Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Suka Ngeblog

Blogger, writer dan 'ghost writer' (pernah terlibat dalam penulisan buku tentang Gita Wirjawan serta Joko selengkapnya

Menulis Buku: Fiksi atau Non Fiksi?

OPINI | 16 November 2012 | 09:53 Dibaca: 1837   Komentar: 10   3

13530338922022135635

Cover buku biografi Andy Williams (foto: dok. pribadi)

SEBERAPA sulitkah menulis buku itu? Ini pertanyaan yang penah diajukan seorang teman. Kalau dari pengalaman pribadi, menulis buku itu tak terlalu sukar. Bagi saya, yang sukar adalah menyediakan waktu yang cukup. Karena jika sudah membuat buku, waktu 24 jam rasanya tidak cukup.

Jika saat ini Anda ingin membuat atau menulis buku, langkah awal yang dianjurkan adalah, tulislah topik yang disukai. Atau, tulislah topik yang dikuasai. Menulis buku dengan tema yang disukai akan membuat kita enjoy. Nulisnya enak. Menulis tidak terasa sebagai pekerjaan karena kita menuliskan hal yang disukai.

Jadi jika kita menyukai teknologi, maka menulis buku bertema teknologi bisa dijadikan pilihan. Jika kita menyukai kisah fiksi bertema cinta, maka menulis novel bertema cinta merupakan pilihan logis.

Menulis topik yang dikuasai juga akan memudahkan kita menerjemahkan ide menjadi kata-kata. Seorang dokter pasti tak akan menemui kesulitan membuat buku bertema medis, atau yang berisi pengalaman pribadinya dengan pasien. Seorang pendidik tentu tak akan kesulitan membuat buku yang bertutur tentang kurikulum, misalnya.

Non Fiksi atau Fiksi?

Setelah menentukan topik apa yang disukai, pertanyaan lanjutan yang perlu dijawab adalah: Apakah nantinya buku yang dibuat itu termasuk non fiksi atau fiksi?

Buku non fiksi adalah buku yang dibuat berdasarkan realita, dan bukan khayalan. Bisa berupa uraian, tuntunan praktis (how to), penjelasan teknis dan masih banyak lagi.

Sementara fiksi adalah cerita khayalan. Yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis. Biasanya dibuat dalam bentuk novel, atau bisa juga cerita pendek.

Tema apa saja yang bisa dituangkan menjadi buku non fiksi? Pada dasarnya, semua tema bisa dibuat, sepanjang itu bukan khayalan. Yang tercakup dalam kategori non fiksi antara lain Seni, Fotografi, Biografi, Bisnis dan Investasi, Komputer dan Teknologi, Kuliner, Edukasi, Kesehatan, Medis, Parenting, Relationship, Politik, Sains, Pengembangan Diri, Musik, dan seterusnya.

Beberapa kategori non fiksi bahkan bisa dipecah menjadi sub tema yang lebih spesifik. Kategori Bisnis dan Investasi, misalnya, bisa dipersempit menjadi sub kategori E-commerce, Entrepreneurship, Economic History, Marketing, Advertising and Promotion, Budgeting, Business Law, Commodities, Consumer Behaviors, Corporate Finance, Exports & Imports, Finance, Government & Business dan masih banyak lagi.

Kategori Biografi juga bisa dipecah menjadi beberapa sub kategori seperti Personal memoirs, biografi tokoh politik, pemimpin dunia, ahli filsafat, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh yang termasuk ‘Rich and Famous’, pakar Sains, olahragawan, artis, para petualang, penemu dan seterusnya.

Jika Anda senang memasak, selain membuat buku umum tentang kuliner, ada beberapa sub kategori yang bisa dipilih. Misalnya yang khusus membicarakan makanan atau resep makanan untuk bayi, yang membahas minuman, resep makanan yang terkait dengan kesehatan, metode praktis, dan seterusnya.

Sub kategori ini juga bisa dipecah menjadi sub tema yang lebih spesifik. Misalnya resep makanan yang terkait kesehatan bisa membahas khusus tentang makanan untuk penderita Diabetes, makanan untuk penderita alergi tertentu, resep makanan untuk penderita sakit jantung, resep makanan yang berkabohidrat rendah, rendah lemak (low fat), rendah garam (low salt), rendah kolesterol (low cholesterol) dan seterusnya.

Atau bisa juga membuat buku yang spesifik membahas bahan tertentu, seperti susu, buah-buahan, sayuran, bumbu masak tertentu, daging, nature food, daging unggas, ikan laut dan seterusnya.

Fiksi, bukan sekedar imajinasi

Sama halnya dengan non fiksi, buku tentang fiksi juga memiliki beberapa kategori. Misalnya kisah petualangan, kisah terkait religi, sejarah alternatif, romance, kisah terkait olahraga, fiksi ilmiah, pernak-pernik remaja, cerita anak, kisah mitos dan legenda dan masih banyak lagi.

Beberapa kategori kisah fiksi bisa dipecah menjadi sub kategori. Cerita anak, misalnya bisa dipecah menjadi  anak usia pra sekolah, Taman Kanak-Kanak, kelas 1 dan 2 SD, buku khusus pelajar SMP dan seterusnya.

Kisah fiksi membutuhkan imajinasi. Namun, pada kenyataannya, untuk membuat buku fiksi tak hanya membutuhkan imajinasi. Namun juga hal lain. Yakni bagaimana menerjemahkan imajinasi menjadi kata-kata dan kalimat yang menarik. Dan di situlah letak keunikan sebuah cerita fiksi.

Selain kemampuan menerjemahkan imajinasi menjadi kata-kata, Anda juga perlu keahlian khusus untuk merangkainya menjadi sebuah cerita yang menarik. Anda harus menciptakan tokoh, menciptakan plot, konflik dan seterusnya.

Saya belum punya pengalaman membuat buku dalam bentuk novel yang dicetak dan diperjualbelikan di toko buku. Namun saya pernah membuat beberapa cerita pendek (dalam bahasa Inggris) dan dijual dalam bentuk ebook di Kindle. Pengalaman saya, membuat cerita pendek bisa dijadikan langkah awal untuk membuat novel. Tema yang tergolong gampang dibuat (karena tak memerlukan plot yang rumit) adalah yang terkait dengan cinta (jatuh cinta, patah hati, selingkuh dan seterusnya, ehm ehm). Membuat buku untuk anak-anak (terutama untuk pra sekolah) juga relatif mudah. Karena kata-katanya bisa sangat minim, sepanjang dilengkapi gambar yang sesuai.

Non Fiksi lebih mudah

Berbeda dengan buku fiksi yang memerlukan keahlian bercerita serta berbahasa, membuat buku non fiksi relatif lebih mudah. Anda tak memerlukan keahlian berbahasa tingkat tinggi untuk membuat buku non fiksi. Bahkan untuk tema buku tertentu, misalnya yang termasuk ‘how to’, Anda hanya perlu menguraikan tahapan demi tahapan dan dilengkapi gambar terkait.

Beberapa buku yang saya buat dan diterbitkan Elex Media Komputindo termasuk dalam tipe ini. Yakni buku panduan tentang sesuatu dan dilengkapi gambar. Keberadaan gambar sangat penting. Selain membantu pembaca, juga bisa membuat  halaman buku menjadi lebih banyak, hehehe.

Kalau e-book, buku non fiksi yang saya buat umumnya yang berkategori Biografi. Kenapa biografi? Karena materinya bisa diperoleh dengan mudah di internet, dan juga membuatnya relatif gampang.

Salah satu buku biografi yang saya buat dan dijual di Kindle adalah tentang Andy Williams, penyanyi terkemuka Amerika Serikat yang meninggal dunia beberapa waktu lalu (Cover bukunya bisa dilihat pada gambar di atas). Hingga November ini, angka penjualan buku itu (dan juga buku biografi lainnya yang saya buat) penjualannya cukup bagus. Belum termasuk laris manis memang, tapi setiap hari ada saja yang beli….

*Tulisan ini merupakan bagian dari buku “Meraup Dolar dari Kindle Publishing” yang bakal diterbitkan Elex Media Komputindo*

Salam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 3 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 6 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 6 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 15 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: