Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Badrul Munir Chair

Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta

Belajar Multikulturalisme Islam dari Assalaam

OPINI | 05 October 2011 | 15:38 Dibaca: 202   Komentar: 2   0

Belajar Multikulturalisme Islam dari Assalaam

1317785734706761534

Judul : Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren

Penulis : Dr. Abdullah Aly, M. Ag.

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2011

Tebal : xiii + 368 halaman

Akhir-akhir ini, pondok pesantren mendapat banyak sorotan dari media karena banyaknya lulusan pesantren yang berpemahaman radikal sehingga pesantren dianggap sebagai sarang teroris. Walaupun citra buruk itu sebenarnya tidak pantas disematkan kepada lembaga pendidikan yang mengusung tinggi nilai-nilai toleransi, namun diakui atau tidak hal itu membuat resah orang-orang yang berkelindan dengan tradisi pesantren.

Lembaga pendidikan yang notabene menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan toleransi ini sangat tidak pandas mendapat citra buruk yang sedemikian keji. Karena Pondok Pesantren mengusung pendidikan Islam yang multikultural; menerima dan mengakui perbedaan, dan tidak mengganggu yang berbeda aliran.

Pun Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta. Salah satu pesantren di Solo ini menganut sistem pendidikan Islam yang multikultural, sebagaimana yang dikemukakan Abdullah Aly dalam buku “Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Telaah terhadap Kurikulum Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta)” ini.

Abdullah Aly mengemukakan bahwa kurikulum pendidikan di Assalaam adalah kemajemukan, yaitu pendidikan multikultural yang menembus sekat-sekat perbedaan. Lebih lanjut, Aly menjelaskan bahwa betapa sikap menerima, mengakui, dan menghargai keragaman adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh civitas akademika PPMI Assalaam Surakarta.

Dalam buku ini, Aly menjabarkan kajian konseptual tentang pendidikan multikultural. Bagaimana seharusnya orientasi kemajemukan pesantren itu? Bagaimanakah cara mengembangkan sikap mengakui, menerima, dan menghargai keberagaman? Semuanya dijawab jelas dalam buku ini.

Pesantren memanglah tempat berkumpulnya orang-orang yang mencari ilmu terutama ilmu agama (Islam). Maka tak heran jika banyak pelajar (santri) dari berbagai pelosok negeri yang membaur untuk belajar di sebuah pesantren. Bertemunya para santri dari berbagai latar suku dan budaya itu tak dipungkiri akan menyebabkan kesalah-pahaman yang disebabkan berbagai macam alasan. Maka pihak pesantren harus mengadopsi nilai-nilai pendidikan yang multikultural sebagai landasan pembelajarannya.

Buku ini penting untuk dikaji lebih lanjut, setidaknya untuk mementahkan klaim bahwa pesantren adalah sarang radikalisme yang tidak mau mengakui keberagaman. Assalam hanyalah salah satu contoh pesantren yang mengakui keberagaman dari ribuan pesantren di Indonesia. [ ]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 8 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: