Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Kangarul

Pengamat Cyberculture~Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Studi dan Informasi (LPSI). Doktor Kajian Budaya dan Media Universitas selengkapnya

Ingin menjadi penulis, bagaimana caranya?

OPINI | 20 February 2011 | 00:18 Dibaca: 212   Komentar: 7   1

“Kang, saya ingin menjadi penulis seperti Akang. Bagaimana caranya ya?”

Dengan atau tanpa redaksi yang sama saya rasanya sering mendapatkan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang bagi saya ‘termata polos’ dilontarkan oleh mereka yang selalu ingin menulis. Biasanya pertanyaan seperti ini selalu hadir setelah saya mengisi pelatihan, training, seminar, workshop, atau sebagainya. Juga, sering muncul di surat elektronik atau dinding Facebook.

Nah, pertanyaan serupa juga mampir di Yahoo saya; bunyinya kira-kira begini, “saya ingin menulis buku seperti Kang Arul. Tapi saya selalu bingung bagaimana memulainya?”

Mendapat pertanyaan seperti ini saya pun mulai berpikir ‘bagaimana saya memulai menulis buku-buku tersebut?’. Dan butuh waktu serta loading lama untuk bisa mengingat satu demi satu bagaimana saya memulainya. Mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sangat sangat menguras tenaga.

Yang sederhana adalah ketika saya tiba-tiba mendapat ide. Entah saat naik bis kota, saat di dalam pesawat, naik kereta, nongkrong di kafe atau seperti saat saya menulis artikel ini. Dengan alasan yang sederhana pula kadang-kadang saya memang ingin menulis; ada sebuah buku Regu Kumbang yang saya tulis karena ingin mengenang masa kecil saya ketika ikut Gerakan Pramuka. Ada juga buku A Complete Guide for Writerpreneurship yang merupakan kumpulan tulisan saya di blog, situs, dan media cetak yang pada awalnya tulisan-tulisan tersebut belum diniatkan untuk dijadikan buku.

Nah, ada juga yang saya bilang sangat sangat menguras tenaga. Profiler, salah satu novel yang diterbitkan di PTSOne Malaysia, merupakan hasil riset yang lumayan melelahkan. Menghabiskan lebih dari 10 bulan, lusinan keping DVD film-film detektif, puluhan novel sci-fi berbahasa asing, maupun puluhan waktu untuk riset di perpustakaan dan internet. Jangan membayangkan  ketika menulis kondisi saya seperti sekarang  ini;Profiler saya hasilkan sewaktu saya belum punya laptop, belum ada sambungan atau modem internet, bahkan nge-print saja harus ke rental.

Apakah naskah itu langsung sukses? Tidak. Ketika naskah Profiler itu pertama kali jadi, saya langsung mengirimkannya ke penerbit besar di Jakarta. Hasilnya juga ditolak dan penolakan itu baru dikabari setelah hampir delapan bulan naskah itu saya kirimkan.Dikirim lagi ke Bandung, penerbit besar juga, eh ditolak lagi. Alasannya biasa, ‘pasar novel belum berani melahap novel-novel derektif gaya Indonesia’. Ya, sudah saya pun beranggapan naskah ini hanya sekadar kontemplasi ringan saya dalam menulis genre berbeda.

Sampai akhirnya dua tahun berlalu dan seorang kawan mengatakan kepada saya bahwa ada kesempatan untuk menerbitkan naskah di Malaysia. Saya pun tidak mau kalah set, saya kirim naskah itu, dan akhirnya terbit juga. Honornya lumayan… bisa beli.. ups, out of topic nih.

* * *

Suatu ketika saya mengantarkan seorang kawan. Dia adalah dosen jurnalistik di perguruan tinggi di Bandung. Hari itu rencananya mau ikutan tes kemampuan akademik di kampus. Kebetulan saya dan sang kawan sama-sama sekolah di UGM.

Kawan saya ini sudah menulis buku. Kalau tidak salah bukunya tentang CINTA… bahkan ada yang berjudul Kamus Cinta yang diterbitin Mizan. Dan sejak berkenalan dengan saya sekitar dua tahun lalu, sang kawan ini selalu bilang “Bos, sudah dapat 80-an halaman nih” atau “nah, kajian ini akan saya buat buku nanti, Tunggu saja tanggal mainnya”. Dan benar saja, beberapa bulan kemudian naskahnya sudah jadi. Luar biasa.

Ketika menunggu sang kawan sedang ikutan tes, kira-kira beberapa saat kemudian datanglah kawan saya yang lain. Dia penulis juga. Kebetulan besok pagi kami sama-sama akan menjadi trainer di sebuah acara peluncuran buku –kebetulan salah satunya buku saya– di sebuah kafe di dekat selokan Mataram. Sebenarnya kami baru bertemu langsung hari itu. Selama ini saya dan sang kawan hanya dikoneksikan oleh Facebook. Jadi mengenal pun hanya sebatas mengenal di dinding Facebook atau dikomentar-komentar yang dilepaskan.

Meski sama-sama mengisi, sebenarnya saya ingin ‘mencuri’ inspirasi dari sang kawan ini bagaimana ia memulai dan menggunakan metode dalam menulis. Hitung-hitung siapa tahu saya bisa menerapkan metode itu dalam suatu kesempatan.

Besoknya, kawan itu memberikan metode “pengembangan dari kata-kata mutiara”. Wah, itu satu metode yang baru. Makanya saya diam-diam menyimak, menyimpannya di dalam benak, bahkan mencatatnya dalam kertas. Saya banyak belajar metode saat itu.

***

Kembali ke persoalan “bagaimana memulai?” atau “bagaimana caranya?”, menurut saya hal itu adalah persoalan klasik. Tapi yang klasik kadang kala mengusik.

Mengusik kalau yang bertanya itu sudah ratusan orang, mengusik itu kalau setiap hari ada lima sampai dua puluh orang yang menanyakan hal yang sama, mengusik kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan kebutuhan, kualifikasi, latar belakang sosial-budaya-pendidikan, de el el pokokna mah dan yang sangat mengusik apabila pulsa saya habis gara-gara menjawab puluhan SMS seperti itu. Ugh, kok saya jadi curhat colongan begini ya…

Tapi, yang lebih bikin saya terusik adalah diri saya sendiri sebenarnya. Sebab, jika saya tidak menjawab pertanyaan itu, maka dikatai sombonglah saya, dibilang berada di menara gadinglah saya, atau dibilang sok sibuklah saya.

Jadi dalam kesempatan ini saya mohon maaf, bahwa saya memang tidak pernah mau menjawab pertanyaan yang kalimatntya “bagaimana memulainya?” dan “bagaimana caranya?”. Karena  ada lebih dari 1001 jawaban dari dua pertanyaan itu. SUNGGUH!

***

Saya jadi teringat istri tercinta saya. Dia adalah orang Minang sementara saya orang Sunda tulen dan dijamin lulus BP POM :). Soal masakan selera kita memang berbeda. Nah, salah satu makanan yang saya suka oseng-oseng tempe.

Karena ingin menyenangkan suaminya yang tercinta ini, istri saya itu mulai belajar membuat oseng-oseng tempe. Awalnya dia selalu mengukur masakan itu sesuai langkah-langkah membuat oseng tempe dari ibu saya. Sampai berapa banyak kecap pun ditaati dengan baik dan benar. Awalnya gagal total.  Namun, lama-kelamaan tak perlu lagi diingat ukuran atau takaran bumbu, kecap, dan perbandingan berapa tempe yang dibutuhkan. Sekarang istri saya tercinta itu sudah piawai kalo saya bilang “Wah, rasanya mau makan oseng-oseng tempe, nih”. Besok, saya jamin sudah ada sepiring oseng-oseng tempe yang siap di santap. Rasanya memang berbeda dari yang dibuat oleh ibu saya, tapi saya jamin lagi tidak akan jauh kualitas enaknya. Apalagi yang buat istri tercinta…

Mungkin inilah bagaimana kita memulainya. Beranjak dari aturan-aturan atau sebuah metode. Tak malu untuk meniru beragam metode agar kita tahu cara menulis sebuah naskah/buku sampai jadi. Toh, banyak buku yang terbit di pasaran yang berbicara soal panduan menulis ini.

Bagi saya, yang terpenting adalah langsung saja menulis dan temukan metodemu sendiri. Jangan takut salah. Karena dari kesalahan itulah akhirnya kita bisa mengetahui cara yang pas untuk memulai tulisan. dan dari kesalahan demi kesalahan itu juga akhirnya kita akan menemukan metode tersendiri dalam menulis… metode yang berbeda.

Seperti kata chef… bon appetit

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 5 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 5 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: