
Berbagi buku, menebar ilmu dalam program blogger hibah sejuta buku. #HibahBuku #Blogger #TKW di Malaysia #KoplakYoBand #MiringUnite · http://www.anazkia.com
Dibaca: 155
Komentar: 26
2 dari 2 Kompasianer menilai aktual
Tak ada yang lebih baik, dari pemilik Sang Maha Baik. 20 januari lalu, pagi-pagi saat saya sedang menyetrika baju, hape saya berdering, sebuah nama tertera di situ, Pak Guru. Exited! Begitulah perasaan saya. Suara Pak Guru terdengar di kejauhan, meyakinkan kalau yang mengangkat telpon adalah saya. “Ini Mbak Anaz?” Ujarnya di talian. Saya menjawab antusias, tak lama suara Pak Guru kembali terdengar. “Ini anak-anak mau hallo. Anak-anak, mana suaramu?”
“Hallo, Kak Anaz…” Serempak suara di kejauhan terdengar
“Nah, itulah suara anak-anak pulau Karibia.” Ujar Pak Guru sambil tertawa. Saya juga tertawa mendengar jawaban Pak Guru itu. Sudah, telponnya hanya itu saja. Sampai sekarang, saya mencoba telpon ke Karas belum bisa. Maklumlah, towernya masih baru. Dan akhirnya di daerah Fakfak ada sinyal untuk telpon. terimakasih indosat hehehe.. (lah providernya emang indosat, yang masang tower ke Karas juga indosat)
Kembali ke judul dan kembali membahas surat, ada salah satu komentar pada postingan sebelumnya dari Mas Yayak Faqih, nanya gimana sejarahnya saya dapat surat dari Papua. sebetulnya, itu bukan untuk saya, sih. Lah wong niat awal-awalnya adalah lomba. Lomba? Iya, lomba. Lah kita, kan, sering tuh pada bikin give away di blog. Nah, lomba nulis surat ini juga lebih kurang begitu, bedanya, ini untuk anak-anak SD dan diselenggarakan secara offline. Niat lomba ini sudah lama banget, sejak pertengahan tahun lalu. Hadiahnya sangat sederhana sekali, tak ada ipad, tak ada samsung galaxy, wis pokoke, niatnya adalah berbagi :)
Nah, dari lomba nulis surat ini juga, saya konfirmasi ke Bang Atta dan temen-temen bertuah untuk kembali mengadakan Blogger Hibah Sejuta Buku. Lho, jadi hadiahnya buku-buku hibah itu, Naz? Yah, bukanlah. Hibah Sejuta Buku itu lebih kepada keprihatinan mendengar cerita Pak Guru, kalau di sekolahnya amat sangat minim bahan baca. Nah, kalau hadiah lomba menulis surat ini, tetep dari saya dengan sedikit tabungan juga kenang-kenangan. Hibah sejuta buku, dilaksanakan hampir tiga bulan, kerja sama seluruh teman-teman blogger dari berbagai platform. Alhamdulilah, seribu buku lebih terkumpul. Terimakasih buat teman-teman yang telah terlibat dalam program ini.
Kembali pada kalimat pembuka di atas, Tak ada yang lebih baik, dari Pemilik Sang Maha Baik. Seiring berjalannya waktu, dengan berhentinya program Hibah Sejuta Buku, kebaikan teman-teman blogger terus mengalir. Ranny Afandi, blogger Menado justru menambahkan uang tabungan untuk hadiah anak-anak. Maka bertambahlah sponsor. 21 januari lalu, saya juga mendapat SMS dari Kak Maslina, orang Malaysia kalau telah mentransver uang. Alhamdulilah… Bertambahlah hadiahnya. Terimakasih buat Ranny dan Kak Maslina.
Lantas, siapakah pemenang lomba menulis surat ini?
Setelah membaca, menilai dan menjumlahkan daftar nilai yang sebelumnya telah dibuat oleh Mas Trie di Jakarta, akhirnya diperolehi beberapa nama pemenang. Terimakasih banyak juga buat Mas Trie, yang telah sudi menilai dan membaca surat-surat ini di sela-sela kesibukannya, juga mengirimkannya ke Malaysia. Suwun, yo, Mas…
Dan, inilah nama-nama mereka yang beruntung,
Juara I, dengan total nilai adalah 193 jatuh kepada Kartini, memperoleh tabungan sebesar Rp. 200.000
Juara II, dengan total nilai adalah 168 jatuh kepada Supri Patur, memperoleh tabungan sebesar Rp. 150.000
Juara III, dengan total nilai adalah 165 jatuh kepada Karmiyati Baw, memperoleh tabungan sebesar Rp. 100.000
Sementara, untuk juara harapan adalah,
Juara harapan I, Farida, dengan total nilai 160
Juara harapan II, Sahrudin, dengan total nilai 160
Juara harapan III, Ibrahim patur, dengan nilai 140
Untuk juara harapan masing-masing mendapat buku (masih baru, gress, minta langsung, eh beli langsung dari penulisnya, biar ada tanda tangannya hehehe). Juga kepada peserta lainnya mendapatkan souvenir kenang-kenangan.
Awalnya, saat hendak mengadakan lomba menulis surat ini, saya tak pernah membayangkan kalau anak-anak akan banyak menulis surat dengan subjek, “Untuk Kak Anazkia” Sungguh tak ada niat narsis menyertakan nama saya, tapi apa hendak dikata, ternyata sebagian besar dari anak-anak menulis surat dengan subjek untuk saya #doh
Untuk kenang-kenangan dan sebagai arsip, Insya Allah saya sedang menyusun surat-surat ini untuk dibukukan dengan meminta tolong beberapa teman-teman blogger sebagai editor dan pembuat cover. Rencananya diterbitkan di nulisbuku. Nah, buat teman-teman blogger yang ingin memberikan testimoni, silakan saya tunggu dan sangat saya harapkan. Kalau ada yang ingin membaca beberapa surat anak-anak ada di beberapa link ini
Buat teman-teman yang ingin mengirimkan testimoni, silakan kirim ke e-mail annazkia@gmail.com, atau anazkia@yahoo.com. Maksimal 100 kata. Jangan lupa, sertakan nama juga alamat URL blognya. Paling lambat 31 januari :)
Contoh testimoninya kayak apa, Naz? #garuk-garuk kepala… Contoh sederhananya mungkin gini, yah…
Hai adik-adik, tetep semangat belajar, yah? Semoga cita-cita kalian tercapai. Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpimu. Jagalah alammu, lautmu karena ia harta warisan untuk anak cucumu kelak. Salam kenal dari Kakak, Mas, Mbak, Budhe, atau Pak dhe (ini untuk nama hehhe) http://www.anazkia.com/
Sudah, itu saja. Maturnuwun…
NB: Program Hibah Sejuta Buku ke Papua sudah berhenti, laporannya lengkapnya ada di sini (1000 Buku Dari Blogger Indonesia Untuk Papua) Tujuan program selanjutnya adalah ke Maluku, dengan slogan “Satu Blogger Satu Buku, Untuk Maluku” Mari kita berbagi buku untuk sama-sama menebar ilmu. Insya Allah, program ini akan bermula pada awal bulan februari. Owh ya, suwun juga buat Mas Almascatie, atas ide hadiahnya :)