Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Tri Wibowo Bs

Editor, penerjemah, tukang ketik :: http://rumahcahaya.blogspot.com/

World Writers #148: Budi Darma

REP | 29 September 2011 | 04:22 Dibaca: 221   Komentar: 0   0

Budi Darma (1937 – )  Novelis dan kritikus sastra ternama di Indonesia. Salah satu novelnya yang paling terkenal adalah Olenka (1983), yang mendapat Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan memperoleh Hadiah Sastra DKJ 1983. Olenka diluncurkan kembali oleh penerbit Balai Pustaka pada 2009. Dalam menjelaskan fakta dan fiksi, Budi Darma  menyatakan:

“Sastra merupakan dunia jungkir balik dan dalam fiksi, logika tidak penting … Fakta akan menjadi ada bukan karena kita melihat sesuatu, tapi karena kita berkata kepada diri sendiri atau kepada orang lain mengenai sesuatu itu. Komunikasi itulah yang menjadikan fakta itu menjadi fakta dalam arti yang sebenarnya … Batas antara fakta dan fiksi, dengan demikian, amat tipis. Fakta baru dapat menjadi fakta dalam arti yang sebenarnya manakala sudah di-”versi”-kan melalui persepsi tertentu.”

Budi Darma lahir pada 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Dia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (1963), kemudian melanjutkan studi di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1970-1971), dan meraih MA dari Universitas Indiana, Bloomington, Amerika Serikat (1976). Empat tahun kemudian dia meraih gelar Ph.D dari universitas yang sama. Dia pernah beberapa kali menjadi Dekan Fakultas Keguruan Sastra/Seni IKIP Surabaya, menjadi anggota Dewan Kesenian Surabaya dan Rektor IKIP Surabaya (1984-1987). Pada 1984 Budi Darma mendapatkan Hadiah Sastra ASEAN. Kini selain menulis dia menjadi pengajar tetap di  beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Surabaya.

Budi Darma mengaku menulis masterpiece-nya, Olenka, hanya dalam waktu tiga minggu saja. Diawali oleh perjumpaan beliau dengan seorang perempuan di sebuah lift gedung Tulip Tree di Bloomington, Amerika Serikat pada 1979. Saat itu musim dingin dengan suhu udara yang, seperti ditulisnya, sangat kurang ajar. Beliau hampir tertinggal lift, namun untungnya seorang wanita yang telah lebih dulu ada dalam kotak itu membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Wanita itu bersama tiga orang bocah lelaki dekil dan kumal. Oleh karena wajah ketiga bocah tersebut mirip dengan si wanita, Budi Darma sempat mengira mereka adalah ibu dan anak-anaknya. Tetapi ternyata sangkaannya keliru.Sesampai di kamar apartemennya, Budi Darma segera mengambil mesin tulis hendak membuat cerpen berdasarkan pengalamannya berjumpa dengan wanita dan tiga bocah gelandangan itu. Tetapi, ia tak bisa berhenti menulis sehingga bukan lagi cerpen yang dibikinnya melainkan novel. Maka, sesudah tiga pekan lahirlah Olenka. Empat tahun  kemudian (1983) novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Dalam novel ini Budi Darma menyajikan sebuah pertunjukan drama manusia dengan karakter-karakter yang “sakit”, yang hidupnya senantiasa terbentur-bentur dan tidak malu mengakui sisi buruk dirinya. Sebab bagi Budi Darma, manusia adalah makhluk yang penuh luka, hina dina, dan sekaligus agung dan anggun. Manusia bukanlah makhluk yang enak (hlm.224). Tokoh-tokoh dalam Olenkabukanlah para pahlawan. Mereka hanya manusia biasa yang jujur dan berani berterus terang ihwal diri mereka yang sebenarnya.

Karyanya yang lain diantaranya adalah Orang-orang Bloomington (1980); Solilokui (1983); Sejumlah Esei Sastra (1984); Refilus (1988); Harmonium (1995); Ny. Talis (1996); Kritikus Adinan (2002); dan lain-lain.

Ref:

Olenka (2009)
perca.blogdrive.com
Majalah Tempo
teguhwirwan.blogdetik.com


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 2 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Capres Demokrat Tak Sehebat Jokowi, Itu …

Dini Ambarsari | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: