Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Khoirul Anwar

Belajar di UIN Yogyakarta

Qur’an Sebagai Landasan Filosofis Pendidikan Islam

OPINI | 03 September 2012 | 17:38 Dibaca: 1255   Komentar: 0   0

13466504271845650862

Sumber Gambar: dokumentasi kaha anwar

Apakah ada kaitannya Al-Quran dengan lembaga pendidikan Islam? Secara sederhana tentu jawabannya sangat ada, bahkan sangat erat sekali hubungannya. Mengingat namanya saja lembaga pendidikan Islam, mau tak mau pasti ada kaitannya. Hanya saja, dalam kerangka apa Al-Quran itu di letakkan dalam lembaga pendidikan Islam itu sendiri? Apakah sebagai pelajaran yang fungsinya hanya sebagai pembeda dengan sekolah umum dan non-Islam? Jika proses peletakannya sebatas demikian, maka tak ubahnya Al-Quran hanya sebagai faktor pembeda saja. Al-Quran hanya sebagai simbol-simbol yang kehilangan makna bagi lembaga pendidikan Islam. Kita mengingankan lebih jauh, lebih bermakna.

Al-Quran itu memang bertemakan pendidikan dan itu bisa dibaca dari ayat-ayatnya. Entah itu dirasa dari cerita-ceritanya, larangannya, perintahnya atau apa saja yang termuat di dalamnya. Hanya saja bagaimana pembaca mampu menangkap isinya kemudian mengaktualisasikannya. Tanpa krentek pembacanya maka Al-Quran hanya akan menjadi bahan bacaan dan tulisan saja.

Lantas apa hubungannya dengan lembaga pendidikan Islam atau pendidikan Islam itu sendiri? Seperti yang sudah di sampaikan pada paragraf pertama, hubungan antara Al-Quran dengan pendidikan Islam sangat berkaitan. Keterkaitan itu bukan sebatas simbol yang menjadi faktor pembeda melainkan lebih pada tataran konsep, landasan gerak maju pendidikan Islam.

Menilik sejarah pendidikan Islam di Nusantara tentunya kita akan ingat bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan lembaga pendidikan yang pertama berdiri sebelum Indonesia lahir. Pondok pesantren, dan nama lain darinya merupakan potret jika lembaga pendidikan Islam punya andil dalam pencerdasan bangsa Indonesia. tentunya ini menjadi satu kebanggaan yang patut diteruskan dan diperbaiki supaya pendidikan Islam terus dapat menyumbangkan perannya dalam menciptakan kemerdekaan yang notabenenya kemerdekaan itu tak pernah berhenti hanya pada momentum ’45.

Model, landasan serta tipe lembaga pendidikan Islam harus selaras dengan kebutuhan bangsa Indonesia yang terus mengalami pergerakan seiring waktu dan momentum sejarah yang berlaku. Dewasa ini, ada semacam kehilangan kepercayaan diri bagi lembaga pendidikan Islam sebagai salah satu institusi pendidikan di Indonesia. lembaga pendidikan Islam selalu dikaitkan dengan masalah agama, masalah abatasa, sebatas membaca Al-Quran, sebatas pengajaran hukum-hukum agama. Sedangkan masalah sains, ilmu umum kurang begitu dipercaya. Inilah permasalahan mendasar bagi pendidikan Islam dewasa ini. Lebih lanjut, pendidikan Islam memang harus menjadi lembaga research, peneliti. Entah itu dalam masalah agama, masalah sosial, masalah sains dan teknologi.

Lembaga pendidikan Islam mempunyai peran ganda bahkan berlipat-lipat bagi proses pendidikan di Nusantara ini. Bukan sebatas mengajarkan agama atau karena kesengsem dengan trend pendidikan sekarang yang getol mengajarkan ketrampilan teknologi sains lantas berbondong-bondong beralih haluan. Lembaga pendidikan Islam harus tetap tampil sebagai pengisi keduanya. Mengingat lembaga Islam sebagai salah satu penjaga moral, penjaga budi pekerti sekaligus manusia yang tak gagap dengan teknologi dan informasi.

Menyigi permasalah pendidikan sekarang dengan segenap fenomenanya, ada semacam ketertatihan dalam mengajarkan moral atau greget berteknologi. Imbasnya, jika salah satu jomplang, yang kita temukan adalah murid-murid ‘semu’ atau malah berat sebelah. Yang beragama terlalu cenderung keagamaannya, yang mengarah kefanatikannya dan gagap berteknologi yang berujung mensemukan teknologi yang dianggap tidak sejalan dengan agama. Sedangkan yang getol mengajarkan teknologi terkadang lupa dengan peran moral, sehingga yang kita temukan bak institusi pelatihan manusia-manusia mesin.

Pembelajaran harus diseimbangkan. Harus ditata sehingga kelak para murid ketika kembali pada “habitatnya” tidak lagi gagap keduanya. Dengan kata lain pendidikan memang sebagai lembaga yang menggedor pintu kefitrahan manusia. Ini tidak mudah, tetapi usaha ke arah itu harus selalu diusahakan, jika kita memang menginginkan kehidupan berbangsa ini tidak terkoyak oleh keduanya.

Nah, bagaimana dengan lembaga pendidikan Islam? Apa yang bisa menjadi rujukan untuk ke arah tersebut? “kembali kepada Al-Qur’an!” itu jawabannya. Ini bukan semacam nostalgia atau hanya sebatas wacana untuk gaya-gayaan. Sebatas pada simbol saja. Kembali pada Al-Quran bukan lantas dibuktikan murid-murid hanya disuruh mengaji tiap pagi, menenteng kitab suci tiap pagi dan sore saja. Lebih dari itu, Al-Quran harus menjadi inspirator, menjadi ruh yang menggerakkan muridnya.

Jika Al-Quran hanya diperlakukan sebatas bacaan maka tak bedanya Al-Quran yang menjadi pajangan di rumah-rumah. Hanya di baca kemudian di letakkan kembali. Al-Quran harus di “baca” dan korek kandungannya. Al-Quran memang bukan buku ilmiah yang berisi rumus-rumus matematika, fisika, kimia, biologi, teorema-teorema ekonomi, sosial, budaya atau yang lain. Tetapi, di dalam Al-Quran ada dasar-dasar untuk keilmuan. Tugas pembaca adalah menemukan formula-formula tersebut.

Di antara fungsi al-Quran adalah sebagai petunjuk (huda), penerang jalan hidup (bayyinat), pembeda antara yang benar dan yang salah (furqon), penyembuh penyakit hati (syifa’), nasihat atau petuah (mau’izah) dan sumber informasi (bayan). Sebagai sumber informasi Al-Quran mengajarkan banyak hal kepada manusia: dari persolan keyakinan, moral, prinsip-prinsip ibadah dan muamalah sampai kepada asas-asas ilmu pengetahuan. Mengenai ilmu pengetahuan, Al-Quran memberikan wawasan dan motovasi kepada manusia untuk memperhatikan alam sebagai manifestasi kekuasaan Allah. Dari hasil pengkajian dan penelitian fenomena alam kemudian melahirkan ilmu pengetahuan.

Ketika daya nalar manusia digunakan oleh manusia menggali dan menganalisis berbagai nilai kosmologi dalam Al-Quran maka akan ditemukan beberapa fenomena alam semesta yang unik dan ajaib. Dapat dipastikan bahwa kemampuan nalar manusia untuk menelusuri kebesaran Allah SWT melalui penggalian terhadapa mikrokosmos dan makrokosmos tidak akan sempurna. Kosmologi atau alam semesta adalah ciptaan Allah yang hak dan eksistensinya sama dengan ciptaan makhluk lainnya. Di sisi lain manusia diwajibkan memperlajari berbagai gejala alam yang bersifat kosmosm sebagai unugerah al-Khalik bagi kehidupan manusia. Korelasi antara wahyu dengan alam semesta adalah ibarat antara bentuk (form) dengan jirim (matter) atau bahan. Dalam teori hylomorphisme Aristoteles dinyatakan bahwa, wahyu dalam aspek pernyataan merupakan bentuk, pola (form) dan struktul akal atau fisikal manusia sebagai komponen alam semesta sebagai jiram atau bahan (matter).

Nah, buku yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar ini merupakan usaha untuk menggali dan menjalin pertalian antara wahyu dan struktul akal yang kemudian dapat diaktualisasikan dalam landasan filosofis lembaga pendidikan Islam. Buku ini berusaha mengulas kajian Al-Quran sebagai landasan sistem pendidikan Islam yang mempertagas kembali bahwa pendidikan agama di Indonesia seyogyanya jangan sampai meninggalkan landasan filosofis yang mendasari suatu pendidikan dalam Islam. Sitem Pendidikan Qur’ani adalah membina da menuntun masyarakat pencerdesan spiritual dan kecerdasan intelegensia.

Beliau tidak hanya menyodorkan tema-tema Al-Quran dalam kontekstualisasinya dengan lembaga pendidikan. Namun, juga menganalisa berbagai tantangan dan hambatan yang sedang di alami oleh lembaga pendidikan Islam di Tanah Air. Dalam menyikapi modernitas, yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan Islam tidak terbatas pada menilik kembali pada rujukan utamanya, melainkan juga dihadapkan pada paradigma yang tepat untuk diterapkan, masalah trend otonomi daerah dan lebih lagi pada masalah sumber dana.

Berkaitan dengan paradigma, Beliau menyoroti bahwa yang dibutuhkan bukanlah suatu kontruksi ideal tanpa dasar atau suatu “academic axecise” belaka tetapi haruslah merupakan suatu yang bersumber dari Al-Quran. Paradigma itu harus mempertimbangkan hal yang esensial dengan pengembangan mutu akademik, kualitas lulusan, komitmen keilmuan serta dilandaskan pada prinsip-prinsip dsar pendidikan Islam.

Masalah lainnya adalah sumber dana. Melihat perkembangan dan kondisi lembaga pendidikan Islam, khususnya yang paling dasar (Madrasah Ibtidaiyah/MI) sangat mengenaskan. Banyak berdiri MI swasta di pelosok-pelosok yang kondisi perlu perhatian serius. Keterbatasan yang dialami bukan hanya pada gedung, fasilitas tetapi juga tunjangan para pengajarnya.

Mengatasi hal tersebut, menurut Beliau, adalah pemanfaatan potensi zakat dan wakaf. Keduanya merupakan potensi yang signifikan dalam mensukseskan pembiayaan pendidikan pendidikan Islam. Hanya saja perlu tata kelola, kebijakan masalah zakat dan wakaf yang lebih baik dan mapan. Supaya penyalurannya tepat sasara dan tidak menumpuk di intitusi tertentu, lembaga tertentu.

Buku ini menarik untuk dikaji sebab banyak permasalahan yang membelit di institusi pendidikan Islam. Sekali lagi, permasalahan itu tidak terbatas pada dana, tetapi paradigma yang kelak mempengaruhi kualitas lulusannya.

Judul buku : Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam

Penulis : Said Agil Husin Al-Munawar

Penerbit : Ciputat Press

Tahun terbit : November 2003

Tebal : xxiii + 376 halaman

ISBN : 979-3245-07-7

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 6 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: