Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ukonpurkonudin

Arti Sebuah Nama….. Ketika cahaya hati bertambah bersinar. Cahaya kepalapun menjadi padam. Ketika cahaya hati menjadi sempurna. Cahaya kepala selengkapnya

Lafran Pane; Intelektual Muslim Indonesia

OPINI | 29 June 2011 | 15:33 Dibaca: 1270   Komentar: 1   1

1309318272575268724Judul Buku : Lafran Pane; Jejak Hikayat dan Pemikirannya

Penulis : Hariko Wibawa Satria

Penerbit : Lingkar

Cetakan : Cetakan II Februari 2011

Tebal :510 hlm; 14 x 21 cm


HMI merupakan organisasi pergerakan tertua di ibu pertiwi ini yang berdiri pada hari rabu tanggal 14 Rabiul awal 1366 H atau bertepatan dengan 5 Februari 1947M, di salah satu ruangan kuliah tafsir STI. Organisasi ini adalah Organisasi pergerakan pertama berlabelkan “islam”di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Lafran Pane ialah tokoh pemrakarsa berdirinya organisasi pergerakan HMI, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya bahwa Pemuda ini lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim pernah menganyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah.

Mengenai Lafran Pane Sujoko Prasodjo dalam sebuah artikelnya di majalah Media nomor : 7 Thn. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957, menuliskan :” Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mula kelahiran HMI, kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya tanpa mengurangi sumbangsih tokoh pendiri yang lain seperti Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisssaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Badron Hadi.

Melihat latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: “Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Dalam membentuk organisasi ini ia melandasinya dengan semangat keislaman-keindonesiaan yang merupakan gagasan yang relefan saat itu dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan indonesia, menegakkan nilai-nilai islam serta mengankat harkat, derajat dan martabat seluruh rakyat indonesia tanpa terkecuali.

Lafran Pane sebagaimana dijelaskan Nurkholismajid yang juga dikutip Azyumardi Azra adalah personifikasi dari pemikiran keislaman dan keindonesiaan HMI. Itu terlihat dari keteguhan iman serta amal perbuatan lafran sangat tulus, jujur, tawadhu, indefenden, visioner, konsiten, moderat dan demokrat. Beliau tetap menjaga prinsif itu semua meskipun ada generasi HMI penerusnya telah banyak menjadi orang pada taraf tertentu. Bahkan beliau terkesan menarik diri dari prestasi yang diraih generasi pada keemasan HMI. Beliau sedikitpun tidak menancapkan pengaruhnya dalam HMI apalagi menggunakan HMI untuk keperluaan pribadinya sendiri, Lafran bahkan menghindari sebutan sebagai pendiri HMI sampai akhir khayatnya

Jika ditinjau dari perspektif kekinian, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Namun jika dinilai dari standar tujuan organisasi-organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI itu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, tetapi berjalin sinergis bersama. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya. Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia (KMI) 20-25 Desember 1949 di Yogyakarta yang dihadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI (Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56). Artikel tersebut berjudul “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia”.

Dalam buku ini Lafran Pane berasumsi bahwa agama islam dapat mengisi hajat kebutuhan manusia global pada tataran locus dan temposnya, artinya dapat menselaraskan diri dengan keadaan dan keperluan masyarakat kapanpun dan dimanapun berada. Adanya bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda masyarakatnya, yang tergantung pada faktor alam, kebiasaan, kultur dan lain-lain. Maka kebudayaan islam dapat diselaraskan dengan masyarakat masing-masing

Sebagai muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), kamis 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Namun ia juga tidak menolak beragam pandangan dan memberi inklusifitas interpretasi tentang pancasila. Ia sangat terbuka terhadap itu semua, termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral, etika, sosial maupun egalitarianisme. Wajah islam yang seperti ini selazimnya dapat dibingkai dalam wadah keindonesia yang sesuai dengan perkembangan lokus dan temposnya demi kepentingan umat.

Pada buku ini juga menjelaskan tentang idiologi pembebasan semangat intelektualisme dan kesadaran keimanan islam dengan pembentukan intelektual muslim indonesia melallui HMI. Ini merupakan suatu proses dinamika sejarah dan perjuangan panjang yang dimulai sejak sarekat islam. Lafran memilih sikap untuk mempertahankan sejarah panjang tersebut dengan menjadikan islam sebagai benteng rasional dan solusi kuat serta berdiri tegak dala wujud negara kesatuan republik indonesia. Pada sosoknya kita bisa melihat bentuk perjuangan, pemikiran dan aplikasinya secara real dalam bingkai pluralitas nusantara ataupun multikulturalnya bangsa ini. Bagi beliau islam bukanlah suatu spritualisme pasif, maka dari itu ia telah memberikan warisan intelektualnya kepada HMI; islam inklusif dan progresif.

Secara totalitas buku ini memeparkan jejak hikayat dan pemikiran Lafran Pane dan sumbangsinghnya selaku pelopor pendiri HMI juga seorang Rausyan Fikr ataupun aktor intelektual visioner yang memiliki kwalitas khusus yang bersifat bawaan (innate). Dalam pandangan Antonio Gramci sebagaimana yang dikutif Yudi Latif ,seorang tokoh intelektual tidak hanya bekerja pada tahap manual saja akan tetapi terletak pada fungsi sosialnya. Sedangkan menurut Ali Syariati konsep Rausyan Fikr adalah intelekual yang tercerahkan, pemikir bebas, pemikir bebas yang mempunyai tanggung jawab struktural, moral dan sosial, itu semua ada pada sosok Lafran Pane.

Maka dari itu saya tidak heran ketika Yudi Latif, Lulusan (S-3) Australian National University (ANU) dalam bukunya “Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20,hal 502 menyebutkan : Lafran Pane sebagai generasi ketiga inteligensia muslim Indonesia setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim,dll), generasi kedua (M. Natsir, M. Roem dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim dan Djohan Efendi pada 1970-an).

Hal yang disayangkan dalam buku ini kurang sekali memaparkan kekurangan sosok lafran Pane bahkan mungkin bisa dikatakan tidak ada, padahal buku biografi yang baik adalah buku yang menyajikan secara utuh kelebihan dan kekurangan sosok sang tokoh tersebut. Saya melihat sosok lafran pane dalam buku ini sangat perfecksionis hanya berisi kebaikan dan pujiaan pujian terhadap tokoh tersebut. Seharusnya ada keseimbangan dari itu semua karena menurut sejarah tokoh yang abadi dan sangat berpengarus adalah tokoh yang dipuji-puji oleh pengikutnya dan di cerca atau dikritik secara radikal oleh musuh musuhnya. Yang jelas buku ini sangat baik dibaca bukan hanya oleh kader HMI akan tetapi oleh semua aktivis mahasiswa pergerakan indonesia terutama sivitas intelektual akademis baik mahasiswa, dosen, santri, kyai dan profesor-profesor ataupun pemerhati pendidikan, pergerakan dan politik di indonesia.

Penulis adalah Sang Adib Kader HMI Komisariaat Adab.

dikutip dari;   http://www.jogjakarta.org/604.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: