Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Langit Halilintar

…Dari Yogya, saya mengajak seluruh pria di dunia ini untuk berkata jujur, karena berkata apa selengkapnya

Teknik Pelukisan Tokoh Karya Fiksi (1)

REP | 12 July 2012 | 22:37 Dibaca: 765   Komentar: 21   11

Bermula dari rasa kesal kepada Admin,-lalu, saya membabi-buta membeli buku yang berhubungan dengan karya sastra-karena cerpen dan cermin tidak pernah nangkring di HL Kompasiana. Akhirnya, saya menyadari kelemahan tulisan-tulisan fiksi yang telah saya publish. Setelah dengan seksama dikaji, jujur, terlihat benar jika tulisan saya amburadul. Mulai dari pilihan tema cerita, pemplotan sampai pada penokohan. Alamak, kacau!!

Terpengaruh oleh slogan “Mari berdaya bareng-bareng” nya Faisal Basri, saya ingin berbagi. Siapa tahu, setelah membaca “Teknik Pelukisan Tokoh Karya Fiksi,” sahabat Kompasianer yang menulis fiksi menjadi bersemangat dan terinspirasi. Bersemangat membaca dan membaca lagi karya-karya yang berkaitan dengan sastra, lalu, terinspirasi untuk menulis dan menulis lagi karya-karya fiksi. Hingga, suatu ketika, kita semua yang belum merasakan nikmatnya nangkring di HL Kompasiana rubrik Fiksiana dapat paling tidak satu kali merasakan nikmatnya. Hehehehe

Secara teori, teknik pelukisan tokoh hanya ada dua, yaitu: teknik ekspositori dan teknik dramatik. Teknik ekspositori yang biasa juga disebut teknik analitis, melukiskan tokoh cerita dengan memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan dihadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya. Kutipan berikut merupakan contoh teknik ekspositori; pelukisan tokoh benama Suria, yang malas, sombong, dan berlagak.

Bapak yang masih duduk senang di atas kursi rotan itu jadi manteri di kabupaten di kantor patih Sumedang. Ia sudah lebih dari separuh baya-sudah masuk bilangan orang tua, tua umur-tetapi badannya masih muda rupanya. Bahkan hatinya pun sekali-kali belum boleh dikatakan “tua” lagi, jauh dari itu. Barang di mana ada keramaian di Sumedang atau di desa-desa yang tiada jauh benar dari kota itu, hampir selalu ia kelihatan. Istimewa dalam adat kawin, yang diramaikan dengan permainan seperti tari menari, tayuban, dan lain-lain, seakan-akan dialah yang menjadi tontonan! Sampai pagi mau ngibing, dengan tiada henti-hentinya. Hampir di dalam segala perkara ia hendak di atas dan terkemuka…. rupanya dan cakapnya. Memang ia pantang kerendahan, perkataannya pantang dipatahkan. Meskipun ia hanya berpangkat manteri kabupaten dan “semah” pula di negeri Sumedang, tetapi hidupnya tak dapat dikatakan berkekurangan. Rumahnya bagus, lebih daripada sederhana: perabotnya cukup, lebih banyak, lebih pantas daripada perkakas rumah amtenar yang sederajat dengan dia. Bahkan…..

(Katak Hendak Jadi Lembu, 1978: 12-3)

Sedangkan teknik dramatik terdiri dari beberapa jenis, yaitu: teknik cakapan; tingkah laku; pikiran dan perasaan; arus kesadaran; reaksi tokoh; reaksi tokoh lain; pelukisan latar, dan; pelukisan fisik.

Teknik cakapan, melalui percakapan tokoh-tokoh cerita, penulis menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan. Kutipan di bawah ini akan menggambarkan tokoh Teto (yang oleh Verbruggen dipanggil dengan sebutan akrab: Leo) mempunyai sifat pemberani, tidak penakut, barangkali juga keras kepala, untuk mempertahankan kebenaran dirinya, sekalipun ia berhadapan dengan komandan militernya. Ia juga bersifat setia kepada orang lain, mau membela nama baik dan kehormatan orang lain yang dicintainnya itu, bahkan untuk itu ia mau berkorban nyawa.

“Tetapi mayoor… perkenankanlah aku menguraikan duduk perkaranya.”

“Saya tidak tertarik pada segala uraianmu, anak muda. Yang jelas ini: Nona…. siapa tadi (ia melihat lagi ke dalam map tadi). Laras-ati adalah salah seorang anggota sekretariat itu si perdana menteri amatir Sutan Syahrir. Dan rumahnya di Kramat IV, persis di dalam rumah yang sering kau kunjungi. Jadi… jadi apa kelinci kecil? Jadi setiap orang yang normal dalam situasi perang pasti akan menaruh syak kepada siapa pun yang tanpa mendapat perintah keluyuran sendirian ke satu alamat yang ia rahasiakan.”

“Tetapi aku bukan orang republik. Soalku dengan gadis itu hanyalah pribadi saja. Keluarga merekalah yang menolong kami dalam pendudukan Jepang.” (Mayoor Verbruggen tertawa keras dan ironis).

“Hahaaaa, ini dia: hanya kenalan biasa. Mana ada orang yang punya susu susu montok kok kenalan biasa. Tentu montok pasti gadismu. Apalagi anunya… lalu.”

“Diam!” potongku “Kau di sini sebagai komandan militer. Bukan komandan urusan pribadi.”

“Hei, hei tenang-tenang.” (Tetapi aku terlanjur naik pitam)

“Kau boleh menembak aku ebagai mata-mata, tetapi memperolokkan gadis satu ini kularang. Kularang!”

“Tenang tenang… sudah…”

“Aku tidak rela kalau… (tetapi Verbruggen berganti berteriak dan gelas-gelas jatuh dalam gempa pukulan kepalannya pada meja).

“Diam! Berdiri tegak, kau kelinci, di muka komandan di medan perang.”

………………………………………………………………………………………..

“… Leo, kepercayaanku kepadamu tidak berkurang hanya karena laporan-laporan dan nota dari pihak Intel. Tetapi kau harus berhati-hati, anak muda! Hati-hati. Ini bukan perang biasa dengan lindungan hukum militer dan hukum internasional segala. Ini bandit melawan bandit, tahu! Kalau ada apa-apanya, bilang pada saya. Mari ambil botol jenewer dan dua gelas sloki di dalam almari itu. Saya ingin main catur. Tidak ada gunannya kita saling bersitegang.”

(Burung-burung Manyar, 1981: 70-1)

*Di shering dari buku “Teori Pengkajian Fiksi,” karya Dr. Burhan Nurgiyantoro: 1995. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 9 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 16 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 17 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: