Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ajeng Kania

Guru di SD yang sedang asyik menemani bayi mungilnya

807 Judul Buku Pengayaan Sekolah Telah Lolos Penilaian

OPINI | 31 January 2011 | 23:27 Dibaca: 1726   Komentar: 16   2

1296516880580076961

Bersama kawan-kawan finalis Sayembara 2008 di LSF TIM CIkini, Jakarta

Setiap tahun Pusat Perbukuan (kini menjadi Pusat Kurikulum dan Perbukuan) Kemdiknas menerima naskah buku pengayaan dari kalangan guru dan dosen dan tenaga kependidikan melalui Sayembara.  Untuk tahun 2011, pengiriman akhir batas naskah Sayembara tertanggal 1 Maret 2011. Dan para calon pemenang akan undang ke Jakarta bertepatan dengan Hari Buku di bulan Mei 2011. Selain mendapat hadiah dan jalan-jalan di ibukota, penulisnya akan langsung ter-upgrade menyandang predikat penulis  buku diedarkan di tingkat nasional memiliki angka kredit 12.

Upaya ini ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satunya dilakukan dengan pengadaan buku pengayaan. Pusat Perbukuan Depdiknas telah menyelenggarakan sayembara penulisan naskah buku pengayaan sejak tahun 1988/1989. Pada awalnya kegiatan sayembara ini diselenggarakan dalam rangka mengisi bulan Buku Nasional dan Bulan Gemar Membaca yang dicanangkan pada tanggal 2 Mei 1995.

Mulai tahun 1988/1989 penyelenggaraan awal diikuti oleh 170 orang (170 judul naskah). Pelaksanaan sampai tahun 2001 dilaksanakan berjenjang, propinsi menerima naskah, menilai dan menonimasikan naskah unggulan, lalu dikirimkan ke pusat utnuk ditetapkan sebagai pemenang. Sejak tahun 2002, pelaksanaannya terpusat oleh Pusat Perbukuan.

Sayembara ini diperuntukkan bagi pendidik dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia. Bila tahun 2001, hadiah I di tingkat provinsi sebesar Rp. 500.000,00 dan di pusat sebesar Rp. 1.000.000,00 maka pada tahun 2008, Pusbuk memberikan hadiah untuk juara I: 17 juta, II: 16 juta dan III 15 juta. Di tahun 2011, PAnitia mengalokasikan hadiah untuk juara I sebesar 21 juta, juara II : 20 juta, dan juara III : 19 juta..

Hemhh, cukup buat melanjutkan ke S2 nih ..hehe

Buku-buku itu nantinya akan menjadi koleksi perpustakaan sekolah di seluruh tanah air sebagai buku pengayaan siswa. Sebelum dapat dikoleksi oleh sekolah, buku-buku tersebut dinilai kelayakannya oleh tim yang dibentuk Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (Puskur Kemdiknas), yang saat ini telah berganti nama menjadi Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas.

Dalam situs Kemendiknas (25/1), Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdiknas Suyanto menyampaikan, buku pengayaan dan referensi dapat meliputi buku sastra, pendidikan karakter, dan tokoh-tokoh. Buku itu, kata dia, ditentukan oleh pusat. “Bukan dalam arti judul-judulnya, tetapi Kementerian memberikan sejumlah daftar buku yang telah lolos diseleksi dan dinilai oleh tim di bawah Pusat Perbukuan,” katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media Kemdiknas, Selasa (25/1).

Suyanto menyampaikan, dari buku-buku yang telah lolos seleksi tersebut, daerah dapat menentukan buku-buku untuk dikoleksi sekolah. Dia menjelaskan, pengadaan buku melalui mekanisme dana alokasi khusus (DAK) dilakukan secara lelang. “(Tahun) 2010 DAK diadakan dengan mekanisme lelang. Kita itu hanya menentukan juknisnya. Tentang judulnya apa, daerah yang menentukan,” ujarnya.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas Diah Harianti menyampaikan,  penilaian kelayakan buku tersebut meliputi empat komponen yaitu kelayakan materi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, dan kelayakan grafika. “Masing-masing komponen memiliki skor yang akan menentukan kelayakan buku tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan, buku dengan total skor kurang dari 100 dinyatakan tidak layak, 100-122 bintang satu (cukup), 122-140 bintang dua (bagus), dan di atas 140 bintang tiga (sangat bagus).

Saat ini ada 807 judul buku pengayaan yang telah lolos penilaian.

Diah mengatakan, tim penilai bukan berasal dari Pusat Perbukuan melainkan tim ahli tentang perbukuan, yang secara independen menjadi tim penilai dari buku teks dan nonteks.

“Jadi bukan tim sembarangan, tim khusus penilai buku yang disebut panitia penilai buku. Panitia mengoordinir tim penilai buku sesuai dengan kontennya. Siapa yang berhak menjadi tim penilai buku yaitu orang-orang yang memiliki kompetensi terhadap konten itu. Kalau buku fisika, tim penilai (dari) ahli fisika. Kalau buku sejarah, dinilai oleh ahli sejarah,” katanya.

Duuh 807 judul buku belum bisa saya ditampilkan. Percayalah bagi penulis pernah diundang Pusbuk, atau menerima bantuan sosial perbaikan bersiap-siap terpilih, seiring dengan kebijakan di atas, memungkinkan diterbitkan di daerah kota/kabupaten lain.

Tunggu apa lagi yukk, coba ikutan Sayembara 2011! Masih ada waktu satu bulan lagi. Kalau nggak sempet, bersiap untuk 2012, mudah-mudahan waktu yang panjang menjadi cukup waktu dalam menghasilkan naskah buku yang fenomal, yakni bukan saja mengayakan tapi mencerahkan sekaligus membangun spirit dan  karakter positif bagi para peserta didik. ****

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Mencari Azan ke Kampung Segambut …

Rita Kunrat | 8 jam lalu

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: