Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Dudi Rustandi

# Bekerja di Inhouse Media # personal blog: www.dudir.in, kunjungi juga laman www.ayokegarut.com

Eksotisme Alam, Gadis Garut, dan Swiss Van Java

HL | 06 December 2012 | 17:18 Dibaca: 2134   Komentar: 0   8

1354794700336314086

Rakit bambu di Danau Cangkuang, Garut/Admin (Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F)

Garut tiba-tiba saja Go Internasional. Tak ayal, gara-gara nikah singkat Aceng Fikri, sang Bupatilah yang membuat Garut menjadi begitu terkenal. Aceng Fikri telah menggegerkan Indonesia bahkan juga masuk dalam Koran luar negeri The Guardian.

Terlepas dari itu semua, rasanya tidak adil jika popularitas Garut hanya disangkutpautkan oleh kasus Aceng Fikri belaka. Garut sudah terkenal sejak jaman colonial Belanda dengan eksotisme alamnya. Siapapun yang berkunjung ke Garut, akan dininabobokan oleh keindahan dan keasrian alam setempat. Oleh karena itu wajar jika para meneer Belanda menjuluki Garut sebagai SWISS VAN JAVA.

Keasrian Garut tidak bisa dibandingkan dengan keindahan alam Bandung yang sama dikelilingi oleh Gunung. Garut di kelilingi oleh gunung-gunung dan beberapa diantaranya adalah gunung vulkanik aktif seperi Papandayan, Gunung Guntur, dan Talaga Bodas yang memberi kesuburan dengan tanah dan air panas melimpah. Cipanas merupakan sentra wisata air panas yang banyak dikunjungi wisatawan local, regional, nasional ataupun mancanegara. Dan kini sedang berkembang wisata alam dan air panas Darajat yang memiliki keeksotisan tersendiri bagi para pengunjungnya. Hamparan pertanian yang luas menjadi pemandangan yang seksi bagi para pengunjung. Ia seksi tanpa polesan apapun. Wajar jika yang berkunjung ke Garut, walaupun bukan kota besar seperti Bandung, tetapi selalu memberikan pujian, tentu tidak berlebihan.

Bukan hanya pertanian sayuran yang melimpah, namun juga perkebunan teh yang hampir tumbuh di setiap dataran tinggi. Perkebunan kopi, karet, coklat yang dibalut dengan kabut. Oleh karena itu tanpa sentuhan modernisasi kota, Garut akan tetap memesona siapa saja yang berkunjung.

Seorang teman mengatakan bahwa eksotika alam Garut dapat didekati dari perspektif geneologi eksotika. Pertama bahwa mereka yang belum pernah tinggal di Garut memang sulit memahami eksotika Garut adalah eksotika alamiah. Dari seluruh kota-Garut adalah yang paling indah se Indonesia. Bentangnya membujur dari keindahan pegunungan, pertanian, hutan, dan pantai di bagian selatan yang menantang samudera hindia. eksotika yang kuat telah mengilhami dunia lewat lukisan Raden Saleh Mooi Indie (Hindia Indah).

Lukisan pada akhirnya membuat aktor Inggris-Amerika Charlie Caplin ingin datang menghabiskan bulan madu bersama si pacar. Chaplin menulis; “Kami ke Garut, kota kecil di Hindia Belanda yang sejuk di kelilingi hutan belantara, yang di sore hari harimau mengaum. Gunung-gunung vulkanik aktif adalah tembok-temboknya dan danau-danau di beberapa bagiannya. Kota sejuk yang kami menyebutnya Swiss van Jaya.”

Keindahan inilah yang kemudian menjelma dalam paras cantik para mojangnya, mojang priangan, yang walaupun dengan dandanan polos seadanya namun mampu menarik hati siapapun yang memandangnya. Ini juga barangkali yang terjadi pada Fani-sang mantan isteri Bupati. Walau pun wajahnya tidak cantik, namun menyimpan eksotisme yang mewakili eksotisme alamnya. Namun sayang, sang Bupati terburu-buru memetiknya sehingga hilanglah asrinya neng Fani.

Saya teringat, sekitar 8 tahun yang lalu, saat saya mengembara, bertemu dengan seorang wiraswastawan, ia bertanya asal saya. Saat saya katakan bahwa saya berasal dari Garut, ia memuji gadis-gadis yang berada di Garut. “wah awewe garut mah euweuh anu gagal“, komentarnya saat itu.

Hal ini pula yang diceritakan oleh Abdullah Assegaf dalam novelnya berjudul “Fatat Qorut” atau Gadis Garut. Seorang Arab yang jatuh cinta pada gadis Garut hingga akhirnya diangkat menjadi isu utama dalam salah satu karya sastranya. Gadis Garut dengan panggilan Neng tersebut adalah seorang gadis yang cantik, lembut, sabar, berpengetahuan luas serta pemberani. Mengingatkan pada Gadis Garut lain yang sekarang terjun ke dunia politik-Rikeu Diah Pitaloka atau juga Ully Sigar Rusadi-penyanyi dan aktifis lingkungan, kakak kandung Paramitha Rusadhy, atau penyanyi lawas Rani. Pada masa sekarang, bahkan Ahmad Dani konon katanya tergila-gila pada gadis Garut yang digosipkan telah menikahinya, kita kenal dengan Wulan Jameela. Sedikit dari Gadis Garut yang terjun ke dunia hiburan. Abdullah Assegaf bahkan menyebut gadis garut sebagai sebagai bidadari yang turun dari kahyangan.

Terlepas dari persoalan yang sedang menimpa masyarakat Garut dengan nikah siri pemimpinnya tersebut. Garut pernah menjadi sentra industry tenun terbesar di Asia Tenggara dengan Pabrik Tenun Garutnya yang sekarang telah musnah, bangunannya pun sudah rata dengan tanah dan sekarang di atasnya berdisi plaza megah Ramayana. Namun tentu, semua orang juga tidak hanya kenal dengan dodol garutnya saja, kini Garut punya produk yang mendunia dengan Chocodotnya atau coklat isi dodol dan berbagai macam variannya. Bahkan setiap kali pengguna jaket kulit, semua tidak menyangsikan bahwa sentra penyamakan dan kerajinan jaket kulit berasal dari Garut. Konon, sentra Industri Kulit Garut terbesar di Asia Tenggara.

Walaupun Garut pernah menjadi kabupaten tertinggal 7-10 tahun lalu berdasarkan nilai IPM (index prestasi komulatif) yang hanya sekitar 6,9. Di Jawa Barat Garut pernah menempati posisi IPM terendah setelah Kabupaten Sukabumi. Namun sejak kepemimpinan Agus Supriadi yang kini dipenjara gara-gara kasus korupsi. Dengan motto Garut Bangkit Garut Berprestasi, Garut menyalip beberapa kota Kabupaten di Jawa Barat yang berjumlah 26. Garut kini memiliki nilai IPM 7,2 atau berada pada posisi 13.

Dengan nilai IPM tersebut dapat dikatakan bahwa Garut tidak dapat dikatakan lagi sebagai Kabupaten tertinggal di Jawa Barat. Sejak beberapa tahun terakhir pembangunan terus digalakan di Garut. Garut tidak hanya sekedar PENGKOLAN sebagai pusat kotanya, tetapi ada beberapa tempat lagi yang menjadi pusat ekonomi perdagangan Garut dengan berdirinya Mal dan Ruko. Bahkan daerah Garut Selatan memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan Garut Kota sendiri. Ini sebuah fakta tentang kemajuan Garut, disamping tentu banyak permasalahan pembangunan Garut khususnya daerah-daerah pedalaman; masalah listrik, akses jalan, kemiskinan, dan lain-lain.

Yang tentu tidak bisa kita hindari adalah bahwa di tengah eksotisme alam dan gadirnya, Fany menjadi bagian dan mungkin menjadi korban dari ketidakberdayaan ekonomi, di tengah himpitan kemiskinan warga Garut?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 6 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 7 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: