Back to Kompasiana
Artikel

Buku

M.taufiq Hidayah Tanjung

Mahasiswa jurusan PPKn Unimed, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Unimed

Resume Sandiwara Langit

REP | 15 May 2012 | 16:00 Dibaca: 108   Komentar: 0   0

Resume Sandiwara Langit

Karya

Abu Umar basyier

Secara etimologis, kata sandiwara berarti; drama, kumpulan beberapa babak atau fragmen dalam kehidupan fiktif atau non fiktif.

Sedangkan pengertian langit disini menunjuk kepada sang sutradara yaitu yang mengatur alam semesta, Allah SWT

Al-quran melukiskan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan senda gurau yang dapat melalaikan, perhiasan, dan adu pamer materi secara keseluruhan tidak kekal abadi, sebagaimana termaksud dalam surah al-hadid ayat 20;

Kisah ini berawal ketika seorang pemuda islam yang masih berumur 18 tahun bernama rizqan ingin sekali menikah karena dia khawatir terjebak dalam perzinaan apabila dia harus menunda pernikahan lebih lama lagi, segala usaha telah dia lakukan salah satunya dia telaten melakukan puasa dawud yaitu puasa sehari dan sehari tidak namun itu hanya bisa meredam gejolak nafsunya sedikit dan sisanya masih begitu kuat, tutur rizkan kepada seorang ustad.

Ustad brtanya kepada rizkan, apakah kamu sudah memiliki calon? Sudah, apakah kamu sudah meminangnya? Belum ustad, tetapi orang tua saya dan kedua orang tuanya sudah mengetahui keinginan saya untuk meminangnya, saya masih ingin mematangkan niat saya makanya saya bicara ke ustad tutur rizkan kembali, kemudian ustad bertanya kembali “apa alasan anak muda menunda melamarnya?” ini dia yang menjadi permasalahannya ustad, saya seminggu yang lalu sudah datang dan bicara kepada orang tuanya dan ditemani oleh kakak laki-lakinya, kami bicara panjang lebar dan saya merasa kami sudah sangat cocok, dan minggu depan saya berniat kembali lagi dan meminangnya, tapi saya masih ragu ustad, Kenapa ? orang tua calon saya pernah berkata, bahwa dia anak menikahkan anaknya kepada laki-laki yang mapan dan punya pekerjaan tetap, Lalu Masalahnya ? saya belum punya pekerjaan tetap ustad, apakah alasan kedua orang tua untuk melarang anaknya menikah dengan alasan calon suaminya belum memiliki pekerjaan tetap itu dibenarkan syariat? Apa itu bukan termasuk Adhull krena melarang anaknya menikah tanpa alasan, tetapi ustad bukankah pemuda pada zaman nabi yang menikah dengan mahar hanya bacaan al-quran bahkan satu dirhampun dia tidak punya, Dan rizkan pun terlibat berdebatan hebat dengan ustad tersebut

Tibalah saatnya rizkan kembali kerumah wanita yang akan di nikahi, dan mengutarakan niat baiknya untuk meminang wanita yang dia cintai, dia mendapat sedikit lampu hijau dalam pernyataan kedua orang tua wanita yang dia cintai, kedua orangtua wanita itu mengizinkan rizkan untuk menikahi anaknya tetapi dengan syarat ” dalam waktu kurun waktu sepuluh tahun saya harus bisa memberikan kehidupan yang berkecukupan, bila tidak saya harus menceraikannya dan kata-kata tersebut harus saya ucapkan dalam akad nikah” tutur rizkan kepada ustad itu kembali, ustad itu menanggapi perkataan rizkan dengan agak santai ustad itu berkata bahwa itu tantangan yang menarik, rizkan langasung memtong pernyataan ustad tersebut dan ia berkata bukankah itu perjudian ustad? Tidak kamu tidak ditekankan untuk mengikutinya tapi itu adalah satu pilihan untukmu, sekarang kamu tinggal memilih yang mana, kamu terima syarat itu maka kamu akan menikahi anaknya dan apabila kamu menolak maka lupakan pernikahan dengan anaknya, saat ini kamu lah yang akan menentukan apa yang kamu pilih.

Dan akhirnya rizkan memilih untuk menerima syarat yang diajukan oleh kedua orang tua wanita yang akan dia nikahi, wanita itu bernama halimah seorang pemudi yang masih berusia 17 tahun dan juga baru lulus smu, wanita yang wajahnya tidak terlalu cantik, biasa saja tetapi semenjak kelas 5 SD ia sudah meminta untuk mengenakan jilbab oleh kedua orangtuanya, itulah yang membuat rizkan jatuh hati kepada hallimah, bukan dari wajahnya tetapi melainkan dari sikap,iman dan agamanya begitu kuat.

Dayung biduk rumah tangga, terkayuh, akhirnya pernikahan antara rizkan dan hallimah terlaksana dengan akad nikah yang ganjil tidak seperti lazimnya orang akad nikah biasa, setelah akad nikah rizkan pulang kerumahnya untuk menemui kedua orangtuanya disana rizkan menceritakan apa yang sudah dia sepakati dengan kedua orangtua hallimah, kedua orang tua rizkan sangat miskin bahkan waktu mendengarkan cerita rizkan kedua orangtuanya bereaksi sangat hebat, bukan marah atau jengkel krena anaknya diremehkan dan dilecehkan orang lain, tetapi justru jiwa kepahlawanan mereka seketika mengeliat, mereka memilih berada satu barisan dengan rizkan dan menantunya karena bagi mereka itulah cara mereka membela harga diri mereka sebagai orangtua. Orang tua rizka menitipkan sesuatu kepada rizkan dan menantunya yaitu perhiasan satu-satunya milik ibunya yang akan diserahkan kepada rizkan dan menantunya sambil berucap cuman ini yang bisa ayah bantu tapi kalian tidak bisa tinggal disini karena kalian lihat sendiri gimana keadaan rumah ini, mungkin dengan ini kalian bisa menyewa rumah untuk beberapa bulan dan selebihnya kalian harus berusaha sendiri. Ayah rizkan menangis, itulah pertama sekali rizkan melihat sang ayah meneteskan air mata, karena ayahnya tipikal orang yang keras sikapnya tegas, agak jauh dari sikap romantis tetapi kali ini ayahnya seperti membaca sebuah berita duka.

Uang yang diberikan ayahnya ternyata nyaris habis buat membayar kontrakan selama 2 bulan, dia hanya memegang uang sebanyak Rp.200.000,- dengan bermodal ijazah sma rizkan mencoba untuk melamar kerja, namun hasilnya masih belum sesuai harapan dan akhirnya rizkan teringat akan pesan nabi yaitu ” sembilan dari persepuluh pintu rezeki ada pada perdagangan ” berangkat dari pesan nabi rizkan berusaha untuk berdagang, tapi dia juga masih bingung mau berdaagang apa dengan modal yang tidak ada, akhirnya dia ketemu dengan seorang sahabat lamanya yang menawarkan untuk berjualan roti keliling dan akhirnya rizkan bersedia untuk berjualan roti keliling, 2 bulan pertama adalah hari-hari yang sangat sulit baginya dimana banyak persaingan yang tidak sehat dan juga banyak godaan yang harus dia hadapi, tetapi rizkan sangat sayang kepada hallimah disaat dia sangat dilanda kehausan dan lapar dia tidak pernah membeli minuman atau makanan dijalan karena rizkan kasihan membayangkan istrinya makan ala kadarnya dirumah ia ingin segala yang ia nikmati juga dinikmati oleh istrinya karena kebersamaan itu indah.

Setelah melalui hari-hari yang sangat sulit rizkan dan hallimah akhirnya bisa sedikit hidup dengan sedikit pendakian roti-roti jualan rizkan sudah mulai banyak yang laku terjual, bahkan dia sekarang sudah banyak waktu untuk dirumah dan mengikuti pengajian kepada ustad tersebut, namun semakin hidup dengan berkecukupan maka banyak juga godaan duniawi yang ia hadapi salah satunya ia harus berhadapan dengan seorang wanita yang nakal yang meminta rizkan untuk mnciumnya dan memaksanya apabila dia tidak mau maka wanita itu akan menjerit minta tolong seakan-akan rizkan ingin memperkosa wanita tersebut, tapi rizkan dengan sigap menampar wanita itu dan menolaknya sampai terjatuh seraya rizkan berlari dengan secepat kilat menghindari wanita itu.

Seiring berjalan waktu rizkan sudah menjadi pengusaha yang sukses dia sudah memiliki pabrik roti sendiri yang besar dan memiki banyak gerobak dan pegawainya untuk menjajakan roti hasil buatan pabrik rizkan, walaupun banyak halangan dan rintangan jatuh bangun rizkan dan usaha rotinya tetap bisa bangkit dan memiliki rumah dan mobil baru rizkan juga mengajak kedua orangtuanya untuk tinggal bersama mereka, mereka sudah hidup sangat berkecukupan namun orangtua hallimah juga belum dapat menerima karena waktu yang dijanjikan belum terpenuhi yaitu sepuluh tahun, dan kakak laki-laki hallimah yang dari awal sangat menolak pernikahan hallimah dan rizkan juga terus berusaha memisahkan hallimah dengan rizkan, bahkan dia pernah suatu hari mendatangi hallimah ketika rizkan tidak ada dirumah dan dia tetep berkeras meminta hallimah menceraikan dan menikah dengan salah satu anak pejabat yang dia dan keluarganya sudah kenal, kakak laki-laki hallimah ini bernama asryaf.

Sampai suatu malam yang sangat menyakitkan buat rizkan dan hallimah malam itu malam keduabelas, tahun kesepuluh, hari yang kedua puluh delapan itu berati 2 hari lagi final perjanjian itu akan berlangsung, usai mereka berpergian sekeluarga untuk berekreasi dan kembali pada pukul 21.00 rizkan dan keluarganya serta kedua orang tua rizkan yang juga turut serta berekerasi langsung tertidur karena terlalu letih, tiba-tiba mereka terbangun ketika mendear suara ricuh dan panas yang mengelilingi mereka, mereka tersdar bahwa api sudah melahap dapur dan pabrik roti mereka dengan sigap mereka berlari keluar, namun oraang tua rizkan masih berada di dalam kerumunan api, rizkan ingin masuk dalam kobaran api untuk menyelamatkan orang tuanya namun ditahan oleh masyarkat yang ada disekitar rumah rizkan, setelah api sedikit padam barulah beberpa orang pemuda masuk untuk menyelamatkan orang tua rizkan yang akhirnya bisa dikeluarkan namun sayang ayah rizkan tidak bisa terselamatkan dan meninggal dunia. Ibu rizkan langsung dilarikan kerumah sakit malam itu juga oleh masyrakat tanpa didampingi rizkan dan istrinya krena terlalu lemah dan jatuh pingsan.

Kesedihan dan cobaan rizkan tidak berhenti di situ saja, dipagi hari ketika ia menunggu ibunya di ruang ICU dia dipanggil oleh seorang perawat karena ada dua orang yang ingin bertemu dan bicara dengan rizkan, kedua orang itu tidak lain tidak bukan adalah kedua orangtua hallimah, terfikir oleh rizkan bahwa kedua mertuanya ini akan melihat anak dan cucu serta mertuanya tapi ternyata rizkan salah mengartikan kedatangan kedua mertuanya, maksud kedatangan mertua rizkan adalah untuk menuntut perjanjian rizkan, rizkan baru teringat hari ini adalah hari pas 10 tahun pernikahannya. Otomatis rizkan harus menceraikan hallimah istrinya, tetapi rizkan mencoba untuk tetap meminta keringanan oleh kedua orang tua hallimah, ” pak tapi kondisi kami sedang seperti ini, hallimah juga sedang shock, perceraian itu hanya membuatnya semakin shock dan sangat bersedih pasti ia sangat terpukul,” tetapi orangtua hallimah tetap berkeras ” saya tidak mau, janji harus ditepati ” ya sudah kalau itu kemauan dari bapak saya meminta waktu untuk bicara dengan hallimah sebentar, tutur rizkan, lalu rizkan memanggil hallimah untuk keluar dari ruang ICU karena takut menggangu ibunya rizkan yang sedang sakit, dan mereka mengambil ruang sudut dari rumah sakit, ” ada apa abuya? Rizkan diam tdak bisa menjawab, kenapa abuya? Bersabarlah adinda, ia abuya ada apa abuya? Semuanya sudah berakhir adinda, maksud abuya? Kamu masih ingat dengan perjanjianku dengan orangtuamu saat akad nikah kita dahulu, hallimah terdiam, dan menjerit histeris ia sangat menyesali sikap bapak nya yang begitu keras tak memiliki toleransi sedikitpun.

Sementara, beberapa saat halimah menangis dan rizkan sejenak menunda bicaranya, ia memberi kesempatan istrinya yang sebentar lagi berubah status menjadi janda itu, untuk melampiaskan kedukaan dan kesedihannya. Setelah sedikit mampu menguasai perasaannya meski tak mampu membendung kesedihan dan kepedihan hatinya, halimah berkata lembut ” lalu apa yang akan abuya lakukan ?”, ” kita harus menepati perjanjian itu halimah, sebagai orang beriman kita harus memenuhi janji dan menepati perjanjian yang kita buat dengan kerelaan hati.

” Jadi abuya setuju kita bercerai ? ” aku tidak menyukainya adinda, kalau disuruh memilih antara mati dan bercerai, kalau memang pilihan itu dibenarkan syariat, aku akan memilih mati saja, aku sudah teramat mencintaimu aku menyayangimu bukan hanya sekedar engkau isteriku, tapi karena selama ini kau telah menemaniku dalam susah dan senang, menemaniku berjuang dalam hidup, menemaniku untuk bertahan dalam ajaran syariat. ” apakah engkau akan bersabar, adinda ? ” insya allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar ” ungkap halimah, menyetir potongan ayat diatas, ucapan ismail terhadap ayahnya, ibrahim.

Halimah istriku ujar rizkan, dengan napas tercekat. ” ya abuya, kakanda suamiku Balas halimah, tak kalah pedihnya. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya allah yang mengetahuinya :SAYA MENALAQMU ADINDA” meski tabah, tapi mau tidak mau tangisan halimah meledak tak terbendung lagi, ia menangis terisak-isak ia tak pernah membayangkan bahwa kesetiaannya dengan suaminya akan berujung kepada kepedihan yang seperti ini.

Meski segalanya telah terjadi, meski ia harus berpisah dengan orang yang dia kasihi, namun masih sangat termotivasi untuk menunjukan kapasitas dirinya, ia ingin membuktikan bahwa allah tidak menelantarkan hambanya yang senantiasa taat kepadanya, saat kebakaran terjadi, kartu ATM milik rizkan ada dalam dompet, kebetulan dompet itu masih terselip di saku celana dan masih bisa diselamatkan uang yang tersisa di dalam ATM sebesar 35 juta, uang itu akan ia anggarkan untuk memulai lagi usaha roti dari nol.

Sepanjang rizkan berjuang untuk mengembalikan kehidupannya, halimah juga berjuang untuk menolak perjodohan yang disarankan oleh kedua orang tuanya, dengan berbagai cara dan alasan halimah menolak perjodohan yang dilakukan kedua orangtuanya sehingga orangtuanya merasa letih, dan puncaknya ketika halimah di vonis mengidap penyakit leukimia oleh dokter, orangtua halimah pun sadar dengan apa yang telah ia perbuat selama ini ternyata salah, ia pun berniat untuk menihkahkan kembali anaknya dengan rizkan, maka berkunjunglah keduaorangtua halimah kerumah rizkan untuk menanyakan apakah rizkan bersedia menihkah kembali dengan halimah.

Sesampai dirumah rizkan halimah dan keluarganya disambut baik oleh rizkan, mereka dibuatkan minum oleh rizkan, melihat itu semua halimah tersentuh hatinya yang dahulu dia yang membuatkan minum ketika ada tamu yang datang kerumah mereka, tapi saat ini dia harus melihat suaminya yang membuatkan minum untuk dia dan keluarganya.

Setelah mereka berbincang cukup lama maka sampailah mereka ke tujuan mereka hadir, orangtua halimah berkata kepada rizkan bahwa kedatangan mereka kerumah rizkan adalah untuk meminta rizkan menikah kembali dengan halimah, mendengar itu rizkan sangat senang dan langsung bersedia untuk menikahi halimah kembali, namun halimah menahan peryataan rizkan sejenak dan dia berkata abuya “apakah engkau yakin akan menikahiku lagi dengan keadaanku yang tidak sesempurna dahulu?” ia adinda aku bersedia dari dahulu sampe sekarang aku masih mencintaimu dengan tulus tidak memandang kekurangan dan kelebihanmu. Dengan itu semua menikahlah kembali rizkan dengan halimah dengan ijab seperti layaknya orang menikah tidak seperti saat mereka pertama menikah, setelah pernikahan mereka selesai tiba-tiba ada dua orang polisi datang untuk menanyakan keberadaan orang tua asraf dan mereka memberi tahukan bahwa asraf berada dikantor polisi dengan tuduhan sebagai pengedar narkoba di daerah mereka dan juga terduga sebagai dalang yang membuat rumah dan pabrik roti milik rizkan hancur dilalap api dan menewaskan ayah rizkan.

Dan akhirnya terbukti bahwa asraf terlibat sebagai otak dari terbakarnya pabrik dan rumah rizkan, asraf divonis hukuman seumur hidup namun rizkan memohon kepada pihak kepolisian agar hukuman rizkan diperingan namun ditolak oleh asraf karena dirinya sangat bersalah dan ingin menebus semua kesalahannya di dalam penjara sampai akhir hidupnya.

” Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan PPKn Unimed Dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Unimed “

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: