Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Dwiputri Panduwinata Harahap

Hanya seorang mahasiswi UGM jurusan Arkeologi yang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika selengkapnya

‘Mengintip’ Kebijaksanaan China Klasik Melalui Buku

OPINI | 12 April 2011 | 21:22 Dibaca: 226   Komentar: 2   0

Bermula dari ketertarikan dengan sejarah, itulah yang membuat saya membeli buku yang menceritakan tentang kisah-kisah kebijaksaan China Klasik karya Michael C. Tang. Buku setebal 424 halaman, dan terbagi menjadi delapan bagian ini langsung menarik perhatian saya ketika memasuki sebuah toko buku terkenal.

Buku ini tidak hanya mengisahkan tentang kebijaksaan para kaisar, buku ini juga mengisahkan kebijaksaan seorang ibu dalam usahanya untuk mendidik anaknya, kisah tentang Liu Bang, pendiri dari Dinasti Han, dan juga kisah dari dinasti-dinasti lainnya. Buku ini juga menceritakan tentang pertempuran termasyhur dalam sejarah China, yaitu pertempuran di Tebing Merah, atau yang lebih dikenal dengan Red Cliff.

Kita seolah dibawa ke masa saat pertempuran tu terjadi, dan melihat bagaimana hebatnya seorang Zhuge Liang dalam mengalahkan pasukan Cao Cao menggunakan strateginya yang brilliant! Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran, bahwa kesabaran, ketelitian dan dedikasi tinggi dapat mengalahkan sebuah pasukan yang jumlahnya mencapai 200.000 orang. Dan juga pertempuran ini dapat membuktikan, bila seseorang sudah besar kepala, maka ia akan kalah dengan mudah. Cao Cao yang merasa bahwa pasukannya akan menang, menjadi lengah dan masuk ke dalam perangkap Zhuge Liang.

Buku ini juga menceritakan beberapa kisah tentang Cao Cao – pria yang dikenal sebagai pemimpin yang paling dibenci dan disegani. Ada kisah tentang putranya yang bernama Cao Chong. Meski hanya beberapa kisah, tapi kisahnya cukup menarik karena melalui kisah-kisah ini, kita dapat melihat bagaimana pintar dan baik hatinya seorang Cao Chong.

Sekarang waktunya membahas kisah Cao Cao. Yang paling memikat dari seluruh kisahnya dalam buku ini adalah kisah ketika Cao Cao memotong rambutnya sendiri di hadapan pasukannya karena kuda yang ia tunggangi menginjak sebuah ladang gandum. Sedangkan sebelumnya Cao Cao sudah memerintahkan anak buahnya untuk berhati-hati agar tidak menginjaknya, dan siapa pun yang menginjaknya akan dihukum mati.

Memang, Cao Cao tidak dihukum mati, tapi memotong rambutnya adalah sebuah simbol bahwa peraturan itu berlaku untuk siapa pun, bahkan untuk orang yang membuat peraturan itu sendiri. Apakah ada pemimpin yang pernah menghukum dirinya karena telah melanggar aturan yang ia buat? Sejauh ini saya belum pernah mendengar hal itu, apalagi di Indonesia.

Kisah tentang kehidupan tentang pria yang paling berpengaruh di China juga hadir dalam buku ini, tidak lain pria itu adalah Konfusius, mulai dari masa kecilnya, kehidupannya menjabat di pemerintahan negara Lu, sampai saat dia berkenala dengan murid-muridnya. Beberapa kisah tentang murid Konfusius juga tertuang dalam bagian ini. Kebijaksaan Konfusius dalam mengatasi berbagai hal patut dicontoh.

Buku ini juga berhasil menciptakan persamaan antara perang dan bisnis. Sebuah sub-judul bernama Seni Berkompetisi – yang dibuat berdasarkan buku Seni Perang karangan Sun Tzu berhasil menjabarkan taktik yang harus kita gunakan bila ingin menang dalam peperangan pada era globalisasi ini.

Jalan menuju kedamaian bagian terakhir dalam buku ini, dan pada sub-judul Seni Kehidupan mengisahkan tentang sebuah cerita berdasarkan buku karya Lao Tzu The Way (Jalan). Sub-judul ini seolah menjadi penyejuk setelah membaca 385 halaman yang menceritakan tentang kebesaran dan persaingan pada zaman China klasik.

Tidak salah karena saya memutuskan untuk membeli buku ini, meski harus kehilangan uang jajan untuk tiga bulan, tapi isi dari buku ini telah berhasil memperkaya ilmu sejarah saya tentang China, dan membuat saya sedikit mengerti, mengapa ada pepatah yang mengatakan ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China’. Kebijaksaan mereka sungguh sangat mengagumkan, tidak salah bila China dijadikan sebagai kiblat untuk menggali ilmu.

Refleksi bagi Para Pemimpin, itu bagian dari judul buku karya Michael C. Tang. Yah tidak ada salahnya bila para pemimpin meluangkan waktu untuk membaca buku ini, dan berkaca sejenak, apakah mereka sudah memiliki sebuah unsur kehidupan yang bernama kebijaksaan saat mereka menjadi pemimpin? Dan untuk kita yang bukan seorang pemimpin, kita bisa mengambil beberapa hal penting dalam buku ini, dan menerapkan kebijaksaan yang telah kita petik dari buku ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 3 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 3 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 7 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: