Artikel

Buku

Junanto Herdiawan

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ekonom dan penggiat ilmu filsafat. Hobi jalan-jalan, kuliner, dan gemar mencermati budaya pop Jepang. Penulis buku "Japan Aftershock: Kisah-kisah Berani Menghadapi Tsunami", bersama Hani Yamashita. Saat ini tinggal dan bekerja di Tokyo. Bertugas mencermati dinamika ekonomi Jepang, Cina, Korea, Taiwan, dan Hong Kong. Ber-twitter di @junanto

Hari-hari Tergelap Saya di Jepang (Japan Aftershock)


REP | 22 January 2012 | 09:31 Dibaca: 780   Komentar: 16   3 dari 4 Kompasianer menilai aktual

1327197100483113565

Japan Aftershock: Kisah-Kisah Berani Menghadapi Tsunami

Saya menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana masyarakat Jepang menghadapi tiga bencana (triple disasters) secara bersamaan pada Maret 2011 lalu. Jepang saat itu dilanda oleh gempa bumi, tsunami, dan krisis nuklir Fukushima. Pengalaman berada di hari-hari tergelap Jepang tersebut sangat membekas dalam diri saya.

Menyikapi terjadinya bencana, tak banyak yang bisa saya lakukan dan tak banyak yang bisa saya bantu bagi para korban. Saya hanya dapat menuliskan beberapa pengalaman saya di tengah bencana ke berbagai media, termasuk Kompasiana, agar semangat orang Jepang dan kondisi yang sebenarnya bisa dibaca juga oleh orang banyak.

Berbagai catatan tersebut,  bersama dengan tulisan dari Hani Yamashita, seorang WNI yang tinggal di Tokyo, dan beberapa saksi hidup (survivors) gempa Jepang lainnya, beberapa waktu lalu dirangkum oleh penerbit Galangpress Yogyakarta, untuk dijadikan buku, yang berjudul “Japan Aftershock: Kisah-kisah Berani Menghadapi Tsunami”.

Buku ini, yang kata pengantarnya diberikan oleh Dubes RI untuk Jepang, Muhammad Lutfi, menceritakan banyak hal seputar gempa Jepang, mulai dari seorang kawan yang kehilangan sahabatnya karena terseret tsunami, bagaimana kondisi Jepang saat gempa terjadi, bagaimana masyarakat dan pemerintah Jepang bersikap, detik-detik radiasi nuklir menerjang Tokyo, hingga upaya penyelamatan WNI di Jepang oleh pihak KBRI Tokyo. Selain itu, saya juga menulis sedikit tentang kondisi perekonomian Jepang pascabencana.

Kita semua menyadari bahwa triple disasters yang terjadi di Jepang sangat memukul sendi kehidupan masyarakat. Tapi saya yakin bahwa di balik setiap bencana selalu ada hikmah. Tak terkecuali bencana alam yang terjadi di Jepang tersebut. Masyarakat Jepang telah menunjukkan pada dunia, bahwa mereka adalah manusia-manusia yang tabah dan tangguh dalam menghadapi penderitaan. Alih-alih terus mengeluh dan memohon bantuan, mereka justru menunjukkan semangat luar biasa untuk bangkit.

Masyarakat Jepang membuktikan bahwa semangat kizuna (saling peduli sesama) dan ganbarou (bekerja keras sampai akhir) masih ada dan nyata dalam kehidupan mereka. Semangat itu tidak pudar di saat bencana dan krisis, bahkan dalam kondisi antara hidup dan mati.

Sehubungan dengan telah selesainya buku tersebut dicetak, saya, mewakili pihak penerbit, ingin mengundang rekan-rekan/sahabat Kompasianer sekalian untuk kiranya dapat bersilaturahim dan bertemu pada acara “Launching BUKU JAPAN AFTERSHOCK”, yang Insya Allah akan dilaksanakan pada, Hari Sabtu, 28 Januari 2012, pukul 16.00-18.00, bertempat di Gramedia Matraman.

Undangan ini bersifat terbuka dan gratis, bukan sebuah undangan formal yang memerlukan konfirmasi kehadiran. Saya tentu akan senang sekali kalau bisa bertemu dan kopdar dengan rekan-rekan Kompasianer sekalian.

Terlampir undangan launching buku, sampai jumpa pekan depan. Salam.

13271972031290630166

Undangan bagi rekan Kompasianer

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: