Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Iswanti

Seorang teman yang masih muda dan senang olahraga meninggal dalam sebuah perjalanan, bukan karena kecelakaan, selengkapnya

Belajar dari Novel dan Film Twilight

OPINI | 21 September 2010 | 03:35 Dibaca: 569   Komentar: 11   2

Sebenarnya saya tidak suka baca novel. Alasannya hanya karena suka mual, tidak kuat melihat buku tebal. Nah, ada cerita yang melatarbelakangi mengapa saya membaca novel karya Stephanie Meyer ini.

Suatu hari saya main ke rumah murid saya. Saya shocked ketika mengetahui bacaan murid saya sekarang. Bayangkan, dulu saya lah yang mengajarkannya bahasa Inggris walaupun hanya pada tingkat “A for apple, B for ball”, tapi sekarang bacaannya sudah novel berbahasa Inggris semua! Yah, sebagai gurunya tentu saja saya bangga, namun di sisi lain saya malu dengan bahasa inggris saya yang tidak berkembang, dari dulu masih tingkat “A for apple, B for ball” saja hahahha. Maka saya terpacu untuk mengalahkan murid saya dengan meminjam novel nya yang tebal itu.

Saat pinjam novel pertama dari sekuel The Twilight Saga yang berjudul Twilight, waktu sudah mendekati Ramadhan, maka saya ngebut membacanya. Tidak disangka, saya mampu mengkhatamkannya dalam waktu 3 hari! Suatu prestasi yang sangat luar biasa bagi saya, mengingat daya tahan saya dalam membaca buku tebal. Lalu sehari menjelang Ramadhan, di mana teman-teman lain sudah bersiap dengan resolusi mengkhatamkan baca Al-Quran, saya malah sibuk mencari DVD Twilight hehe. Ada suatu rasa penasaran ingin melihat novel in motion, karena selama membaca itu otak saya membayangkan objek-objek yang ada di novel, seperti bentuk truck hadiah bapaknya Isabella Swan, dll. Dalam bayangan saya, truk Mitsubishi Fuso masuk ke sekolah, kayak gimana yah? Heheheh. Jadi tahu setelah nonton film, ternyata truk yang dimaksud adalah semacam mobil pick up Chevrolet keluaran tahun 50-an

Ketika saya mengembalikan novel pertama, ibunya murid menawarkan saya untuk meminjam buku kedua,yaitu New Moon. Namun karena akan memasuki Ramadhan, maka saya jawab, “Nanti saja Bu. Kalo Ramadhan kan bacaannya lain, Bu.” (Jiiiaaaah, gaya bangeeeets, maccam betuuul hihihi).

Dari membaca buku novel ini (karena baru baca novel jadi maaf ya kalo agak sedikit norak hehheh), maka ada pelajaran yang saya dapat.

Ide harus diikat

Menurut sebuah teman dalam komennya, menulis adalah metode terbaik mengikat ilmu, itulah yang dilakukan penulis buku yang berprofesi ibu rumah tangga dengan tiga anak laki-laki yang masih kecil ini. Ia mendapat ide menulis buku ini dari sebuah mimpi. Dalam mimpinya ia melihat ada dua orang bercakap-cakap di padang rumput. Yang satu anak perempuan yang masih belia, yang satu lagi seorang vampire laki-laki yang tampan. Mereka saat itu membicarakan tentang kenyataan bahwa mereka saling jatuh cinta, namun si vampire suka tergoda dengan aroma darah anak perempuan yang ia cintai, sehingga ia sering ingin menghisap darahnya. Si penulis tidak ingin melewatkan cerita yang ada dalam mimpinya itu. Maka pada malam hari saat anak-anaknya tidur ia menulis kan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Stephanie Meyer mulai menulis dari adegan obrolan di padang rumput hingga akhir. Setelah itu ia tulis bagian awalnya dan disambung-sambungkan dengan bab yang sudah ia rampungkan.

Jadi kalo ada ide, entah sumbernya dari pengalaman pribadi, nemu di jendela kereta waktu lagi ngelamun, atau dari mana pun, segera tuangkan!

Searching

Karakter yang ia lihat dimimpi hanya ia sebut dengan kata ganti she dan he saja. Maka ia mulai mencari-cari nama yang pas buat mereka. Ia mulai search berdasarkan buku-buku sastra klasik Inggris lalu didapatlah nama Edward, lalu untuk nama yang lain ia cari di google untuk nama orang yang pas pada masanya.

Untuk setting ia gugling mencari kota terbasah di Amerika, maka didapatlah nama Forks. Lalu saat searching tanpa sengaja ia menemukan dua kata lain yaitu the La Push Reservation dan Quileute tribe, yang nantinya kedua kata itu menjadi cerita dalam bukunya ini.

Jadi karena menulis, pengetahuan kita tentunya akan bertambah, dong.

Pilihan kata

Ternyata bahasa Inggris novel itu susah sekali. Banyak kosa kata yang tidak lazim. Seperti kata rusa. Yang saya tahu rusa itu bahasa Inggrisnya deer, tapi dalam novel ini pengarang menggunakan kata gazelle (an African animal like a deer). Mungkin sama dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa kita, kita mengenal ada kata rusa, menjangan, kijang. Semua binatang tersebut adalah dari spesies yang sama. Namun untuk kata venison yang berarti daging rusa, tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak ada kosa kata untuk nama daging tertentu. Ini berarti menun jukkan kosa kata bahasa Indonesia terbatas dibanding bahasa Inggris.

Kata sebuah tulisan yang saya baca, sebenarnya tulisan yang bagus itu bukan tulisan dengan menggunakan kata-kata yang susah dimengerti oleh pembacanya. Tulisan dengan bahasa popular lebih baik. Namun karena penulis buku ini orang Amerika dan majornya sastra Inggris, maka buatnya dan para pembaca yang berasalh dari English speaking countries tentu saja tidak masalah.

Multi disiplin

Ternyata pengarang novel itu orang pintar. Major Stephanie Mayer adalah bahasa Inggris, tapi ia mampu menghadirkan bidang ilmu lain dalam novelnya, seperti ilmu biologi dalam istilah pembelahan sel (prophase, metaphase). Ia juga pintar dalam menggambarkan suatu tempat atau orang. Memang poto atau pun film bisa bercerita banyak, namun dalam hal ini, ternyata tulisan malah bisa lebih bercerita (pengecualian kalo saya yang nulis ya hehe).

The Novel and The Movie

Kata seorang teman di status FB-nya sewaktu dia menonton Twilight di bioskop, Twilight di novel lebih seru. Ya, seperti yang saya sebut di atas, kadang kalimat lebih bisa menggambarkan, dan lebih “bernyawa”. Bernyawa di sini seperti jokes yang lebih terasa lucu di novel, tapi dalam filmnya jokes-nya kurang.

Walaupun ada bagian yang hilang dari novel, namun menurut saya, film dari novel ini masih sangat menarik. Adegan si Edward Cullen lari cepat dan terbang terlihat realistis. Juga adegan ketika si drakula cakep idaman para ibu muda di Indonesia ini sedang berada di puncak pohon tinggi bersama Isabella Swan terlihat seperti sungguhan (apa emang beneran ,ya? Heheh). Ini dikarenakan teknologi CGI yang mereka punya. Dalam hal CGI (Computer-Generated Imagery) perfileman kita memang masih tertinggal jauh. Jadi kalo ada adegan kaki tidak menapak ke tanah seperti Tengku Bayan Tula dalam laskar Pelangi, pasti bagian itu yang dihilangkan d film.

Membaca novel ini, mengingatkan saya akan cita-cita menulis novel autobiografi diri saya sendiri. Entahlah apakah saya bisa seperti Stephanie Meyer yang pintar menggambarkan sesuatu, pintar menambahkan dan meramu beberapa ilmu berbeda dalam novel saya dan pintar dalam membangkitkan emosi pembaca, seperti melucu, membuat pembaca penasaran dll. Yang penting mah cepat ikat ide itu dengan menuangkannya dalam tulisan. Masalah dipublish atau tidak, ada yang baca atau tidak, yang penting tulisan kita pasti akan menjadi prasasti kita. Seperti kata Liang Gie, “ semua akan hilang, sirna kecuali yg ditulis. Minimal dengan membaca novel ini saya jadi ingin nulis novel dan nambah kosa kata Inggris tentunya. heheh

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 4 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 5 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 6 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: