Artikel

Buku

Aninditathayf

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Anindita S. Thayf, lahir 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara 1 lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008 dan finalis Khatulistiwa Literary Award 2009. Sedangkan novel Jejak Kala (Sheila, 2009) mendapatkan penghargaan Sastra Yogyakarta 2010 dari Balai Bahasa Yogyakarta.

Katak yang Berluka


OPINI | 02 February 2011 | 08:08 Dibaca: 118   Komentar: 0   Nihil

Kemerdekaan manusia ibarat sayap yang dapat membawanya naik tinggi ke atas. Namun, sayap tersebut tidaklah senormal sayap biasa. Sayap itu berluka.

Menurut Prof. Driyarkara, seorang manusia yang merdeka mempunyai kekuasaan atas diri sendiri dan perbuatannya. Namun, jika kemerdekaan diibaratkan sepasang sayap, maka apa yang dimiliki seorang manusia merdeka tidaklah sesempurna sayap seekor burung. Ada luka pada sayap tersebut, yang bukan berasal dari luar melainkan akibat kodrat yang melekat padanya. Kemerdekaan manusia pun terbelenggu-membuatnya tidak bisa terbang setinggi-tingginya. Inilah paradoks dalam kehidupan manusia.

Sebagai makhluk yang mempunyai kehendak, manusia bisa melakukan apa saja. Ia merdeka berkehendak, yang artinya bebas memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak sesuai keinginannya. Akan tetapi, manusia terbelenggu kodratnya sendiri, yang menyebabkan sebuah kehendak tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, proses kehidupan manusia merupakan upaya menanggalkan belenggu tersebut; bahasa Prof. Driyarkara, “Kemerdekaan yang harus dimerdekakan.” Dengan kata lain, hal ini merupakan laku untuk menuju kebahagiaan sejati.

Novel Firebelly karya J.C. Michaels mencerminkan pergumulan tokoh “aku” demi menggapai kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana persoalan yang dikemukan Prof. Driyarkara di atas. Firebelly adalah seekor katak perut api berkaki cacat yang rendah diri. Semula, ia tidak berharap menjalani hidup di luar wadah pajangan toko tempat tinggalnya, hingga pilihan itu menjelma sendiri. Seorang anak perempuan datang menjemputnya untuk menjalani hidup sebagai hewan piaraan. Pilihan yang semula diambilnya dengan setengah hati (ketika ia memutuskan masuk ke dalam jaring), tapi belakangan disyukuri. Aku melompat ke atas batu-batuan besar dan berpura-pura memiliki kerajaan katak sendiri. Aku hampir tidak percaya bahwa semua ini hanya untukku (hal 101).

Tentu saja, perubahan tersebut sangat melenakan. Firebelly hampir saja merasa telah mencapai surga bahagia, jika kodratnya sebagai katak tidak tiba-tiba mengusik. Firebelly tergoda pada dunia di luar kaca sana, tempat dimana ia bisa melompat sepuasnya dan, “Apa yang terbentang di depan seekor katak yg berada di dalam wadah yang nyaman? Aku tidak tahu. Namun, apa yang terbentang di luar sana? Apa saja, semuanya (hal 144). Firebelly mendapati dirinya berdiri di depan cecabang jalan, harus segera menentukan pilihan; ingin tetap berada di dalam atau di luar. Ia pun memilih salah satu yang dianggapnya sanggup memberikan kebahagiaan tertinggi. … Jika aku dapat berada di atas panggung kehidupan dan bukan sekadar mengamatinya dari balik kaca–aku akan melakukannya–aku akan memilih menjadi liar… Jika aku tinggal di luar, jika aku bebas… tidak ada orang yang akan membuat keputusan yang tidak diinginkan untukku. Pilihan mau pergi ke mana dan mau tinggal berapa lama akan sepenuhnya menjadi pilihanku (hal 145-153).

Labirin Kebebasan

Menjadi katak liar di tengah alam bebas ternyata tinggal menjadi cita-cita yang kandas. Pilihan tersebut justru menjerembabkan si katak cacat ke dalam mimpi buruk yang lain. Ia terjebak di dalam sebuah mobil sewaan-setelah berhasil kabur dari sekapan toples ketika akan dipindahkan ke rumah baru. Ia pun didera kesepian dan keterasingan hingga sebuah kesempatan datang lagi. Melalui seorang gadis remaja bermasalah, hidup kembali menawarkan pilihannya. Di hadapan sang gadis, Firebelly melakukan lompatan paling besar seumur hidupnya. Ia menentukan pilihan terakhirnya; menunjukkan kepeduliannya sebagai seekor katak yang menyadari, “…mungkin mereka tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk mereka perhatikan, melainkan sesuatu-atau seseorang-untuk memperhatikan mereka” (hal 78).

Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami si katak, manusia pun kerap tersesat di dalam labirin yang sama. Ingin merasakan hidup yang bebas merdeka, tapi masih terbelenggu oleh nafsunya sendiri. Pilihan untuk melakukan atau menjalani sesuatu memang berada di tangan manusia-di sinilah ia sering merasa telah merdeka-tapi ia melupakan bahwa apapun pilihan yang kelak diputuskannya terjadi karena ada dorongan untuk merasakan kebahagiaan yang sejati. Sebuah dorongan kodrat yang tidak dapat dipadamkan dan membuatnya terpaksa tunduk dan terikat. Ia pun tidak berdaulat lagi; tidak merdeka.

Di sisi lain, merdeka juga tidak berarti keliaran. Manusia yang merdeka bukan bermakna seseorang yang bisa bertindak semaunya, sesuka hati. Firebelly telah menuai pelajaran berharga dari keinginannya menjadi katak liar. Pun, Claire, gadis remaja pemberontak, yang menjadi majikan keduanya. Claire memutuskan untuk menguatkan kebebasannya di dunia dengan menjadi tidak rasional, bertindak dengan cara yang tidak bisa dijelaskan atau dipahami… Dia ingin menciptakan kekacauan sebanyak-banyaknya (hal. 258). Keliaran ternyata tidak membuat keduanya merasakan kemerdekaan, justru terjerumus dalam lembah keterasingan. Sebab, kemerdekaan tidak sama dengan perbuatan yang merdeka atau sesuka hati, melainkan merujuk pada kedaulatan, menguasai diri sendiri.

Seharusnya, kemerdekaan dapat menjadi sayap yang membawa manusia pada cita-cita tertingginya; kebahagiaan hakiki. Namun, salah menentukan pilihan bisa berakibat fatal; bukannya terbang tinggi, malah jatuh terjerembab. Demi mencapai kemerdekaan yang sejati, diperlukan transformasi yang tidak mudah. Firebelly mendapatkan kesadaran dan kekuatan bertransformasi itu setelah melalui penderitaan; menjadi katak kesepian yang terasing. Hal yang sama dialami pula oleh Claire.

Manusia adalah pribadi yang berdiri sendiri, tapi juga tergantung pada alam dan masyarakat. Dengan demikian, seharusnya ia tidak mengikuti kecenderungan sifat individualistisnya, melainkan menerima dan membuka diri dengan manusia lain agar kepribadiannya berkembang. Firebelly membutuhkan keberadaan Claire demi memperkuat keberadaan dirinya, menyempurnakan dirinya sendiri, menuju kebahagiaan sejati. Yaitu, kebahagiaan memberikan diri sendiri dalam kecintaan. Pada titik ini, ia telah berhasil menyembuhkan luka, melompat melewati kodratnya; sebuah perubahan menjadi ruh yang mulia, jiwa yang besar dan hati yang hidup. Dengan kata lain, Firebelly telah menyempurnakan laku di dunia.[***]

Judul : Firebelly

Penulis : J.C. Michaels

Penerbit : Serambi

Cetakan : I, September 2010

Tebal : 323 hlm

Isbn : 978-979-024-203-6

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: