Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Tri Wibowo Bs

Editor, penerjemah, tukang ketik :: http://rumahcahaya.blogspot.com/

World Writers #200: Danarto

REP | 08 December 2011 | 01:08 Dibaca: 305   Komentar: 1   0

Danarto (1940 – ) Sastrawan penting Indonesia, yang semula dikenal sebagai pelukis. Danarto banyak menulis cerpen-cerpen yang surealistik, “fantastis” dan religius/sufistik. Kebanyakan cerpennya didasarkan pada ajaran sufi wahdat al-wujud yang diyakininya, seperti dikatakannya sendiri:

“Saya melihat Tuhan ada di mana-mana; kucing yang (manifestasi) Tuhan, ayam yang Tuhan, dan lain-lain. Jadi dari situlah saya merasa cocok dengan paham wahdatul wujud. Jadi sebetulnya di dunia ini tidak ada yang lain kecuali Tuhan. Dari situlah mengalir terus cerpen-cerpen saya.” (wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla, 30 Maret 1997).

Karya-karya Danarto banyak mendapat pujian. Menurut penyair Abdul Hadi dalam majalah Horison (1973), “[Danarto] berhasil menemukan bahasa baru bagi pengungkapan alam pikiran dan perasaannya yang mistis berkenaan dengan penjelajahan jiwa manusia … Pelukisannya tentang pengalaman batin sangat filmis, dahsyat dan mendirikan bulu roma, lengkap dengan kegalauan dan surealistis.” Menurut Harry Aveling, cerpen Danarto memperlihatkan arah perkembangan cerpen Indonesia menjadi “lebih kurang ajar, lebih jujur … lebih mementingkan pengalaman regional pengarangnya…”

Danarto lahir pada 27 Juni 1940 di Mojowetan, Sragen, Jawa Tengah. Dia mendapat pendidikan di ASRI Yogya dan lulus pada 1961. Pernah aktif dalam Sanggarbambu Yogya (1959-1964) dan ikut berperan dalam mendirikan Sanggarbambu di Jakarta. Ia penah menjadi redaktur majalah Zaman (1979-1985). Pada 1976 Danarto mengikuti International Writing di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Pada 1983 dia ikut serta dalam Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Sebagai penyair, Danarto terkenal dengan sajak ekstrimnya, sebuah sajak tanpa kata yang disebut “sajak petak sembilan” karena hanya berisi garis-garis membentuk sembilan petak. Pada 1968 cerpennya yang berjudul ‘Rintrik’ mendapat penghargaan dari majalah sastra Horison.Pada 1982 koleksi cerpennya yang berjudul Adam Ma’rifat (1982) meriah Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K. Beberapa cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dalam buku Abracadabra (1978) dan dimuat dalam antologi From Surabaya to Armageddon (1976). Pada 1988 Danarto meraih Hadiah Sastra ASEAN.

Karya-karya lainnya diantaranya adalah Godlob (1976); Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976); Bel Geduwel Beb (1976); Orang Jawa Naik Haji (1984); Berhala (1987), yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K; Amarolka (1999); Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001) dan lain-lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: