang bisa menghentikan angin yang telah menggertarkan bangsanya.

Atau menurut Letnan Jendral (Purn.) CPM Djatikusumo, “Kalau dia bisa bikin pesawat terbang, saya tidak kagum. Tapi kalu ia bisa membikin orang-orang yang bisa membuat pesawat terbang dalam waktu singkat, tidak sampai satu generasi, itu saya kagumi. Itu yang paling hebat.”

Saya pribadi memang salah satu pengagum dari B.J. Habibie. Ketika sewaktu sekolah dasar dulu, jika di tanya tentang cita-cita kelak, saya menjawab saya ingin menjadi insinyur seperti B.J. Habibie, Soekarno, atau setidaknya seperti bang Abdullah alias si doel anak sekolahan—masa kecil yang ceria.
Ternyata di antara teman-teman saya di bangku SMK (STM) dulu banyak yang ingin menjadi insinyur dan mayoritas adalah pengagum B.J. Habibie.

Teman saya mengatakan kepada saya “jangan hanya mengagumi seseorang secara semu, lihatlah bagaimana kisah dibalik kesuksesanya.” Banyak diantara mereka  yang gemar membaca artikel B.J. Habibie dan ketika itu sudah tahu bahwa ada “teori B.J. Habibie”.

Sementara saya tidak tahu tentang informasi seperti itu, saya hanya kagum karena dia “katanya” cerdas dan bisa buat pesawat terbang. Namun sayang, banyak teman-teman saya yang berpotensial akhirnya gagal atau lebih tepatnya di gagalkan oleh keadaan. Dan saya bersyukur saya masih di beri kesempatan untuk mewujudkan cita-cita. Semoga terwujud.

Dan buku True Life Of Habibie, salah satu upaya saya untuk lebih tahu tentang sosok B.J. Habibie.
Dalam pengantar yang diberikan oleh B.J. Habibie. Beliau mengatakan bahwa “banyak hal dalam perjalanan hidup saya terdokumentasi dengan baik dalam buku ini, lebih dari yang saya tahu. Saya bisa mengatakan bahwa buku ini, adalah biografi yang terlengkap tentang diri saya yang pernah di tulis oleh beberapa pengarang.

Bacharuddin Jusuf Habibie lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Putra ke empat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Semasa kecil sampai sekarang B.J. Habibie akrab di sapa dengan Rudy. Makanan kesukaan B.J. Habibie adalah bubur manado. Ia juga gemar berenang, menyanyi, main layang-layang, naik kuda, main gundu (keler3ng), mallogo (logo), yaitu mainan dari tempurung segitiga. Sejak kecil sifat B.J. Habibie memang lebih serius. Dia tidak seperti lainnya, ia bermain hanya setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan jika bermain dengan blokken (micano), ia akan membuat kapal terbang dan sebagainnya.

Tanggal 3 sepetember 1950, sesuatu hal yang tidak terduga, Alwi Abdul Jalil Habibie—ayah B.J. Habibie—mendapat serangan jantung pada saat bersujud shalat isya. Karena selama ini R.A. Tuti Marini—ibu B.J. Habibie—lebih mementingkan pendidikan, maka ia mengambil dan memutuskan tindakan yang berat, serta tidak mau terlalu terbawa duka. Ia memutuskan B.J. Habibie anak tertua dirumahnya harus pergi ke Jawa. B.J. Habibie kemudian tinggal di Bandung, tinggal di tempat pak Soedjoed, yang merupakan teman baik almarhum bapaknya.

Saat di SMA B.J. Habibie mulai tampak menonjol prestasinya di kelas, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta seperti matematika, mekanika dan lain-lain. B.J. Habibie kemudian kuliah di ITB Bandung, selama menjadi mahasiswa ITB, B.J. Habibie memang banyak tertarik pada bidang pesawat terbang.

Salah satu hobinya yang tidak dapat berkembang adalah kegemaran dan perhatianya terhadap aeromodeling. Ia mempunyai pesawat terbang sendiri dan selalu di peragakan tetapi model tersebut tak pernah sempat untuk disempurnakan. B.J. Habibie menjadi mahasiswa ITB praktis hanya 6 bulan, karena kemudian ibunya bertekad agar anak-anaknya mampu bersekolah semaksimal mungkin termasuk ke luar negeri.

“Saya memilih B.J. Habibie karena anak itu terlihat lebih serius dalam hal belajar. Sampai-sampai di balik pintupun dia bisa membaca buku dengan asiknya” ujar ny. R.A Tuti Marini. Di Technische Hochschule Aachen Jerman Barat B.J. Habibie memilih jurusan kontruksi pesawat terbang.
Di ceritakan dalam buku ini bahwa B.J. Habibie ketika di Aachen mendapat serangan semacam influenza yang virusnya masuk ke jantung. Ini semua terjadi ketika ia sibuk mengorganisir seminar pembangunan mahaiswa PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia) saat itu B.J. Habibie menjadi ketua PPI.

Disaat seperti itu terkadang ia lupa makan dan tidak ada yang memperhatikan. Waktu itu tidak ada harapan bagi B.J. Habibie ntuk hidup. Bahkan, ia sudah dimasukan ke dalam kamar mayat dan di damping seorang rohaniawan yang khusus datang membacakan doa sebagaimana orang sakit yang sebentar lagi akan menghembuskan nafas terakhir. Selama 24 jam ia dalam keadaan tidak sadar. Ia tiga kali di kembalikan ke kamar mayat dari bangsal biasa. Dalam pembaringan ketika merenung. Dan disitulah ia menciptakan sebuah sajak berjudul sumpahku.

SUMPAHKU !!!
“terlentang!!!”//Djatuh!Perih!Kesal!//Ibu pertiwi//Engkau pegangan//Dalam perdjalanan//djanji pusaka dan sakti//tanah tumpah darahku.
Makmur dan sutji//….//hantjur badan//tetap berdjalan//djiwa besar dan sutji//membawa aku,…padamu!!!”

Disinilah terihat bahwa cita-cita dan pengabdianya kepada tanah air dan bangsanya telah tertanam jauh. Sejak ini merupakan suatu ekspresi yang dalam kalbu B.J. Habibie. Sejak telah menjadi pernyataan dan sumpah janjinya untuk menyerahkan jiwa raganya bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

B.J. Habibie meraih gelar Diploma Ing., dengan nilai cumlaude atau dengan angka rata-rata 9,5 pada tahun 1960. Dan pada tahun 1965 B.J. Habibie meraih gelar DR. Ingenieur dengan nilai summacumlaude atau dengan angka rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Feur Maschinenwesen Aachen. Ia meraih gelar Dr. Ing di bidang kekuatan struktur keempat yang dihasilkan perguruan tinggi Jerman setelah perang dunia ke-II. Tugas-tugas dalam penelitian itulah yang terus menerus ditekuninya.

Dari kegiatan sebagi ilmuan inilah B.J. Habibie menghasilkan rumusan-rumusan yang asli di bidang termodinamika, konstruksi, aerodinamika, dan keretakan. Penemuan-penemuan tersebut sudah diabadikan oleh berbagai pihak, yang berhubungan dengan pesawat terbang dikenal dengan “teori habibie”, “factor habibie”, dan “metode habibie”. Di Jerman, Habibie mendapat julukan yaitu Mr. Crack.

Saat di Jerman B.J. Habibie bekerja di Messermschmitt Bolkow Blohm (MBB). Dan pada tahun 1974 B.J. Habibie sudah diangkat menjadi wakil presiden dan direktur teknologi. Jabatan itu adalah jabatan tertinggi yang pernah diduduki oleh seorang asing di perusahaan itu.

B.J. Habibie juga memiliki kisah bagaimana untuk mendirikan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Dimana pada waktu itu seluruh dunia menertawakan, tidak ada orang yang mengangap itu serius. Akhirnya B.J. Habibie mendapatkan mitra yang diingnkan yatiu Casa Spanyol. Berdasarkan kerjasama dengan Casa Spanyol kemudian IPTN merancang dan memproduksi CN 235 yang telah di gunakan di Indonesia dan mancanegara.

B.J. Habibie mengatakan bahwa ia tidak pernah membayangkan memangku jabatan wakil presiden. “Sebagai putra bangsa, ia hanya ingin menunjukan pengabdianya. Oleh karena itu apapun yang dikehendaki bangsa, ia akan selalau merasa terpanggil untuk dapat semaksimal mungkin memenuhinya.”

“Dengan segala kerendahan hati dan menyadari segala hal keterbatasan saya, dengan mengucap bismillahirahmanirahim saya siap melaksankan amanat majelis yang mulia ini, dalam membantu dan mendampingi bapak presiden Soeharto, sebagi wakil presiden untuk masa bakti 1998-2003.” Urai B.J. Habibie dalam pidatonya.

Sebagai wakil presiden yang ke -7 dalam sejarah Republik Indonesia.
Menanggapi suara yang menuntut reformasi, wakil presiden B.J. Habibie menegaskan bahwa reformasi yang sekarang ini banyak di suarakan masyarakat hendaknya dilaksanakan secara konstitusional dan tdak boleh merugikan rakyat.

Saat bersejarahpun tiba. Kamis, 21 Mei 1998 tepat pada pukul 09.00 presiden Soeharto menyampaikan pernyataan pengunduran diri sebagai presiden. Mulai hari itu pula kabinet Pembangunan VII dinyatakan demisioner dan untuk mengindari kekosongan pimpinan dalam menyelengarakan pemerintahan negara. Wakil presiden mengisi jabatan presiden. Tepat pada pukul 09.10 wakil presiden B.J. Habibie mengucapkan sumpah sebagai presiden Republik Indonesia, dengan disaksikan pimpinan Mahkamah Agung.

Dalam waktu singkat kurang dari 24 jam setelah B.J. Habibie mengangkat sumpah sebagi presiden RI ke-3 ia mengumumkan kabinet yang dipimpin dan memberi nama kabinet tersebut, kabinet Reformasi Pembangunan. Sejalan dengan program mendesak yang telah dicanangkan itu, beberapa langkah kongkret dalam waktu singkat telah ditempu presiden B.J. Habibie antara lain memantapkan prosedur dengan jadwal yang jelas tentang pelaksanaa pemilihan umum yang luber, jujur dan adil.

Dalam penilaian majalah Asian Week, raport pemerintahan B.J. Habibie menujukan prestasi yang sangat baik dalam bidang manajemen krisis ekonomi, stabilitas nasional, pembangunan basis-basis kekuasaan, hubungan luar negeri, penampilan citra yang berbeda dengan pemerintahan orde baru. B.J. Habibie di nilai tidak mengadopsi gaya pemerintahan Soeharto yang otoriter, melainkan ia memerintah secara demokratis dan mengargai hak-hak rakyat.

Menurut B.J. Habibie, mantan presiden Soeharto kadang kala dianggap orang yang lebih tua dari padanya,. Tetapi pasti, ia merupakan sahabat yang baik. “Ia orang yang baik. Suatu ketika ia mengatakan kepada saya, “Rudi, suatu hari kelak banyak orang yang mengamati kamu. Banyak orang yang mengenal kamu. Kamu akan menjadi orang yang paling kesepian di dunia karena mengambil keputusan sendiri.” Dan kini, lanjut B.J. Habibie, “Saya sudah mengalaminya. Saya harus menghadapinya dan mengambilnya keputusan sendiri secara cepat.”

Hanya pada saat terakahir presiden Soeharto lengser dan setelah itu, barulah ia merasa ada perubahan sikap presiden Soeharto dengannya. Ada yang menduga, kemungkinan karena selaku presiden B.J. Habibie kemudian ‘tega’ meminta mantan presiden di periksa oleh Jaksa Agung dalam tuduhan yang menyangkut korupsi.

Yang menjadi sejarah kehidupan B.J. Habibie yang diulas dalam buku ini yaitu mengenai masalah Timor-Timur. Timor Timur menjadi masalah Internasional sejak wilayah itu mengakhiri masa kekosongan setelah ditinggalkan penjajah Portugis sebagi wilayah yang tak berpemerintahan dengan menyatakan tekadnya utnuk berintergrasi dengan Indonesia sebagimana diatakan pada deklarasi Balibo 30 November 1976. Presiden B.J. Habibie memberikan kebebasan kepada rakyat Timor-Timur untuk menetukan nasibnya sendiri, apakah tetap bergabung dengan Indonesia atau memisahkan diri. Bagi presiden B.J. Habibie masa depan Timor-Timur tidak hanya di tentukan oleh Jakarta, tetapi juga oleh seluruh rakyat di tanah Loro Sae itu. Tanggal 30 Agustus 1999 merupakan hari bersejarah bagi rakyat Timor Timur.

Ternyata dari jajak pendapat tersebut diketahui bahwa rakyat Timor Timur menjatuhkan pilihan untuk menolak usulan otonomi luas dengan status khusus yang ditawarkan pemerintah Indonesia. Hal itu tercermin dari jajak pendapat dengan 344.580 suara (78,2%) memilih merdeka dan 94.388 suara (21,8%) memilih tetap berintegrasi dengan Indonesia . Hasil jejak pendapat ini siiarkan serentakdi Dili dan new York.

Biver Singh—pengamat politik dari Universitas Nasional Singapura—melukiskan masalah Timor Timur bagaikan “bola panas”. Dengan diserahkannya masalah tersebut kepada PBB berarti Indonesia melempar bola panas pada PBB. Jadi, yang dilakukan presiden B.J. Habibie adalah ibarat melempar bola panas (dalam permainan rugby) dan masyarakat Internasional menangkapnya. Jadi, “kentang panas” itu sekarang ada pada di gengaman Internasional setelah 24 tahun membakar tangan Soeharto—yang menganggapnya sebagai bola “emas”.

Masalah Timor Timur dalam waktu singkat telah menguji kenegarawanan B.J. Habibie di mata dunia. Masalah ini telah menjadi perhatian dan opini dunia. Timor Timur telah menjadi bahan perdebatan yang tak henti-hentinya di PBB selama 24 tahun, dan akhirnya kini berakhir oleh sebuah “ofensif” diplomasi seorang negarawan.

1 Oktober 1999 hingga 22 oktober di selnggarakan siding umum MPR. Penyelengaraan SU MPR ini merupakan agenda terpenting dalam pemerintahan B.J. Habibie dan sekaligus merupakan berakhirnya masa jabatan presiden. Munurt Prof. Dr. Nuno Rocha, pakar komunikasi politik dari sebuah negara Eropa, menyatakan bahwa B.J. Habibie adalah seorang demokrat yang telah membarikan kontribusi menentukan dalam politik di Indonesia.

Selain dalam bidang pendidikan dan karir B.J. Habibie dalam buku ini bercerita tentang hal-hal ringan mengenai kehidupan B.J. Habibie, yaitu ketika B.J. Habibie bertemu kemudian mempersunting gadis pujaan atau ketika Habibie menunaikan ibadah haji.

Untuk melukiskan betapa bergejolak kebahagiaan B.J. Habibie setelah lamarannya di terima dikisahkan oleh S. Sapiie yang mendengar ungkapan pertama B.J. Habibie yang ditemuinya di depan kampus ITB ketika itu dalam bahasa Belanda yang antusias. “saya akan menikah.” S. Sapiie kaget di buatnya dan dengan berkelakar ia bertanya ,”siapakah wanita kurang beruntung tersebut?” Dalam bahasa Belanda, ”wie is de ongelukkige?” Jawabnya adalah Hasri Ainun Besari.”

Leile Z. Rachmanto yang juga baru tiba dari Jerman waktu itu melukiskan bahwa jeritan pertama yang keluar dari mulut B.J. Habibie ketika bertemu aialahn, Leila, ich bin verliebth, ich bin verliebth.” (Leila, saya jatuh cinta, saya jatuh cinta). B.J. Habibie dan Hasri Ainun menikah pada tanggal 12 Mei 1962.

Diceritakan pula bagaimana B.J. Habibie saat menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. B.J. Habibie di sambut dengan hormat oleh kerajaan Saudi. Pada waktu pangeran mengatakan kepadanya bahwa pemerintah kerajaan Saudi sangat bangga bahwa seorang Islam seperti B.J. Habibie di Indonesia telah mengangkat nama Islam di mata dunia dengan prestasi dan progresifitas yang ditunjukan.

B.J. Habibie akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktu di luar negeri, bayak kalangan masyarakat yang memandang sinis, dan menuduh B.J. Habibie kurang nasionalis, padalah istri B.J. Habibie—Hasri Ainun—sedang menderita komplikasi penyakit dan menjalani perawatan dokter intensif. Pengaruh iklim dan udara sangat berpengaruh pada penyakit yang diderita Hasri Ainun  Habibie.

B.J. Habibie adalah sosok yang menarik, dia genius dan pretisius tapi dengan jiwa religious. Gila kerja tapi suka bercanda, gila teknologi tapi suka berpuisi.

Dan akhirnya setelah saya coba hubung hubungkan ada kesamaan saya dengan B.J. Habibie. Walaupun saya tidak gila kerja tapi saya suka bercanda, dan biarpun saya tidak gila teknologi tapi saya suka bikin puisi..hahaha. Maksa memang.

Dan akhirnya dengan membaca buku ini saya lebih memahami tentang sosok yang saya kagumi secara lebih rasional dari pada sebelumnya.

“Berikaplah Rasional. Bertindaklah Konsisten, Berlakulah Adil” (B.J Habibie, True Life of Habibie hal. 207)

SELAMAT ULANG TAHUN PAK HABIBIE, YANG KE-74

dari pengagummu : Irwan Sukma (Mahasiswa Teknik yang suka bikin Puisi)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: