Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ekamara Ananami Putra

Mahasiswa JPP Fisipol UGM/Sekjend BEM KM UGM 2014

Review: Dalih Pembunuhan Massal

REP | 11 January 2012 | 07:32 Dibaca: 339   Komentar: 0   0

Buku tulisan John Roosa dengan judul asli Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’Etat in Indonesia. Atau dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, sangat menarik untuk dikaji/review. Penulis memilih buku tersebut karena, pertama, buku tersebut sepengatahuan penulis merupakan buku tentang G-30S terbaru yang ditulis penulis asing.

Kedua, buku tersebut memberikan sumber sejarah baru setidaknya yang diketahui penulis, yang sangat jarang diangkat oleh penulis-penulis lain, seperti “Dokumen Supardjo”. Ketiga, buku tulisan Roosa tersebut merupakan satu dari sekian banyak buku yang kembali menitikberatkan kesalahan pada sosok seorang Suharto. Suharto dianggap sebagai seorang oportunis yang sangat pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Atas nama Pancasila dan NKRI ia tampil bak seorang dewa, dengan menyapu rata PKI yang ditu-duh sebagai dalang dari G-30S untuk mencapai puncak kekuasaan.

Dokumen Supardjo merupakan tulisan pribadi Supardjo, seseorang yang dipilih sebagai Wakil Komandan G-30S, walaupun pada beberapa kesempatan Supardjo mengelak bahwa bukan ia yang menulisnya. Inti dari dokumen tersebut yaitu kritik otokritik terhadap peritiwa G-30S yang menemui kegagalan. Selain Dokumen Supardjo, seperti tulisan-tulisan lain yang mengangkat G-30S, keha-diran tokoh Suharto tidak dapat dipisahkan dari ceritera. Menurut Roosa, Suharto berhasil memanfaatkan G-30S untuk membantai PKI sebagai tertuduh dan merongrong kekuasaan Sukarno secara perlahan, yang disebut olehnya sebagai kudeta merangkak.

Dalam beberapa analisis disebutkan bahwa kemenangan Suharto juga merupakan ke-khilafan para pimpinan gerakan. Banyak pimpinan gerakan terutama Latief dan Untung yang pada awalnya mengira Suharto merupakan seorang yang loyal kepada Sukarno, sehingga ia tidak termasuk dalam daftar jenderal yang akan “dihabisi”, padahal saat itu ia merupakan jenderal bintang dua dengan kedudukan sebagai Pangkostrad. Bahkan pada tanggal 29 malam Latief telah melapor kepada Suharto bahwa akan ada suatu besok akan terjadi “penculikan” terhadap beberapa jenderal.

Sehingga G-30S sebagai suatu gerakan “revolusioner” berhasil dipatahkan oleh Su- harto dan tentaranya dalam tempo waktu yang tidak lebih dari delapan belas jam. Karena memang ada beberapa pucuk pimpinan PKI yang terlibat langsung dalam gerakan, ditambah kebencian Suharto terhadap PKI itu sendiri. Jadilah PKI sebagai tertuduh dan dalang utama dalam gerakan tersebut sehingga istilah G-30S/PKI. Yang beberapa tahun berikutnya diikuti oleh jatuhnya tampuk kekua-saan presiden dari tangan Sukarno ke Suharto. Selain Suharto, ada beberapa pihak lainnya yang memang sangat berpengaruh dan berkepentingan dalam G-30S yang disertai jatuhnya Sukarno, yaitu Amerika Serikat, TNI-AD dan Islam sayap kanan.

Pada akhirnya, setelah membaca tulisan Roosa. Muncul pertanyaan dari benak penu-lis, jika G-30S berhasil, Sukarno tetap sebagai presiden, dan PKI dengan komunisnya tumbuh subur di Indonesia. Apa yang akan terjadi pada bangsa Indonesia, apakah kehidupan bangsa akan jauh lebih baik atau justru lebih buruk dari kehidupan bangsa saat ini? Semoga dalam proses pembelajaran sebagai mahasiswa di Jurusan Politik dan Pemerintahan ini, penulis dapat menemukan jawabannya.

Ide yang muncul dari penulis bahwa memang peristiwa Gerakan 30 September ini merupakan salah satu peristiwa sejarah yang masih “kabur”. Oleh karena itu perlu kerja keras dan kemauan bangsa untuk terus belajar dan mencari fakta demi pelurusan sejarah. Toh pun para pelaku sejarahnya sudah tiada, tetapi kita jangan sekali-sekali melupakan sejarah.

Sumber Referensi

Roosa, John, 2008, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suahrto,

Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Peringatan HUT PGRI di Kota Ambon …

Shulhan Rumaru | | 26 November 2014 | 15:04

Bedanya 2 Orang Terkaya Indonesia vs China …

Ilyani Sudardjat | | 26 November 2014 | 10:40

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minta Maaf Saja Tidak Cukup, PSSI! …

Achmad Suwefi | | 26 November 2014 | 11:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 6 jam lalu

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 6 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 12 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Berawal dar Tantangan Petani …

Anugrah Fitradi | 7 jam lalu

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | 7 jam lalu

Membangun Kekuatan Prekonomian dari Pedesaan …

Tur Muzi | 7 jam lalu

Cocoklogi 114 Surat …

Adhyatmoko | 7 jam lalu

Welcome to Kompasiana …

Renal Wijaya Kusuma | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: