Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Elita Sitorini

solum deum prae oculis verba volant scripta manent

Meraba Indonesia, Cara Baru Mencintai Negeri Ini

REP | 02 March 2012 | 14:27 Dibaca: 267   Komentar: 0   3

1330698376563149290

nikmati tulisan bergaya jurnalis sastrawi dan rasakan sensasi mengelili Indonesia bersama Farid dan Yunus

Setidaknya, dengan mengungkapkan terus-menerus fakta bahwa kita memang kaya, walaupun terlihat cerewet, akan membangkitkan semangat kita untuk menengok kembali Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta kepada Indonesia. Berkali-kali.

Kalimat ini tertulis dalam buku Meraba Indonesia. Yang ditulis oleh Ahmad Yunus. Seorang wartawan lepas yang berasal dari Bandung. Untuk menyusun bukunya itu, Yunus tak sendiri, dia bersama wartawan kawakan Farid Gaban, yang pernah meliput perang Bosnia dan menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1990, melakukan ekspedisi nekat dengan menggunakan sepeda motor.

Kedua wartawan ini tampaknya sangat terinspirasi dengan perjalanan Che Guevara. Hanya saja, bisa dikatakan Yunus dan Farid luar biasa nekad. Wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, bukan wilayah yang sempit. Ada banyak gunung dan laut. Mereka harus siap menghadapi situasi terburuk. Seperti ketika di Muara Siberut, ombak dan badai membuat sampan yang mereka tumpangi tenggelam. Berbagai peralatan elektronik seperti kamera dan laptop tercebur ke laut sehingga mengalami kerusakan.

Tentu tidak menjadi masalah ketika alat-alat itu tak menyimpan data perjalanan mereka. Namun, karena selama ini, mereka berdua menyimpan semua data di laptop, data-data menjadi tidak berguna lagi. Ujian mental yang cukup besar bagi Farid dan Yunus. Namun, mereka menolak menyerah oleh nasib.

Untungnya, nasib buruk yang sempat membuat mereka trauma itu, akhirnya mendapat hadiah menyenangkan. Sesampai di Bukittinggi, mereka bisa menyaksikan lebih dekat Istana Hatta, yang menyimpan berbagai koleksi bacaan Bung Hatta. Mereka juga meihat lebih dekat rumah tempat Tan Malaka, dibesarkan di Payakumbuh.

Dari perjalanan panjang dan mengesankan ini, akhirnya Farid dan Yunus, bisa mengetahui lebih dekat kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan hanya masyarakat pulau Jawa atau tepatnya masyarakat ibukota, yang setiap hari terpampang di layar kaca. Perjalanan mereka telah membuka mata keduanya, bahkan membuka siapa saja yang membaca buku Meraba Indonesia, bahwa negeri ini tidak hanya kaya masalah, tapi benar-benar kaya akan keberagaman, potensi wisata, kebiasaan-kebiasaan unik, yang patut untuk diketahui oleh semua orang, khususnya generasi muda.

Dengan begitu, kita, khususnya warga negara Indonesia, bisa mengetahui secara mendetail gambaran negeri ini. Gambaran masyarakat di kawasan pesisir, di kepulauan terpencil, di kawasan perbatasan, dan di lembah-lembah gunung yang tak terjangkau para pejabat. Di sinilah kita patut berterima kasih kepada sejoli Farid dan Yunus, karena berkat ambisi mereka berdua untuk mengikuti jejak Che Guevara berakhir dalam sebuah buku yang sangat bermanfaat.

Meraba Indonesia mampu membuat siapa saja yang tak pernah singgah di tempat-tempat yang dikunjungi Farid dan Yunus, akan merasa seolah-olah mereka ikut berkunjung ke sana. Berkenalan dengan Edris, Turisi, dan Juliana Tabaru. Setiap orang, setiap daerah yang mereka kunjungi menyisakan banyak pelajaran berharga.

Untungnya, Yunus dan Farid tidak pelit. Mereka rela menuliskan perjalanan mereka itu dalam sebuah buku, yang bisa kita baca. Tanpa perlu bersusah payah menyusuri pulau-pulau terpencil, digigit nyamuk, tenggelam, dan kepanasan. Dari Meraba Indonesia, mereka berbagi pengalaman menyaksikan kehidupan masyarakat Indonesia di kawasan perbatasan, seperti ketika mereka berada di Pulau Sebatik.

Dengan mata kepala sendiri, mereka bisa melihat bahwa pemerintah Indonesia enggan mengurusi WNI yang ada di sana. Justru, pemerintah Negeri Jiran yang membantu warga di sana. Menyediakan sarana dan pra sarana serta fasilitas publik. Lalu, masihkah kita berkoar-koar bahwa Malaysia tukang mencuri milik Indonesia? Saya kira, dari pengalaman Yunus dan Farid kita bisa mengambil kesimpulan, Malaysia kerap mengerjai Indonesia dalam urusan batas wilayah karena kesalahan Indonesia sendiri.

Tidak ada kepedulian dari pemerintah untuk membantu dan menyejahterakan masyarakat di kawasan perbatasan. Yang akhirnya, jangan menyalahkan mereka, kalau mereka memilih mengikuti pemerintah negara tetangga. Ketika perut lapar dan tangis anak memenuhi seluruh gendang telinga, masihkah rasa cinta tanah air dipertahankan? Padahal, di istananya sang presiden dan para pembantunya bisa menikmati ayam goreng dengan sepuasnya. Para wakil rakyat bisa dengan seenaknya membeli mobil mewah sampai ingin dibelikan kursi dengan harga jutaan rupiah.

Aahh…memang ironis, justru dengan Meraba Indonesia, ternyata kita tahu bahwa negeri ini tak hanya kaya alam, kaya budaya, tapi juga kaya masalah………..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: