Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Khoirul Anwar

Belajar di UIN Yogyakarta

Berguru Tauhid pada Semar Bodroyono

OPINI | 17 June 2011 | 12:01 Dibaca: 2403   Komentar: 2   0

130831207636473510Judul : Tasawuf Semar Hingga Bagong: Simbol, makna dan ajaran Makrifat dalam Punakawan.

Penulis : Muhammad Zaairul Haq.

Penerbit : Kreasi Wacana Yogyakarta.

Cetakan : cetakan I, Juni 2009

Tebal : X + 198 halaman

Apa yang bisa kita nikmati sekaligus diambil dari sesosok wayang yang notobenenya hanya sebuah modifikasi dari kulit hewan tersebut? jawabannya: banyak sekali. Tergantung dari mana kita mengambil titik koordinat untuk menikmati sekaligus mengapresiasi dan menginterprestasikan sosok wayang yang tersaji dalam pegelaran wayang. Diakui atau tidak dalang memegang kendali dari nilai seni dan keilmuan yang terkandung dari tutur tinular tersebut. Lakon wayang akan menjadi hidup jika sang dalang mampu membawa lakon wayang dengan baik dan menarik.

Pada adegan peperangan misalnya, dhalang harus mampu memiliki ketrampilan “sabetan” yang cukup baik. Selain itu, dalang harus mampu memainkan adegan-adegan yang sesuai dengan pakemnya, misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dalang juga harus mampu menghadirkan ekspresi gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih, seorang dalang juga harus mampu bersikap mancolo putro mancolo putri agar penonton terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.

Keahlian sekaligus kelihaian dalang tidak berhenti atau cukup di situ saja. Kepintaran bersikap mancolo putro mancolo putrid dan harus didukung ilmu kebudayaan dan ketuhanan. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah wewayangan, kisah wayang tidak tidak terhenti pada nilai estetika an sich tetapi wayang merupakan media bagi masyarakat. Seperti yang dikatakan Anderson, bahwa, wayang bagi orang Jawa merupakan compelling riligius mythology, yakni yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun secara vertical. Sedangkan Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek tersebut direfleksikan ke dalam kehidupan sosial dan kedudukan relatif sosial. Kedua ilmuwan tersebut menemukan titik kesaman terhadap wayang yakni pentas wayang menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang adil, tentram, makmur dan aman.

Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa memang kebanyakan berasal dari nilai kebudayaan, misalnya wayang. Peran wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan tidak lepas dari kecerdikan Wali Songo, khususnya Sunan Kali Jaga yang metode dakwahnya lebih mengutamakan dengan nilai-nilai kultural masyarakat. Masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai-nilai kultural akan lebih menerima nilai keagaman jika penyampaiannya itu lebih bersifat halus, sesuai dengan psikologi masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan kehalusan budi dibandingkan jika pengajaran itu disampaikan dengan cara-cara indoktrinisasi ekstrem.

Pemahaman mengenai ketauhidan bagi masyarakat Jawa mungkin akan berbeda dengan pemahaman ketauhidan dengan bangsa Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adalanya akulturasi budaya jawa yang dahulunya lebih bersifat dinamisme dan animisme dengan nilai ketuhanannya yang berasal dari Timur Tengah yang juga sudah diolah secara rasa maupun karsa oleh da’i yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sedangkan tauhid sendiri mempunyai arti yang sangat luas dan untuk memudahkan pemahaman kita mengenal ilmu ketauhidan ini, tauhid diartikan sebagai sikap peng-esa-an terhadap keeksistensian Tuhan. Sifat keesaan ini menjadi penting bagi umat Islam dan menjadi identitas sekaligus pembeda dengan agama-agama lain. Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Masalah ketauhidan dalam masyarakat Jawa lebih condong kearah masalah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Sangkan paraning dumadi menjadi wilayah sentral yang sering menjadi kajian sekaligus menjadi tujuan manusia Jawa dalah meng-illah-kan Tuhan. Hubungan personal manusia Jawa dengan Tuhannya sepertinya lebih menarik untuk didalami dibanding mengkaji masalah syari’atnya,. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Hal ini kemudian menginspirasi para Wali Songo bagaimana caranya agar konsep tersebut bisa diterima masyarakat dan tidak mengalami shock dalam beragama. Wayang adalah jawabannya. Dalam cerita wayang dengan lakon Bima Suci diceritakan bahwa setelah Bima bersatu dengan Dewa Ruci dan mendapat wejangan spiritual darinya, ia (Bima) segera mendirikan pertapaan Argakelasa dengan gelar Bima Suci atau Bima Paksa yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Menurut Damarjati Supadjar, serat Bima Suci menggambarkan pertemuan eksistensi dengan esensi, yang juga dikenal sebagai ngluruh sarira atau racut, mencair, dan melarut. Tranformasi Bima menjadi Bima Suci atau pertemuan Bima dengan jati dirinya atau Dewa Ruci serupa dengan pertemuan antara Musa dan Khidir. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir dan batin, awal akhir.

Orang Jawa mengenal tokoh-tokoh wayang cukup familiar dan di antaranya yang paling favorit bahkan mempunyai nilai sakral adalah semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh yang berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa semar tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa semar selalu hadir dan menyantuni orang miskin/kekurangan kebutuhan rohani. Selain itu, semar juga diperintahkan untuk menjaga hati manusia-manusia suci agar tidak terkontaminasi oleh sifat dan nafsu syaithaniyah. Karena itu dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri atau alam kosong dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia. Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya. Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu: (1). Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik, (2). Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab, (3). Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Dari sosok Punakawan, baik fisik maupun kehidupan kesehariannya, terkandung pancaran nilai-nilai ketasawufan. Dalam Islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqomat kesufian yang tercermin dari Semar

Semar setidaknya memiliki sifat: wijaya (bijaksana dalam berbakti kepada Negara), mantriwira ( dengan senang hati berbakti kepada Negara), wicaksana maya (bijaksana dalam berbicara dan bertindak), matangwan (dikasihi dan dicintai rakyat), satya bakti prabu (setia kepada Negara dan raja), wakniwak (tidak berpura-pura), seharwan pasaman (sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati), dirut saha (jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia), tan lelana (baik budi dan mengendalikan panca indera), diwiyacita (menghilangkan kepentingan pribadi), masisi samastha buwana (memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia). Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi.

Buku ini menjadi menarik karena tidak hanya bercerita sosok wayang yang sering ditulis oleh para pengamat seni pewayangan yang lebih mengambil tokoh seperti pendawa atau kurawa. Penulis buku ini sengaja mengangkat tokoh-tokoh wayang yang sering tampil sebagai tokoh aneh dan berperan hanya sebagai abdi bahkan hanya sebagai pelawak semata disetiap pementasan wayang. Selain itu, penulis juga lihai mengemasnya dalam kacamata keagamaan, yang mana sesuai dengan latar belakang penulis sebagai akademis yang bergelut bidang keagamaan. Setidaknya buku ini mempunyai kekuatan dikarenakan adanya pengupasan permasalahan baik kulit filosofis jawanya maupun dari kulit keagamaannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 12 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pompadour …

Yulian Muhammad | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 7 jam lalu

Celotehan Kalbu …

Sidik Irawan | 8 jam lalu

Sudah Puaskah dengan BPJS? …

Ayu Novi Kurnia | 8 jam lalu

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: