Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Adinda Suci Rahayu

Alumnus Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Tulisan-tulisan saya yang lain dapat juga dibaca selengkapnya

Resensi Buku: Berjuta Rasanya

OPINI | 09 August 2012 | 09:29 Dibaca: 2855   Komentar: 4   1

1344485356466774574

Berjuta Rasanya

Oleh Tere Liye

Penerbit Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)

Cetakan IV, Agustus 2012

Tebal vi + 205 halaman

ISBN 978-602-9474-03-9

Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Benarkah demikian? Setidaknya, begitulah ‘rasa’ dari berbagai cerita yang ditawarkan Tere Liye dalam buku kumpulan cerpen ini.

Berjuta Rasanya terdiri atas 15 cerpen dengan satu benang merah: cinta. Masing-masing kisah tersebut memiliki ‘rasa’-nya sendiri. Ada kisah tentang sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, kisah cinta yang dapat mengubah tabiat buruk seseorang, hingga kisah tentang seseorang yang rela mengorbankan dirinya sendiri atas nama cinta.

Buku ini dibuka dengan cerpen ‘Bila Semua Wanita Cantik’ yang berkisah tentang Vin, yang menganggap bahwa tubuh tambunnyalah yang membuatnya sulit mendapat jodoh. Ia kerap berdoa pada Tuhan agar membuatnya menjadi cantik, atau jika tidak, ia ingin Tuhan membuat seluruh wanita di dunia ini sejelek dirinya. Namun, jawaban Tuhan sungguh di luar dugaan Vin. Jawaban-Nya atas doa tersebut membuat Vin tersadar, bahwa cinta sejati adalah cinta yang berasal dari hati.


“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.” (hlm. 26)

Cerpen selanjutnya, ‘Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku’, adalah cerpen yang kocak dan saya rasa, kita semua pernah mengalaminya ketika masih remaja. Berkisah tentang Putri, yang sering merasa ge-er (gede rasa) setiap kali Rio, pemuda yang ia sukai, menatapnya, melambaikan tangan padanya, atau sekadar berbasa-basi dengannya. Lama-lama tabiat Putri ini pun membuat sahabatnya jengkel. Padahal, ia hanya ditipu oleh perasaannya sendiri. Aslinya? Apa mau dikata, mereka bertepuk sebelah tangan!


“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?” (hlm. 28)

Kemudian, terdapat kisah tentang seorang istri yang rela berkorban demi kesembuhan suaminya, walaupun pada akhirnya sang suami berpaling pada wanita lain, di cerpen ‘Kupu-Kupu Monarch’. Ada pula kisah mengenai seorang pemuda dan gadis yang diam-diam saling mencintai, tetapi mereka tidak berani mengutarakan perasaannya masing-masing, di cerpen ‘Antara Kau dan Aku’. Dan masih banyak kisah lain yang berjuta rasanya.

Membaca kumpulan cerpen ini rasanya seperti membaca ‘curhatan’ sang penulis. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, hingga menyindir. Masing-masing cerpen memiliki ‘rasa’ dan kesan tersendiri. Ditambah lagi, buku ini minim typo, sehingga nyaman sekali saat membacanya.

Namun, jika dibandingkan dengan karya Tere Liye yang lain, Berjuta Rasanya terasa kurang nendang. Penokohan, konflik, alur, serta hal-hal lain dalam tiap cerpen sepertinya masih dapat digali lebih dalam dan dijadikan satu buku sendiri (he he). Selain itu, masih ada satu cerpen yang tidak saya pahami sampai sekarang, yaitu ‘Kotak-Kotak Kehidupan Andrei’. Jika ada kawan Kompasianer yang sudah membaca dan paham maksudnya, mohon beri tahu saya, ya!

Meskipun demikian, rasanya sayang bila melewatkan buku ini begitu saja. Apalagi jika kamu memang penggemar karya-karyanya Tere Liye. This book is definitely worth reading.

~~~

Biasanya, saya suka membaca buku sambil mendengarkan musik. Suasana membaca jadi tambah seru, terutama jika lagu-lagu tersebut tepat menggambarkan isi cerita di buku yang saya baca. 

Nah, berikut adalah beberapa lagu yang saya dengarkan saat membaca Berjuta Rasanya:

1. Pieces oleh Sum 41 (di cerpen ‘Bila Semua Wanita Cantik’)

“I tried to be perfect but nothing was worth it. I don’t believe it makes me real…”

2. Break Your Little Heart oleh All Time Low (di cerpen ‘Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku’)

“I’m gonna break your little heart, watch you take the fall, laughing all the way to the hospital. ‘Cause there’s nothing surgery can do, when I break your little heart in two.”

3. Star-crossed oleh Ash (di cerpen ‘Mimpi-Mimpi Laila Majnun’)

“Girl, we’re star-crossed and can’t escape. We’re condemned and can only wait. At this time now it’s far too late, to save us from our fate.”

4. Endlessly oleh Muse (di cerpen ‘Kupu-Kupu Monarch’)

“Hopellessly, I’ll love you endlessly. Hopelessly, I’ll give you everything. But I won’t give you up, I won’t bring you down, and I won’t leave you falling. But the moment never comes.”

5. Carnival oleh The Cardigans (di cerpen ‘Antara Kau dan Aku’)

“I will never know ‘cause you will never show. Come on and love me now, come on and love me now.”

(Adinda)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Terima Kasih Juga Untuk Ibu Ani Yudhoyono …

Gapey Sandy | | 20 October 2014 | 13:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Gajimu Bukan Segala-galanya …

Jazz Muhammad | | 20 October 2014 | 13:41

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Dilantik, Bye-bye Skandal Pajak BCA …

Amarul Pradana | 6 jam lalu

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 9 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 11 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 9 jam lalu

Tanpa Disangka Sangka Teman Saya Memberikan …

Taufiq Rilhardin | 10 jam lalu

Peringatan Awal Anas Urbaningrum untuk …

Jblues | 10 jam lalu

Demokrasi dalam Cangkir Kopi …

Fery Nurdiansyah | 10 jam lalu

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: