Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ach. Nurcholis Majid

penikmat kata, selebihnya mimpi

Saat Jatuh (dari) Cinta

REP | 04 December 2011 | 06:37 Dibaca: 299   Komentar: 0   0

13229333641674563908

Judul Buku      : Jatuh dari Cinta

Penulis              : Benny Arnas

Penerbit           : PT Grafindo Pratama

Cetakan             : I, Mei 2011

Tebal                  : 216 halaman

Mungkin dunia memang hanya selebar daun kelor, bundar seperti bola kaki, atau lebih luas lagi seperti bumi yang kita pijaki. Itulah mungkin sebabnya, setiap dua orang yang saling mencintai berpapasan dalam satu poros, maka salah satunya harus tergelincir, jatuh.

Cinta, sejatinya adalah suatu keperkasaan, ia adalah kitab suci dengan halaman tanpa batas. Setiap terbuka satu halaman, halaman menanti untuk dibaca dan ditafsirkan ke dalam bentuk romantisme yang beragam. Setidaknya itu yang tergambar dalam cerpen “Kepada Pengantin Baru” di halaman terakhir buku ini.

Buku ketiga Benny Arnas dengan lima belas cerpen dan satu kisah kreatif ini, seperti menjadi penanda bagi romantisisme modern. Setiap tema yang dikisahkan Benny selalu menemukan ruang dalam hati saya. Setidaknya Jatuh dari Cinta membuat saya terkagum dan berusaha merayu untuk tidak terburu-buru menuntaskan paragraf demi paragraf.

Benny sukses membawa saya pada sebuah tesis, bahwa cinta selalu bersifat “paradoks”. Karenanya, setiap orang yang berusaha mencinta atau sedang dalam teritory cinta, akan selalu dimintai suatu pengorbanan. Sesuai dengan tulisan di sampul belakang buku, bahwa cinta dalam Jatuh dari Cinta adalah penantian yang merah marun, perjumpaan mendebarkan, pertautan membebaskan. Tapi di sisi lain, ia pun bisa berupa obsesi picisan yang tanggung, impian sumir yang terjungkal di ujungnya, perasaan yang berkepanjangan.

Cacatan singkat tersebut, seperti mewakili tema dan amanat yang ingin disampaikan oleh kisah-kisah yang berada di dalam buku berukuran saku ini. Natnitnole misalnya, cerpen ini mengisahkan tentang seorang istri yang begitu setia, sabar dan penuh perhatian kepada suaminya yang bertindak sebaliknya. Kesetiaan itu membuat sang istri tidak memiliki rasa amarah walau terus diselingkuhi dan dikasari, bahkan di saat ia sudah tidak berstatus istri, perempuan itu tetap memelihara rasa cintanya, semakin disakiti, semakin terasa cintanya.

Rasa bingung dan cemas membuat lelaki dua anak itu kembali mengais kenangan masa SMA. Bahwa pada remaja itulah dia pernah menggunakan guna-guna untuk meluluhkan hati sang istri, wanita jelita yang pernah membuatnya tergila-gila. Natnitnole kemudian lebih diperjelas dengan paragraf terakhir, Natnitnole adalah nama bunga yang selalu jatuh berserakan di taman-taman kota Hatna Hatnareb saban pagi. Orang-orang yang lalu-lalang di jalan setapak taman bagai bersicepat menginjaknya. Makin remuk mahkota dan kelopaknya, makin menyebarlah bau-bau harum yang bersumber dari kotak sarinya yang pecah.

Cerpen Natnitnole seperti ingin menjadi kunci pembuka bagi cerpen-cerpen selanjutnya, diksi yang diambilnya terus memperkuat bangunan cerita tutur melayu ini. Dalam cerpen di halaman pertama ini, logika narasi Benny pun sangat terjaga. Ketika salah seorang anak bertanya perihal rasa iri tetangga pada kehidupan keluarganya, perempuan yang disebut Mama menjawab enteng “Mereka iri karena Mama memiliki Papa yang begitu Mama cintai; Papa memiliki Mama yang begitu mencintainya” kalimat ini cukup membuat setiap pembaca berpikir tentang cinta.

Jika Natnitnole adalah anak kunci, maka cerpen “Bumi itu Bulat, Cinta” adalah pintu pertama yang menyodorkan kisah fantastis. Inilah mungkin yang dimaksudkan Benny, penantian yang merah marun, atau inilah pengharapan yang memabukkan.

Bumi itu Bulat, Cinta, berupaya menampilkan keparadoksalan cinta. Upaya ini entah disadari atau tidak telah menjadi ruh bagi keseluruhan cerita yang ada di dalam buku ini. Hampir tidak ada kisah cinta yang kebahagiaannya sempurna tanpa kesedihan, bahkan dalam cerpen yang bertajuk “Keluarga Sempurna”.

Keluarga yang sempurna dan serba berkecukupan pun, bisa jadi memiliki ketidaksempurnaan. Keluarga Sempurna, ingin menjelaskan bahwa kesempurnaan itu perlu dirawat dan sesekali dibuat goyah, agar mampu melihat seberapa kokoh bahtera keluarga itu dijalani. Keluarga sempurna tanpa celah dan riak, mungkin adalah mimpi semua orang, tetapi mimpi itu menjadi tidak baik jika dijalani dalam kehidupan nyata. Pertengkaran-pertengkaran kecil juga dibutuhkan dalam bahtera keluarga, demi menguatkan rasa cinta.

Ektase, yang dalam ilmu psikologi merupakan tingkatan abnormal perasaan, bisa jadi merupakan suatu hal yang niscaya, tetapi di sisi lain perlu keberhati-hatian. Karena jika tidak demikian, maka bisa jadi Jatuh dari Cinta akan segera dirasakan.

Amanat yang disampaikan Benny Arnas dalam buku ini sangat gampang diresapi, sehingga ruh sastrawi berupa pencerahan selalu tunai dilaksanakan. Terkadang, Benny menulis amanatnya dalam paragraf bercetak miring, biasanya merupakan refleksi diri, atau monolog sang tokoh.

Ending yang menegangkan dan penuh teka-teki sering kali dipakai oleh Benny untuk membuat ceritanya semakin dikenang. Bisa diambil dalam kisah Perihal Perempuan Malam Tadi, Cerita yang Mencintai Yun Karena Yin, Anak-anak yang Kembali, Sesungguhnya Dia Sangat Cemas, Kabut, dan kisah filosofis tentang nafsu dan godaan yang memburu dalam Suara-suara yang Menciummu.

Dua cerpen yang nasibnya kurang mujur di hati saya, diantaranya adalah Tujuh Belas Perempuan, dan Kemughau. Dalam cerita Kemughau ada beberapa istilah asing muncul dan tidak mendapat penjelasan. Tetapi secara utuh—dengan kolaborasi gambar yang unik-menarik—saya sepakat dengan Tasaro, bahwa semua cerita Benny Arnas dalam Jatuh dari Cinta adalah cerita yang nikmat. Setiap kata dipilih dari sari pati yang tepat, cerita yang eksotis dan seksi.

* Penikmat buku.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 12 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 14 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 15 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: