Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Johan Wahyudi

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Penyunting Naskah, Penulis Artikel, selengkapnya

Ayo Membuat “Bom” Buku

REP | 19 March 2011 | 12:55 Dibaca: 452   Komentar: 12   3

13004922461830921698

Inilah salah satu buku seller-ku.

Kehebohan bom buku telah mengalihkan perhatian banyak masyarakat. Mereka mulai peduli dengan keamanan lingkungan. Kegiatan ronda malam pun mulai dilakukan. Tentu itu bertujuan untuk mengantisipasi kejadian buruk. Ungkapan bijak menyebutkan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Artinya, lebih baik meniadakan kemungkinan daripada memperkecil kemungkinan. Namun, aku justru berusaha mengajak Anda untuk merakit bom buku. Semoga Anda bersedia mempelajari cara membuat bom buku seperti kisahku semalam.

Dalam dunia perbukuan, dikenal istilah sold out atau bom buku. Istilah itu berarti bahwa buku itu menjadi best seller alias laris alias meledak di pasaran. Tiada berita paling membahagiakan bagi penulis selain berita sold out alias terjual habis buku yang ditulisnya. Mengapa? Tentu saja penulis akan panen raya royalty buku itu. Bekerja sebulan tetapi memanen seumur hidup. Itulah penulis buku.

Selama menjadi penulis buku, aku pernah merasakan suka-duka ketika menerima royalty. Dahulu, berkisar tahun 2006-2007, naskah modulku dibeli penerbit Rp 750.000. Karena dinilai baik, harga itu naik. Naskahku dibeli Rp 1.000.000. Terus naik hingga menyentuh Rp 1.500.000. Kata penerbit, harga itu adalah harga tertinggi untuk sebuah naskah modul. Tentu saja aku gembira karena meraih prestasi puncak sebagai penulis modul termahal: Rp 1.500.000/ naskah. Karena dipercaya menulis 9 naskah, aku menerima uang lumayan banyak. Tentu saja jumlah uang  yang lumayan banyak seukuran waktu itu.

Waktu bergulir. Seorang teman bermain tenis bertanya, “Wah, naskah bukumu bagus sekali. Dibeli berapa?”

Mendapat pujian demikian, aku merasa bangga. Temanku itu memang berbisnis di bidang percetakan buku. Jadi, setidaknya ia memahami dunia kepenulisan buku.

“Satu setengah juta per naskah” jawabku bangga. Bangga karena itu adalah harga termahal, menurut penerbitku.

“Apa, cuma satu setengah juta? Satu buku itu dapat digunakan untuk membeli mobil. Tahu!” ucap temanku seakan tak percaya dengan jawaban “sombong”ku. Ya aku tidak mengetahui kondisi di lapangan. Katanya harga itu memang harga termahal. Aku sih percaya saja omongannya.

“Coba saja naskah ini diubah ke format buku. Lalu, kamu bawa ke penerbit di Solo. Mudah-mudahan ada penerbit yang tertarik” ucap temanku sembari pamit pulang. Hari mulai panas. Maklum, angka jam tangan menunjuk angka 10 pagi. Lumayan panas di lapangan tenis. Kami berpisah.

Sesampai di rumah, aku berpikir. Benarkah sebuah buku senilai sebuah mobil? “Masa’ iya, sih?” tanyaku dalam hati. Aku belum percaya dengan kabar temanku itu. Namun, aku pun penasaran juga. Esok harinya, aku pergi ke toko buku. Ya, aku ingin membeli sebuah buku ajar bahasa Indonesia SMP. Aku ingin membaca format buku ajar.

Lalu, aku membandingkan naskah modulku dengan buku ajar yang kubeli di toko itu. Ternyata, isinya mirip sekali. Perbedaannya hanya terletak pada kajian isi. Pada modulku, isinya sedikit. Naskah diisi banyak soal latihan. Memang begitu pesan penerbit. Namun, buku ajar berisi banyak materi. Latihannya hanya sedikit. Perbedaan utama keduanya di sana itu. Dan mulailah aku belajar mengubah format modul menjadi buku ajar.

Sebuah modul telah kuubah menjadi naskah buku. Lalu, aku pergi ke penerbit buku di kota Solo. Aku pun membawa naskah bukuku. Aku ingin bertemu kawanku yang pernah menjadi penulis di sebuah penerbit di Kota Solo. Aku ingin menunjukkan naskahku itu. Semoga dia mau berbagi pengalaman tentang kepenulisan buku.

Setiba di rumah temanku, aku mendapatinya sedang menulis juga. Ternyata, temanku juga sedang menulis buku. Dan kami pun berbincang hangat. Tentu saja aku gembira karena mendapat sambutan hangat yang sedemikian ini. Aku pulang dengan perasaan puas. Puas sekali.

Menurut temanku, naskah bukuku cukup bagus. Aku diberi referensi untuk menemui seorang editor penerbitan buku. Menurut temanku, editor sedang mencari penulis buku Bahasa Indonesia SMP. Dan aku pun menyambut gembira informasi ini. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini” batinku.

Suatu hari berikutnya, aku bertandang ke penerbit yang ditunjukkan temanku. Aku ditemui Mas Wawan. Setelah menjelaskan maksudku, Mas Wawan tersenyum. Lalu, Mas Wawan pun berkata, “Bapak minta naskah ini dihargai berapa?”

Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu. Aku terdiam. Berapa, ya, harga pantasnya untuk sebuah naskah buku. Dan aku pun menjawab, “Lha mau dibeli berapa, Pak?”

“Jadi, Pak Johan akan menjual naskah ini. Ok. Kami akan membeli Rp 8 juta per naskah” jawab Mas Wawan. Aku tersentak. Mahal sekali. Dahulu harganya hanya Rp 1.500.000. Kini, harganya sudah menyentuh 8 juta. Luar biasa….!!!

“Boleh. Saya akan menulis dua buku lainnya” jawabku gemetaran. Kalau aku menulis 3 buku, berarti aku akan mendapat uang Rp 24 juta. Luar biasa banyaknya. Begitulah pikiranku waktu itu. Dan itu akhirnya terlaksana pada akhir bulan kedua. Artinya, selama dua bulan, aku dapat menyelesaikan tiga buku ajar. Dari situlah, aku mulai dikenal sebagai penulis buku. Dan dari sanalah aku mulai mengenal penulis buku yang lebih senior. Ternyata, harga naskah buku jauh lebih mahal dari Rp 8 juta/ naskah. Namun, itu tidak menjadi masalah. Aku mengikhlaskan semua pengalaman hidupku.

Aku pun menjalani profesi tambahan ini dengan tekun. Aku pun menulis dan menulis terus. Aku terus menulis untuk mewujudkan impianku menjadi penulis buku yang kharismatik. Penulis buku yang mempunyai cirri khusus. Penulis buku yang mempunyai keistimewaan sehingga mudah dikenali dari tulisannya.

Berkat kerja keras dan ketekunan itu, Alhamdulillah, aku sudah mampu mewujudkan 12 modul, 12 buku teks, 11 buku bahan ajar, dan 10 penelitian. Naskah itu dihargai dari yang termurah Rp 750.000 hingga termahal mencapai ratusan juta rupiah per naskahnya. Bahkan, kini aku terus dikejar-kejar penerbit lain agar berkenan menjadi penulisnya.

Namun, seiring perjalanan ekonomi rumah tangga, kini aku tidak menerima pembelian naskah. Aku memilih system royalty saja. Tabunganku sudah cukup untuk menghidupi keluarga. Aku ingin menabung uang melalui royalty saja. Saat ini, aku sedang menyelesaikan 15 naskah buku yang dipesan penerbitku. Semua merupakan buah ketekunan. Pohon tumbuh besar dan tinggi awalnya dari sebutir biji.

Demikian perjalananku menjadi penulis buku. Mudah-mudahan kisah ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | 8 jam lalu

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 9 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: