Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ismawati Retno

Mencintai JOGJA bersama dinamika kehidupannya

HZ : Semua Orang Boleh Mengaku Sebagai Warga Jogja

REP | 15 February 2012 | 13:36 Dibaca: 230   Komentar: 4   0

1329312894301048622

Diskusi buku berlangsung di Perpustakaan Kota Yogyakarta, Rabu (15/2/2012). foto:dok humas


Diskusi buku “HERRY ZUDIANTO PAK WALIKOTA YANG BESAR KEPALA” dengan penyaji tokoh utama Herry Zudianto dan penulis Ismawati Retno yang digelar oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta, Rabu (15/2), ini mampu menjadi jembatan penghubung kembali kedekatan Pak Herry dengan masyarakat Kota Yogyakarta.

Brand identity, brand integrity, dan brand image yang melekat kuat atas diri Pak Herry selama 10 tahun berkiprah bersama warga Kota Yogyakarta menjadikan Pak Herry serasa tanpa jarak dengan warga.  Ajang diskusi ini memberi kesempatan bagi warga Jogja untuk bersilaturahim dengan Pak Herry hal ini terlihat dari antusias peserta yang melebihi target.

Buku ini ditulis apa adanya tanpa ‘pesan khusus’ sehingga tidak hanya memuat hal-hal kebaikan Pak Herry semata, Namun juga ada hal keburukan Pak Herry yang tidak boleh dicontoh oleh warga Jogja seperti kebiasaan beliau sebagai perokok.

Diskusi itu telah berhasil memberi jawaban tentang kemenangan Pak Herry dalam berperang melawan keinginan untuk merokok setelah lebih dua tahun lamanya.

“Sejak 23 Desember lalu usai pensiun sebagai walikota saya sudah berhenti merokok, samasekali sekarang saya berperang melawan keinginan untuk merokok. Buku ini menjadi dorongan kuat bagi saya untuk segera berhenti merokok,” akunya.

“Dan ternyata dengan hidup bebas rokok membuat saya lebih disayang Bu Dyah,” ujarnya terkekeh.

Moderator diskusi Mas Emmo (wartawan senior Sindo Radio) pada akhirnya juga mengakui bahwa dialah yang memakai akun ’Emoh Rokok’ dan membentuk gerakan Facebookers Mendukung Herry Zudianto berhenti merokok pada 13 November 2009.

Pada kesempatan itu Pak Herry menerima limpahan curahan hati dari seorang warga pendatang yang ingin mengabdikan diri untuk Jogja. Warga itu mengatakan bahwa ia ingin sekali melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk Jogja namun ternyata tidak semua orang disekelilingnya bisa menerima.

Menjawab hal itu Pak Herry mengatakan bahwa warga Jogja itu tidak harus dilahirkan di Jogja ataupun penduduk Jogja secara administratif, namun semua orang boleh mengaku sebagai  warga Jogja asalkan ia mencintai Jogja secara tulus dan berkarya untuk kebaikan Jogja.

Puluhan orang hadir dalam diskusi ini diantaranya adalah Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Bp. Achmad Charis Zubair, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Ibu Yulia Rustiyaningsih, Ketua PWRI Kota Yogyakarta, perwakilan Komunitas sepeda PODJOK Pak Daniel Suharta, perwakilan Taman Bacaan Masyarakat, mahasiswa dan tokoh masyarakat lainnya.

Buku setebal 208 halaman yang diterbitkan oleh Gelar pada Desember 2011 ini berisikan tentang rekam jejak selama sepuluh tahun Herry Zudianto mengemban amanah sebagai kepala pelayan masyarakat Kota Yogyakarta, sekaligus mengungkap sisi lain dari Herry Zudianto yang dalam dua periode kepemimpinannya berhasil menorehkan prestasi luar biasa.

Tags: canting

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 6 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: