Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Langit Halilintar

…Dari Yogya, saya mengajak seluruh pria di dunia ini untuk berkata jujur, karena berkata apa selengkapnya

Teknik Pelukisan Tokoh Karya Fiksi (2)

REP | 13 July 2012 | 17:49 Dibaca: 288   Komentar: 6   3

Baca juga Teknik Pelukisan Tokoh Karya Fiksi (1) di sini

Teknik tingkah laku, menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik. Tokoh diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku, dalam banyak hal dapat dipandang sebagai menunjukkan reaksi, tanggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya. Kadang-kadang pelukisan tindakan dan tingkah laku tokoh dibuat bersifat netral, kurang terlalu menggambarkan sifat kediriannya, ia terlihat tersamar sekali.

Kutipan di bawah ini akan memberikan informasi tambahan tentang kedirian Teto. Teto yang pada dasarnya seorang sentimentalis, romantis, merasa terikat dan terpengaruh masa lalu, kenangan masa lalu. Ia juga seorang yang bertanggung jawab, walaupun dalam hal itu, masih dalam kaitannya dengan sifat kesentimentalannya.

Sudah lima kali ini aku ke Kramat dan masuk menyelinap masuk pintu dapur. Sesudah kunjungan yang kedua kali pintu dapur kukunci cermat. Tetapi surat Atik belum kujawab. Aku takut. Kunci masih terletak di dalam lubang dinding seperti ada dahulu. Seorang diri aku datang, dalam waktu istirahat bebas dinas. Untuk ketiga kalinya. Hanya untuk duduk-duduk saja di serambi belakang. Dan melamun. Sebab sesudah segala peristiwa yang menimpa diriku, aku semakin benci bertemu orang. Hanya dengan Mayoor Verbruggen aku masih dapat berdialog. Sebab bagaimanapun, dengan mayoor petualang itu aku masih mempunyai ikatan intim dengan masa lampauku.

Bangkai-bangkai burung kesayangan Atik telah kuambil, kukubur dengan segala dedikasi. Kurungan-kurungan telah kubersihkan. Dan sayu aku teringat, betapa sayang si Atik kepada burung-burungnya.

(Burung-burung Manyar, 1981: 75)

Teknik pikiran dan perasaan, pelukisan melalui apa yang melintas di dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang (sering) dipikir dan dirasakan oleh tokoh, dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kedirian tokohnya. Bahkan, pada hakikatnya, “tingkah laku” pikiran dan perasaanlah yang kemudian diejawantahkan menjadi tingkah laku verbal dan nonverbal. Walaupun, terkadang, pikiran dan perasaan tokoh dilukiskan hanya sebatas pikiran dan perasaannya saja, tidak dikonkretkan dalam bentuk tindakan dan kata-kata.

Kutipan pertama. Sebetulnya ini perang gila. Sesudah setengah jam merangkak dan lari dan merangkak lagi, aku sudah mengambil kesimpulan, bahwa sebetulnya kami bisa saja mengambil jip dan langsung pergi ke Tugu, terus belok ke kiri ke Malioboro. Jus! Masuk ke istana gubernur Belanda yang sekarang dipakai oleh Soekarno. Aku yakin bahwa tentara Republik sudah lari semua dan untuk apa kita menghambur-hamburkan peluru dan waktu. Jangan-jangan Soekarno lalu cukup punya waktu untuk lari ke pedalaman, malah susah ganda nanti. Aku meradiokan pandanganku itu kepada Letkol Verbruggen, supaya dia mengusulkan kepada Kolonel van Langen agar langsung saja memakai jip mendobrak istana Soekarno…. Kaum Militaire Luchtvaart harus belajar dari pasukan udara Republik perihal kenekatan. Mosok perang harus semua sempurna.

(Burung-burung Manyar, 1981: 106)

Kutipan kedua. “Bu, Tun bukan perawan lagi.”

Sri diam menatap anaknya. Aneh sekali. Pada perasaannya Sri mulutnya ada mengatakan “Gusti, nyuwun ngapura,” tetapi kenapa tidak terdengar, pikir Sri. Tahu-tahu ia hanya mengelus kepala anaknya. Sri ingat peringatan orang-orang tua Jawa yang sering mengatakan bahwa dalam satu tempat pengeraman pasti akan ada satu atau dua telur yang rusak. Tetapi bila dalam tempat pengeraman itu hanya ada satu telur dan rusak juga bagaimana? Di dalam hati dia menggelengkan kepala. Tangannya terus mengelus anaknya, sedangkan hatinya masih terus mencoba menghayati kejadian itu.

(Sri Sumarah dan Bawuk, 1975: 26-7)

Pembaca yang baik tentu akan dapat menafsirkan sifat kedirian tokoh yang dilukiskan jalan pikiran dan perasaannya di atas. Tokoh “Aku”, Teto, dalam kutipan pertama terlihat sebagai tentara yang masih kurang sabar walau masih mempunyai perhitungan. Namun, berbeda halnya dengan perhitungan Verbruggen, perhitungan Teto pun menunjukkan sifat kekurangsabarannya. Sedangkan, pada kutipan kedua, kita melihat sikap Sri yang tetap sumarah walau menghadapi peristiwa yang tidak terduga, dan perasaan cintanya pada Tun, anaknya, yang hanya semata wayang.

*Di shering dari buku “Teori Pengkajian Fiksi,” karya Dr. Burhan Nurgiyantoro: 1995. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Usul Mengatasi Kemacetan dengan “Kiss …

Isk_harun | | 21 September 2014 | 17:45

Menuju Era Pembelajaran Digital, Ini Pesan …

Nisa | | 21 September 2014 | 22:44

RUU Pilkada, Polemik Duel Kepentingan (Seri …

Prima Sp Vardhana | | 21 September 2014 | 23:11

Cerita Unik 470 Kata, Seluruh Kata Diawali …

Saut Donatus | | 22 September 2014 | 07:54

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 4 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 5 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya yang Berjalan Cepat, Atau Mahasiswa …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Membaca Konsep Revolusi Mental Gagasan …

Ahmad Faisal | 7 jam lalu

Konstitusionalitas Pemilukada: Paradoks …

Armansyah Arman | 7 jam lalu

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: