Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Syahid Arsjad

penikmat kehidupan penuh warna, suka membaca, diskusi dan menulis. Tuhan bukan dalang, manusia bukan wayang. selengkapnya

Resensi Novel “Perang Makassar 1669″

REP | 31 July 2011 | 05:52 Dibaca: 1381   Komentar: 5   1

Sejak mengetahui Novel ini terbit, saya langsung jatuh hati. Soalnya sangat kurang novel dengan latar sejarah di Sulawesi Selatan atau mungkin ini yang pertama. Namun, beberapa kali ke toko buku baru kali ini teringat untuk membelinya.  Pertamanya saya agak kecewa, ternyata novelnya sangat tipis,saya membayangkan novel ini tebalnya paling tidak diatas 500 halaman bahkan sampai seribuan halaman. Namun Novel karya SM Noor ini ternyata hanya 213 halaman. Sangat tipis untuk sebuah novel  dengan latar sejarah yang luar biasa.
13120491571895800626Sumber gambar : febrynebo.blogspot.com
Novel yang diterbitkan kompas April 2011 ini berkisah tentang seorang sosok prajurit kerajaan Gowa dalam perang Makassar , I Makkuruni , putra Karaeng Bira. Ia  memulai kariernya sebagai komandan patroli dalam wilayah kekuasan ayahnya, yang merupakan bagian dari kerajaan gowa. Dalam suatu patroli laut, Ia mendapati 5 kapal VOC melanggar garis wilayahnya dan bahkan membunuh beberapa orang utusan yang memberi peringatan. I Makkuruni  dengan tegas mengangkat senjata dan menenggelamkan 5 kapal VOC tersebut. Karena penembakan tanpa instruksi tersebut yang jelas memperparah hubungan VOC – Gowa yang memang sedang panas, Ayahnya meminta untuk melaporkan langsung kejadian tersebut pada panglima kerajaan Gowa. Sekaligus mengantarkan 18 kapal perang pesanan kerajaan untuk menambah armada perang kerajaan Gowa.

Diluar dugaan, I Makkuruni mendapat apresiasi yang luar biasa dari Karaeng Bontomarannu panglima kerajaan Gowa bahkan mendapat kesempatan bertemu dengan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa. Ia diangkat sebagai perwira tinggi kerajaan dan langsung bergabung dengan pasukan perang  melawan VOC. Ada dua misi penting yang diikutinya yaitu menghadang kapal dagang VOC yang mengangkut amunisi di perairan Masalembo dan perang besar di laut Banda dimana VOC berkolaborasi dengan kerajaan Buton, Bone dan Ambon.

Suasana Pelabuhan sebagai Bandar niaga yang besar dan Kekuatan armada laut kerajaan Gowa yang disegani sangat kental tergambar di novel ini. Kerajaan gowa waktu itu telah menjalin kerjasama yang erat dengan Prancis dan Denmark. Bahkan Amunisi diperoleh dari Kerajaan Denmark. Selain itu, novel ini juga di bumbui dengan pertalian rasa I Makkuruni dengan I Patimang putri Sultan Hasanuddin , I Patimang  menaruh simpatik akan keberanian, kepintaran dan tatakrama yang tinggi dari IMakkuruni. Suasana ini di bingkai dengan sopan santun keluarga kerajaan yang tinggi.

Kekuatan novel ini menurut saya adalah kemampuan penulis untuk menghadirkan suasana perang laut yang detail dan  nuansa  kebesaran kerajaan Gowa di waktu lalu. Keberanian, kesungguhan dan patriotisme para prajurit Gowa yang tersaji sangat menggugah. Demikian juga kemampuan penulis untuk memaparkan adat istiadat, tata karma dan cara pandang prajurit dan pembesar gowa terasa sangat hidup. Novel ini juga didukung dengan data sejarah yang kuat. Nama tokoh baik dipihak kerajaan Gowa maupun dipihak VOC, kejadian bahkan bukti arkeologis kapal dan senjata yang digunakan tersaji dengan baik.

Kekurangannya menurut saya adalah penulis membatasi latar sejarahnya sangat pendek, suasana saat perang telah meletus dan tidak sampai pada akhir perang. Sehingga kita tidak bisa mendapati perang Makassar secara utuh. Bagaimana asal muasal perang, mengapa kerajaan Bone memihak VOC , tentang Perjanjian Bungaya yang menjadi akhir perang tidak kita dapati dalam novel ini.

Bagaimanapun, saya sangat puas dengan novel ini yang telah mengingatkan kita tentang sejarah masa lalu yang terlalu sayang untuk dilupakan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 8 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Memenuhi Janjinya Memberantas Mafia …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Milad Himakom UNIFA yang ke-4: Himakom Dulu, …

Komunikasi Universi... | 7 jam lalu

Setelah Kelas Ibu Hamil, Ada Kelas Balita …

Imma Firman | 7 jam lalu

Positif Mengkritik Santun Memberi Saran …

Ferra Shirly | 8 jam lalu

Robohnya Kampus Kami …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: