Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Poernamasyae

write a post and the post write you

Buku Sekolah Elektronik dan Nasibnya Jelang Kurikulum 2013

HL | 04 December 2012 | 22:54 Dibaca: 1368   Komentar: 18   1

13546451641013894882

Ilustrasi/ Admin (hongkiat.com)

Terima kasih lah kepada Mendiknas Bapak Professor M. Nuh dan jajarannya yang telah mengagas pembaharuan Kurikulum Pendidikan, dengan akan diluncurkannya Kurikulum Pendidikan 2013. Semoga ini bukan ‘pesanan’ kaum politikus jelang 2014.

Saya suka sekali dengan konsep Buku Sekolah Elektronik yang ditawarkan Kemendiknas (nama lama) pada era Mendiknas yang lama. Dengan konsep ini, pemerintah memotong mata rantai penerbit buku yang memonopoli perbukuan di sekolah-sekolah. Pemerintah membeli hak cipta buku-buku tersebut, dan menggratiskan buku tersebut dalam bentuk digital. Buku tersebut dapat diunduh di situs Kemendiknas dan beberapa mirror. Salahsatu yang saya tahu misalnya di ‘kambing UI’.

Namun saya kurang tahu juga, bagaimana keefektifan BSE ini, namun bagi guru, dosen kependidikan, dan siswa yang ‘ngeh’ terasa bahwa ilmu pengetahuan itu sekarang menjadi lebih murah dan mudah dijangkau. Apalagi dengan harga komputer jinjing yang semakin murah, demikian pula telepon pintar untuk membaca file dijital pe-de-ef, juga banyak versi murahnya.

Tak sampai sepuluh tahun, kurikulum berganti. Saya harap pembaharuan tersebut tidak membuat BSE menjadi mubadzir. Ratusan buku elektronik dari tingkat dasar sampai sekolah menengah atas tersebut merupakan monumen REVOLUSI bagi pendidikan Indonesia!

Sudah menjadi pembicaraan umum ganti menteri ganti kurikulum. Lalu muncul proyek-proyek baru. Mudah-mudahan tidak asal ganti, tetapi membenahi untuk lebih baik…. Even the best can be improved. Ratusan buku elektronik hangus, kemudian muncul ratusan proyek pengadaan buku baru yang berbudjet mungkin milyaran rupiah, demi untuk ‘kebaikan rakyat’ atawa apa? Mudah-mudahan bukan itu berita yang terdengar kelak.

Bukunya sudah disediakan, untuk operasional ada BOS (Biaya Operasional Sekolah), Gurunya ‘Profesional’, gaji guru meningkat di negeri (terutama) dan swasta (yang ikut program sertifikasi guru)….. tinggal birokrasi pendidikan yang harus terus dibenahi. Mudah-mudahan ke depan pendidikan Indonesia lebih maju lagi, karena terus menerus dibenahi. Guru masa depan inputnya adalah para kader bangsa terbaik, karena guru jadi profesi yang bergengsi dan bergaji tinggi.

Wuhan, 2012-12-04

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 7 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 8 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 9 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Manajemen Konflik di Negeri Angkara Murka …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

99,9% Arema Dibantu Wasit? …

Id Law | 7 jam lalu

For You …

Ahmad Maulana Jazul... | 7 jam lalu

Sejatinya Pemimpin…!!! …

Alex Palit | 8 jam lalu

Penggunaan Air Susu Ibu (ASI) …

Zainab Hikmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: