Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Bahasa ‘Indo’ yang Pecuk

REP | 28 April 2012 | 10:50 Dibaca: 437   Komentar: 18   4

1335609981246899194

Pieter Johannes Veth dan bukunya (ilust betterworldbook.com)

Membaca buku karya penulis Belanda Pieter Johannes Veth berjudul ‘Uit Oost en West’ (Dari Timur dan Barat) memang mengasyikkan. Buku ini menyajikan kumpulan kosakata (ada 1.000 istilah) sebagai akibat interaksi orang Belanda dan orang Melayu (baca: Indonesia) selama masa penjajahan. Ternyata bukan saja kosakata Belanda yang menyelinap masuk ke dalam khazanah bahasa kita, tetapi tak sedikit kata-kata melayu merasuk ke dalam perbendaharaan kata Belanda. Anda mungkin akan sedikit terkejut melihat daftar istilah Belanda yang ternyata serapan dari bahasa tanah jajahannya.

Secara acak saya akan mengutip sebagian istilah-istilah yang menarik itu. Saya temukan kata ‘bakkeleienyang diambil dari kata melayu ‘berkelahi’, kata ‘piekeren’ (to ponder, to brood) yang diambil dari kata ‘pikir’, kata ‘pienter’ (smart) dari bahasa Jawa ‘pinter’, kata ‘rampassen’ dari kata ‘rampas’, kata ‘rampokken’ (to loot) dari kata ‘rampok’, ada kata ‘mardijker’ (orang merdeka) yang diambil dari kata ‘merdeka’, ada kata ‘passerbaan’ yang diserap dari bahasa Jawa ‘paseban’ (artinya auditorium), ada kata ‘passer’ yang khas dipungut dari kata ‘pasar’, istilah ‘pikkel’ dari kata ‘pikul’, ‘patjollen’ (memacul) dari kata ‘pacul’.

Dari arah sebaliknya juga dipaparkan istilah-istilah melayu yang merupakan terjemahan langsung dari bahasa Belanda seperti kata ‘orang kecil’ dari istilah ‘de kleine luyden’ (the common people), ‘mata sapi’ yang berpadanan dengan ‘kalfsoog’, ‘sopi’ (minuman keras jenewer) dari kata ‘zoopje’, ‘loji’ dari kata ‘loge’ (factory), ‘celana monyet yang diterjemahkan dari kata ‘apenbroek’ (aap = monyet, broek = celana).

Daftar kata yang termuat pada buku ini sebagian besar termasuk dalam bahasa petjuk, yaitu bahasa pasar yang mungkin hanya dipahami oleh orang Belanda yang pernah bermukim di negeri kita. Bahasa ‘petjuk’ ini memang tidak menggunakan kaidah tatabahasa Belanda yang baku, sehingga mungkin saja tak dipahami oleh orang Belanda totok. Salah seorang penulis buku yang ternama keturunan Indo yang banyak menggunakan bahasa ‘petjuk’ ini adalah Tjalie Robinson. Dengan banyak menulis buku tentang Indonesia dia telah berjasa memopulerkan Indonesia di pentas dunia. Saya kok tiba-tiba teringat dengan berita menyedihkan tentang Justin Bieber yang menyebutkan Indonesia dengan ‘some random country’ (negeri antah berantah). Aduh, sedemikian parahkah negeri kita dikenal di negeri orang, sampai dikatakan sebagai ‘some random country’?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: