Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Ummie S. Wahiuney

Seseorang yang masih belajar merangkak dan ingin berjalan untuk membuka mata. dunia.

[Esai] “Look! New York” (Cerpen pasca 11 September 2001)

REP | 12 September 2012 | 00:44 Dibaca: 359   Komentar: 6   4

[Esai] Look! New York
(Cerpen pasca 11 September 2001)

Gambar sampul Look! New York

Gambar sampul Look! New York

Kumpulan Cerpen: Look! New York
Judul Cerpen: Look! New York
Pengarang: Fazil Abdullah
Gema Insani Press, 2005
144 halaman (65-78)

“Betapa rasa percaya begitu tipis adanya. Hanya kecurigaan dan tampang bengis yang muncul diwajah kotanya. Bahkan, kebaikan pun perlu dipertanyakan dan diinterogasi. Namun, dalam tiap kekelaman, tetap ada kebeningan nurani.” (Fazil Abdullah, Look! New York)

Perbedaan beragama bukanlah hal yang begitu berarti dalam kehidupan bersosialisasi. Toh, pada dasarnya setiap agama mempunyai Tuhan yang ia sembah serta menjanjikan sebuah surga bagi pemeluknya, kelak. Meski jalan yang ditempuhnya berbeda-beda, namun tujuannya tetap sama. Salah satu jalannya misalnya agama Islam yang dikenalkan oleh Nabi Muhammad saw atas firman-firman Allah swt dalam Al-Quran.

Belakangan, nama baik Islam mulai tercoreng dengan berbagai tindak kekerasan, seperti halnya kejadian Bom Bali, bom di Polres Cirebon, dan tindak terorisme lainnya yang menambah deretan citra buruk di mata publik. Begitu juga peristiwa yang terjadi belum lama ini, yaitu bom di Gereja Protestan Solo yang menewaskan beberapa orang jemaahnya. Entah apa dibalik semua ini? Entah ada unsur propokasi atau apa, yang jelas hal ini sangatlah merugikan orang muslim yang tidak tahu-menahu atas tuduhan yang mereka terima.

Sampai sekarang, banyak aktivis Islam terus berupaya memulihan nama baik Islam digalakan melalui sosialisasi ke masyarakat atau ke media, baik secara lisan, atau pun melalui karya sastra. Dan realitanya tidak sedikit sastrawan yang memuat kehidupan Islam dengan berbagai citra buruk yang disandangnya dalam tulisannya. Sebuah kehidupan yang merupakan dampak sebuah judgement yang terlalu cepat dan riskan yang dialami suatu kaum. Dalam sebuah cerpen yang berjudul “Look! New York”, Fazil Abdullah menceritakan tokoh (Mr. Heri), seorang mahasiswa muslim asal Indonesia yang tinggal di New York. tokoh Heri nyaris divonis bersalah saat menolong seorang anak yang tidak ia kenal. Sayangnya tindakannya itu tidak dibenarkan.

Nilai moral karya Fazil Abdullah cukup banyak saya temukan, Misalnya, pada saat tokoh Heri berniat menolong seorang anak (Clark) tetapi dicurigai berbuat cabul tehadap tokoh Clark yang mengeluh pantatnya kesakitan, benar saja terbukti pada lubang anusnya yang ada kemerahan. dan kemudian Heri terpaksa harus berhubungan dengan polisi di negeri orang. Siapa yang mau mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan? Disaat rasa percaya mulai diragukan, dan siapakah yang akan mengetahui serta meyakini kebenaran yang sesungguhnya? Bahkan ketika seseorang berbuat baik pun, berjuta kecurigaan mulai bermuculan dan was-was akan keselamatan dirinya.

Kehidupan kota metropolitan dunia seperti di New York sarat akan individualisme. Satu sama lain kurang bersosialisasi bahkan tidak saling mengnal orang-orang disekitarnya. Entah apa penyebabnya dalam Look! New York, dilihat dari segi moral tokoh Clark seringkali mendapat perlakuan buruk dan dilecehkan oleh kakak kelas di sekolahnyanya. Bahkan ia tidak punya teman setelah ditinggalkan temannya yang tidak tahan ikutan diganggu jika terus berteman dengan Clark.

Menyinggung hal di atas, saya menyimpan sederet pertanyaan. “Kakak kelas seperti apa yang berani melakukan keji itu terhadap anak berusia 10 tahun? Bagaimana pergaulan kakak kelas itu ketika diluar sekolah? dan apakah pengetahuan seks di Amerika mulai merambah sejak usia dini. Sehingga di lapangn, terjadi penyimpangan dan salah kaprah pada sikap juga tingkah laku anak itu?”, Sayangnya dalam cerpen ini saya sama sekali tidak menemukan jawabannya. Dan apa yang menimpa tokoh Clark tidak seharusnya terjadi. Karena hal ini dapat mengganggu psikologis dan mental anak dimasa selanjutnya, terlebih anak dibawah umur seperti tokoh Clark ini, perjalanan hidupnya masih amat panjang.

Mengetahui kehidupan sosial di Amerika dalam Look! New York,  Fazil Abdullah menuliskan pertanyakan pribadi tokoh, yang saya garis bawahi “Apakah di New York menolong seseorang adalah suatu kesalahan?” dengan kata lain, orang yang tidak memiliki hubungan apapun tidak behak saling tolong-menolong. Krisis rasa percaya menjadi salah satu faktor terjadinya individualisme yang kental. Apalagi terhadap umat beragama, khususnya Islam yang sempat menjadi topik yang dikait-kaitkan dengan sejumlah aksi terorisme. Sehingga mereka memandang Islam saat itu sebagai momok di Amerika.

Gedung kembar WTC New York

Gedung kembar WTC New York

Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggunakan pendekatan historis tentang peristiwa 11 tahun yang lalu, tepatnya 11 September 2001. Runtuhnya gedung kembar WTC di New York. Gedung kemabar yang merupakan ikon Amerika Serikat itu runtuh oleh pesawat komersial yang dibajak teroris. Hal itu banyak dikecam oleh berbagai pihak, terutama masyarakat di Amerika. Sejak saat itu pemerintah Amerika dengan gencar mengusung misi memberantas segala bentuk terorisme. Sayangnya yang diklaim teroris adalah orang muslim.

Islam di Amerika sempat terpojokkan oleh orang-orang yang menghakimi bahwa Islam itu agamanya teroris, dampaknya keberadaan Islam di Amerika kurang diterima. Tak heran jika keadaan ini pun terus berlanjut dan memaksa sebagian besar umat muslim di Amerika enggan mengakui identitasnya sebagai orang Islam demi keselamatannya. Jika tidak, maka khidupannya akan terus dibayangi dan di-judgeburuk dan dipandang sebelah mata.

Terang saja pertolongan yang diberikan tokoh Heri dalam Look! New York, tidak mudah diterima begitu saja, apalagi pasca tragedi gedung kembar WTC yang menorehkan luka dihati penduduk Amerika. Bahkan ketika tokoh Heri diinterogasi, masalah agama pun tak lepas dari deretan pertanyaan yang diajukan polisi. Hal ini menunjukan bahwa kedudukan agama Islam di sana benar-benar genting pada saat itu.

Dalam tulisan Fazil ini, saya menauladani sosok Mr. Syarif (polisi yang mengintrogasi tokoh Heri), ia adalah seorang mualaf yang amat menjalankan, ia tak membedakan.

Melalui karyanya Fazil Abdullah menegaskan bahwa Islam itu bukanlah agama yang keras, yang patut diwaspadai bahkan dicurigai. Sebaliknya Islam itu lembut dan jauh dari hal negatif semacam terorisme. Dalam Islam tidak mengenal kata dendam atas masalah yang menimpanya dan selalu memetik hikmah dibalik masalah, sesuai firman Allah dalam Al-Quran, dibalik kesusahan tersimpan hikmah. Ketabahan dan kesabaran tokoh Heri berhasil membuka mata orang-orang disekitarnya bahwa Islam itu indah dan jauh dari kata terorisme yang di tuduhkan

esay

Ummie S. Wahiuney

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: