
Pendidik yang gemar menulis, menyunting, dan menjadi reviewer buku. Kadang menjadi narasumber seminar pendidikan dan penulisan buku/ PTK. Kunjungi blog pribadi http://johanwahyudi.info/, HP 08562517895, dan email jwah1972@gmail.com.
Dibaca: 1224
Komentar: 24
2 dari 2 Kompasianer menilai Aktual
Ilustrasi/Admin (shutterstock)
Buku nonfiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan kajian keilmuan dan atau pengalaman. Pada umumnya, buku nonfiksi merupakan penyempurnaan buku yang telah ada. Berdasarkan isinya, buku nonfiksi dapat dibedakan menjadi empat, yaitu buku biografi, buku pendamping, buku literatur, dan buku motivasi.
Buku biografi adalah buku yang berisi riwayat hidup seseorang. Buku itu ditulis untuk mendokumentasikan peristiwa penting yang dialami seseorang. Tentu buku biografi ditulis agar dapat menginspirasi pembacanya. Karena itu, buku biografi ditulis berdasarkan kelebihan atau keunggulan tokohnya.
Buku pendamping adalah buku yang berfungsi untuk mendampingi buku utama. Biasanya buku pendamping disebut pula buku pengayaan. Jadi, buku pendamping ditulis setelah ada buku utama. Sebagai contoh, buku pelajaran untuk anak sekolah. Kajian buku pelajaran itu masih bersifat umum. Jadi, buku pelajaran memerlukan buku pendamping untuk menjelaskan buku utama. Mengapa? Karena ada beberapa bagian dari buku utama yang tidak dijelaskan dalam buku utama. Ini disebabkan space atau pedoman penulisan buku utama tersebut.
Buku literature adalah buku yang difungsikan sebagai rujukan kajian keilmuan. Buku literature sering disebut diktat atau buku kuliah. Buku literatur sering ditulis berdasarkan penelitian. Jadi, buku ini mempunyai kadar keilmiahan sangat tinggi. Maka, buku ini sering ditulis dosen atau peneliti.
Buku motivasi adalah buku yang berisi kajian psikologis untuk membangkitkan gairah atau semangat pembacanya. Buku motivasi dapat disusun berdasarkan kajian keagamaan dan moral. Buku motivasi sering ditulis oleh entrepreneur. Dengan membaca buku motivasi, pembaca merasa mendapatkan energy baru untuk meneruskan hidup.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui kelebihan-kelebihan buku nonfiksi. Ada tiga kelebihan sebuah buku nonfiksi, yaitu masa edar lebih lama, nilai royalty lumayan tinggi, dan tidak dibatasi kurikulum.
Masa Edar Lebih Lama
Buku nonfiksi memang mempunyai masa edar yang lebih lama. Kita mudah mendapatkan buku nonfiksi meskipun sudah berumur tua. Mengapa? Karena buku nonfiksi sering dicetak ulang. Ini tentu menarik dan menjadi nilai lebih. Buku itu akan menjadi magnet pembacanya. Terlebih jika buku itu berisi masalah yang dibutuhkan masyarakat pembaca. Maka, jangan heran jika ada buku yang dicetak ulang sampai 10 kali edisi. Luar biasa!
Nilai Royalti Lumayan Tinggi
Harga buku nonfiksi memang lumayan mahal. Berkisar Rp 15.000 - Rp 300.000. Sangat tinggi jika memang buku itu sangat berarti dan ditulis dengan edisi ekslusif. Maka, itu berarti pula bahwa penulisnya akan mendapat royalty yang lumayan banyak pula. Besaran royalty berkisar 5%-10%. Nah, Anda dapat menghitung jika buku itu dicetak di atas 10.000 eks. Tentu buku itu akan menggelembungkan tabungan penulisnya.
Tidak Dibatasi Kurikulum
Ini adalah keistimewaan buku nonfiksi. Buku nonfiksi memang ditulis tanpa batas waktu edar. Jadi, buku nonfiksi tidak dibatasi kurikulum atau kebijakan pemerintah. Selagi masyarakat memerlukan buku itu, penerbit akan menerbitkan buku itu. Jadi, sekali terbit, pembaca akan mencari dan membelinya. Penulis menyusun buku itu tanpa khawatir atau takut jika kurikulum berubah.
Begitulah pengalaman saya ketika menulis buku nonfiksi. Alhamdulillah, saya telah menerbitkan 5 buah buku nonfiksi. Tentu saya berharap pembaca berkenan menerima buku itu. Tidak hanya menerima, tetapi pembaca juga membelinya (he..he..he….).
Demikian tulisan saya pagi ini. Semoga tulisan ini mampu membangkitkan semangat menulis rekan-rekan. Yakinlah bahwa menulis buku dapat mengubah paradigma negative tentang menulis. Amin. Terima kasih.