Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Dyah

Married. Currently lives in Jogja. Graduated from economic faculty some years ago. Interested in economics selengkapnya

Resensi Buku: Ranah 3 Warna

OPINI | 17 March 2011 | 03:38 Dibaca: 4735   Komentar: 9   1

1300286206155346097

Ranah 3 Warna (source pict.: inioke.com)

Masih ingat tokoh Alif dalam novel Negeri 5 Menara? Nah, di buku Ranah 3 Warna ini kisah tentang Alif dapat kembali kita ketahui kelanjutannya.

Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi ini adalah sebuah buku yang layak mendapatkan apresiasi. Buku yang berkisah tentang seorang Alif yang berusaha keras dan sungguh-sungguh menjalani kehidupannya, meraih cita-citanya. Berbagai hikmah bermanfaat dapat kita petik dari novel setebal 470an halaman ini.

Jika di buku pertama dari Trilogi Negeri 5 Menara kita mendapatkan pelajaran “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersunggung-sungguh akan sukses), maka di buku yang kedua ini ada satu tambahan pelajaran lagi, yaitu “Man Shabara Zhafira” (siapa yang bersabar,akan beruntung). Ternyata keberhasilan, kesuksesan, atau apapun yang bermakna pencapaian itu tidak hanya cukup dengan bersungguh-sungguh, tapi juga harus diiringi konsep sabar. Sabar dalah hal ini tidak berarti diam yaa… Heheee..

Hmm.. buku ini sangat menarik. Ada beberapa bagian yang cukup berhasil mengucurkan air mata karena memang mengharukan. Beda dengan saat saya membaca Negeri 5 Menara, tak ada air mata yang harus keluar meskipun rasa haru juga ada.

Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini cukup menggugah emosi. Rasa emosinya sama seperti ketika saya membaca Sang Pemimpi dan Edensor karya Andrea Hirata, serta Galaksi Kinanti karya Tasaro GK. Tentang bagaimana seseorang yang dianggap bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, pada akhirnya mencapai cita-citanya.

Buku ini juga menggambarkan bagaimana kondisi mahasiswa yang merantau, bagaimana besarnya tantangan untuk dapat menjadi seorang penulis, sekaligus bagaimana menjadi seseorang yang dapat membanggakan keluarga. Sebuah karya yang ringan namun padat hikmah, semuanya terangkum dalam kisah hidup Alif di Bandung, Amman, dan Amerika.. Ranah 3 Warna..

Mengutip penggalan kalimat dari halaman penutup novel ini..

“… Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung yang paling ujung…”

“Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. … Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung”

Selengkapnya, berikut identitas bukunya

Judul : Ranah 3 Warna

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua Januari 2011

Semoga bermanfaat!.. ^_^

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 9 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 8 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 8 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 9 jam lalu

Indonesia Tidak Bisa Seenaknya Tenggelamkan …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: