Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Adinda S.

Mahasiswa Jurusan Teknik Grafika Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Tulisan-tulisan saya yang lain dapat juga dibaca di selengkapnya

Resensi Buku: The Invention of Hugo Cabret

OPINI | 09 February 2012 | 06:38 Dibaca: 498   Komentar: 4   0

The Invention of Hugo Cabret 13290143041393581576

Oleh Brian Selznick

Diterjemahkan oleh Marcalais Francisca

Penerbit Mizan (Mizan Fantasi)

Cetakan I, Januari 2012

Tebal 544 halaman

ISBN 978-979-433-681-6

Saya sudah menanti-nantikan terbitnya buku ini sejak tahun 2010 lalu, ketika mengetahui bahwa filmya akan dibintangi oleh aktris favorit saya, Chloe Grace Moretz. Saat membaca sinopsis ceritanya, saya langsung tahu bahwa buku ini akan menjadi buku favorit saya. Ternyata memang benar.

Rabu kemarin (7/2) saya melihat buku ini bertengger di salah satu rak di toko buku. Tanpa pikir-pikir lagi, saya langsung membawa buku ini ke meja kasir. Alhamdulillah, harganya menjadi lebih ‘mendingan’ setelah didiskon. Hehehe.

Sekarang, bayangkan kalian sedang duduk nyaman di kursi bioskop. Seiring meredupnya lampu dan terbukanya tirai di depan layar, bersiaplah untuk mengikuti kisah seorang anak bernama Hugo.

Hugo Cabret. Anak berusia 12 tahun ini hidup di balik dinding-dinding sebuah stasiun di Kota Paris. Tugas utamanya adalah mengatur dan merawat jam-jam di stasiun itu. Sejak kematian ayah dan pamannya, ia hidup sebatang kara. Untuk bertahan hidup, ia sering mencuri makanan dari orang-orang serta kafe di stasiun. Selain itu, ia juga sering mencuri mesin-mesin dari toko mainan milik seseorang bernama Georges Méilès. Hugo membutuhkan benda-benda itu untuk memperbaiki benda peninggalan mendiang ayahnya.

Benda itu adalah automaton—semacam robot manusia—yang dulu ditemukan Ayah Hugo di museum tempatnya bekerja. Mereka meyakini bahwa automaton itu membawa pesan rahasia. Ayah Hugo pun giat memperbaiki automaton itu di sela-sela waktu kerjanya. Ketika sang ayah meninggal, Hugo-lah yang memperbaikinya. Ia yakin benda itu memiliki pesan rahasia yang akan menjawab semua pertanyaannya dan memberitahunya apa yang harus dilakukan, sebab ia kini sebatang kara. Pesan itu akan menyelamatkan nyawanya.

Namun, persoalannya tidaklah semudah itu. Buku catatan peninggalan ayahnya—yang merupakan satu-satunya panduan Hugo dalam memperbaiki automaton—disita oleh Georges saat ia tertangkap basah mencuri di tokonya. Belum lagi, fakta bahwa Georges menyimpan rahasia yang selama ini dicari-cari Hugo. Apakah rahasia itu?

Well, buku ini adalah buku dengan ilustrasi terindah yang pernah saya temukan setelah serial The Spiderwick Chronicles. Ketika membuka buku ini, kita akan disambut oleh ilustrasi-ilustrasi yang menawan karya sang penulis, Brian Selznick. Ilustrasi-ilustrasi dua halaman penuh yang begitu hidup ini seolah hendak membawa kita langsung masuk ke dalam kisahnya. Selain itu, buku ini juga memuat sebagian foto hitam putih dari film-film Eropa era jadul. Sungguh memanjakan mata. Kehadiran mereka adalah bagian dari kisah petualangan Hugo sendiri. Berikut adalah sebagian ilustrasi yang terdapat di dalam buku ini:

Kehadiran ilustrasi ini mendominasi isi buku. Jadi, tulisannya relatif singkat. Mungkin bagi kita yang biasa membaca buku dengan ilustrasi yang minim akan merasa aneh melihat begitu banyaknya ilustrasi di buku ini. Cerita pun mengalir sangat cepat, dan saya hampir tidak merasakan ikatan batin yang kuat antara Hugo dan Isabelle. I want to see more of them!

Akan tetapi, itu semua tetap tidak mengurangi keindahan buku ini. Saya rasa, penerbit telah mengambil keputusan yang tepat untuk mencetak buku ini sesuai dengan cetakan aslinya. Excellent work! Kisah petualangan yang mengasah imajinasi serta ilustrasi yang apik menjadikan buku ini layak dibaca bagi penggemar fantasi di mana pun.

Oh iya, ini adalah kutipan favorit saya dari Hugo:

“Kamu tahu, tak pernah ada bagian berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” –Hugo; hlm. 388

Karena semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, kita berada di sini juga untuk tujuan tertentu.


(Adinda)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 17 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Australia Siaga Penuh …

Tjiptadinata Effend... | 18 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 20 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34


HIGHLIGHT

Kepoisme Itu Paham? Pilihan Sikap? Atau …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Seraut nan Utuh …

Eko Kriswanto | 8 jam lalu

Ketika Lampard Mencetak Gol ke Gawang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Lampard Pecundangi Mourinho …

Iswanto Junior | 8 jam lalu

Cinta dalam Bingkai Foto …

Cuzzy Fitriyani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: