Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Taufiq Nugroho

hompimpa alaium gambreng...

Resensi Buku : Ronggeng Dukuh Paruk

REP | 13 February 2012 | 06:24 Dibaca: 3186   Komentar: 7   2

13291138511600357552

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis : Ahmad Tohari

Isi : 408 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978 – 979 – 22 – 77289

Cetakan : November 2011

Harga : Rp. 65.000,00

Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, ini berarti dengan membeli satu buku kita dapat tiga buku sekaligus. Apalagi dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun, membuat saya penasaran dengan isi buku karya Ahmad Tohari ini. Ahmad Tohari adalah penulis kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 yang tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaanya. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada buku ini.

Novel ini mengambil setting sekitar tahun 1965an. Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru di Dukuh Paruk, bagi pedukuhan ini ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi, cantik dan menggoda. Semua ingin merasakannya. Dari kawula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik membuat dukuh tersebut hancur secara fisik maupun mental. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena di penjara. Pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan hakikatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia ingin menjadi wanita somahan. Sepercik harapan muncul ketika Bajus muncul. Mesti akhirnya, ia kembali terhempas…

Dalam novel ini Dukuh Paruk adalah gambaran secara jelas dimana pola pikir dan budaya masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan tingkat pendidikan. Muatan gender juga sangat terasa dimana Srintil (wanita) lebih dianggap sebagai objek oleh kebanyakan orang, dan ironisnya kebanyakan wanita pun merasa bangga dengan keadaan ini.

Cerita tentang kesenian rakyat yang terbawa pada arus politik yang mengakibatkan para pelakunya dituduh sebagai manusia yang mengguncangkan negara, bahkan orang-orangnya ditahan dan harus menyandang status “tapol” membuat saya bertanya-tanya tentang awal pembangunan sebuah rezim dinegri ini.

Satu-satunya kekurangan buku ini menurut saya adalah pengaturan line spacingnya yang terlalu rapat, membuat mata pembaca cepat lelah. Namun secara keseluruhan, buku ini bagus dan sangat layak sebagai koleksi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: