Back to Kompasiana
Artikel

Buku

I Ketut Suweca

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Yudi Latif dengan Negara Paripurna

OPINI | 08 July 2011 | 03:54 Dibaca: 697   Komentar: 6   0

13100970231794116146Informasi tentang buku karya Yudi Latif yang berjudul lengkap Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas, saya dapatkan dari harian Kompas. Beberapa artikel di media nasional itu mengutip pendapat Yudi Latif dalam buku ini. Saya pun penasaran, ingin mengetahui seperti apa wujud dan isi buku tersebut.

Sore hari, usai sembahyang di sejumlah pura saat Hari Raya Galungan, saya dan keluarga singgah ke Toko Buku Gramedia Matahari, Denpasar. Maksud hati memang mencari buku itu dan buku Rosihan Anwar yang berjudul Belahan Jiwa. Menyusuri lapak-lapak buku baru, saya belum juga menemukan buku tersebut. Lalu, saya putuskan bertanya kepada karyawan setempat, dan dia membantu menunjukkan buku yang saya maksud. Eh ternyata, kedua buku baru itu diletakkan berdampingan. Saya sangat ingin membeli kedua-duanya sekaligus, tapi dengan pertimbangan dana, saya putuskan hanya membeli karya Yudi Latif. Buku karya Rosihan Anwar akan saya beli kemudian. Buku Yudi Latif, saya pikir, dapat menjadi sumber referensi studi saya, sehingga buku karya doktor sosiologi-politik itulah yang saya prioritaskan.

Begitu sampai di rumah, dengan tidak sabar saya membuka buku berharga Rp.195.000,- tersebut. Buku itu berketebalan xxvii + 667 halaman. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2011. Isinya? Buku ini mengandung sejarah Pancasila, sebuah sejarah panjang yang terbentang di belakang kelahirannya. Inilah yang dimaksudkan Yudi Latif dengan historisitas. Keberadaan Pancasila dengan sejarah panjangnya itu secara rasional memang merupakan kehendak bangsa, pilihan terbaik untuk menyatukan keberagaman etnik yang ada di bumi Nusantara. Pancasila adalah jawaban bagi pluralitas bangsa ini. Inilah yang dimaksud oleh si penulis dengan rasionalitas. Dalam buku ini, Yudi Latif berupaya mengkontekstualkan kelima nilai luhur Pancasila dengan kebutuhan kekinian. Inilah rupanya yang dimaksudkan penulisnya dengan aktualitas. Dengan begitu, anak bangsa ini tidak hanya dituntut untuk kembali kepada Pancasila, bahkan juga menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dengan cara mengaktualisasikan ke dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gagasan-gagasan brilian dalam buku ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan enak dibaca tanpa menghilangkan kadar keilmiahannya. Oleh karena itu, karya berharga ini pantas dibaca oleh siapapun yang mengaku sebagai warga negara Indonesia. “… semoga buku ini sedikit banyak menjadi sumbangan buat dimulainya pencerahan bangsa kita atau aufklarung sebagai titik balik menuju renaissance atau kebangkitan kembali bangsa kita,” tulis ekonom Kwik Kian Gie, dalam endorsement-nya.

Saya membaca buku ini dengan gaya seperti tupai, melompat-lompat, agar segera mengetahui isinya secara sepintas sehingga dapat mengabarkannya di sini. Saya masih harus terus membaca buku ini sampai tuntas, he he. Selamat siang dan selamat beraktivitas.

(I Ketut Suweca , 8 Juli 2011)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: