Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Poernamasyae

write a post and the post write you

Buku Sekolah Elektronik dan Nasibnya Jelang Kurikulum 2013

HL | 04 December 2012 | 22:54    Dibaca: 1397   Komentar: 18   1

13546451641013894882

Ilustrasi/ Admin (hongkiat.com)

Terima kasih lah kepada Mendiknas Bapak Professor M. Nuh dan jajarannya yang telah mengagas pembaharuan Kurikulum Pendidikan, dengan akan diluncurkannya Kurikulum Pendidikan 2013. Semoga ini bukan ‘pesanan’ kaum politikus jelang 2014.

Saya suka sekali dengan konsep Buku Sekolah Elektronik yang ditawarkan Kemendiknas (nama lama) pada era Mendiknas yang lama. Dengan konsep ini, pemerintah memotong mata rantai penerbit buku yang memonopoli perbukuan di sekolah-sekolah. Pemerintah membeli hak cipta buku-buku tersebut, dan menggratiskan buku tersebut dalam bentuk digital. Buku tersebut dapat diunduh di situs Kemendiknas dan beberapa mirror. Salahsatu yang saya tahu misalnya di ‘kambing UI’.

Namun saya kurang tahu juga, bagaimana keefektifan BSE ini, namun bagi guru, dosen kependidikan, dan siswa yang ‘ngeh’ terasa bahwa ilmu pengetahuan itu sekarang menjadi lebih murah dan mudah dijangkau. Apalagi dengan harga komputer jinjing yang semakin murah, demikian pula telepon pintar untuk membaca file dijital pe-de-ef, juga banyak versi murahnya.

Tak sampai sepuluh tahun, kurikulum berganti. Saya harap pembaharuan tersebut tidak membuat BSE menjadi mubadzir. Ratusan buku elektronik dari tingkat dasar sampai sekolah menengah atas tersebut merupakan monumen REVOLUSI bagi pendidikan Indonesia!

Sudah menjadi pembicaraan umum ganti menteri ganti kurikulum. Lalu muncul proyek-proyek baru. Mudah-mudahan tidak asal ganti, tetapi membenahi untuk lebih baik…. Even the best can be improved. Ratusan buku elektronik hangus, kemudian muncul ratusan proyek pengadaan buku baru yang berbudjet mungkin milyaran rupiah, demi untuk ‘kebaikan rakyat’ atawa apa? Mudah-mudahan bukan itu berita yang terdengar kelak.

Bukunya sudah disediakan, untuk operasional ada BOS (Biaya Operasional Sekolah), Gurunya ‘Profesional’, gaji guru meningkat di negeri (terutama) dan swasta (yang ikut program sertifikasi guru)….. tinggal birokrasi pendidikan yang harus terus dibenahi. Mudah-mudahan ke depan pendidikan Indonesia lebih maju lagi, karena terus menerus dibenahi. Guru masa depan inputnya adalah para kader bangsa terbaik, karena guru jadi profesi yang bergengsi dan bergaji tinggi.

Wuhan, 2012-12-04

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jumpa Singkat Pasar Malam di Sampit …

S Aji | | 26 May 2015 | 00:25

Lulus S-1 Tanpa Skripsi, Solusi atau Awal …

Faris Saputra Dewa | | 26 May 2015 | 02:17

Wall Garden Kebun Sayur Orang Kota …

Mahaji Noesa | | 25 May 2015 | 22:21

Kereta Malam …

Tasch Taufan | | 24 May 2015 | 14:33

Cara Cerdas Mengkritik Tulisan Orang Lain …

Muhammad Armand | | 25 May 2015 | 21:41


TRENDING ARTICLES

Beras Plastik, Anomali Jokowi, dan Strategi …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Mengapa Seorang Pepih Nugraha Bisa Diundang …

Pepih Nugraha | 10 jam lalu

Meluruskan Opini Publik yang Keliru: Wakil …

Himam Miladi | 11 jam lalu

Wibawa Bupati Subang Ojang Sohandi, Jeblok! …

Jadiah Upati | 13 jam lalu

Saat Timnas Menanti Deadline FIFA, Thailand …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: