Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Juventi Permana Putri

seorang perempuan sederhana yang hidup di keluarga yang sederhana ttpi tidak memiliki cita-cita yang sederhana….cita-cita selengkapnya

Sinopsis Bekisar Merah

REP | 07 December 2012 | 10:15 Dibaca: 289   Komentar: 0   1

Judul : Bekisar Merah

Pengarang : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (anggota IKAPI)

Sinopsis :

Karangsoga, sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai penyadap nira atau pohon kelapa. Di desa itu ada sepasang suami istri bernama Darsa dan Lasi. Hidup mereka serba kekurangan dan apa adanya. Hasil sadapan Darsa hanya cukup untuk makan sehari-hari. Selama tiga tahun mereka menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak. Tetapi, Darsa tetap bahagia karena ia mempunyai istri secantik Lasi yang berbeda dengan perempuan-perempuan di desanya. Lasi yang cantik, putih dan mirip dengan orang jepang. Suatu hari Darsa tidak juga pulang dari menyadap nira hingga hari hampir petang. Lasi pun bingung dan sangat khawatir akan keadaan Darsa, karena pekerjaan Darsa adalah pekerjaan yang berbahaya dan bertaruh dengan nyawa. Ketika Lasi menantikan kedatangan Darsa, samar-samar dia melihat ada bayangan yang mendekat. Betapa bahagianya Lasi yang mengira Darsa telah kembali pulang. Tetapi, semua kebahagiaan itu sirna ketika Lasi tahu bahwa yang datang adalah Darsa yang digendong oleh salah seorang temannya, ya Darsa jatuh dari pohon kelapa yang disadapnya dan sekarang Darsa hanya terbaring lemah tak berdaya.

Lasi pun bingung apa yang harus ia lakukan, ia tidak mempunyai uang untuk pengobatan Darsa. Akhirnya, Lasi pun memutuskan untuk meminjam uang dari Pak Tir seorang juragan pengumpul nira. Lasi pun membawa Darsa berobat, tetapi pihak puskesmas setempat tidak bisa melanjutkan pengobatannya. Karena ada syaraf yang harus dioperasi di Rumah Sakit di kota yang menyebabkan tidak berhentinya air seni yang keluar dari alat kelamin Darsa dan menjadikan Darsa lemah syahwat. Lasi pun memutuskan untuk tidak membawa Darsa ke kota karena tidak mempunyai cukup biaya, ia memilih untuk menyerahkan pengobatan darsa ke Bunek, seorang dukun pijat. Setiap hari Bunek merawat Darsa dengan sabar sampai Darsa benar-benar sembuh. Dan akhirnya Bunek meminta anaknya, Sipah untuk membuktikan kejantanan Darsa. Darsa pun melakukan hubungan dengan Sipah, sehingga beberapa hari setelah itu Bunek meminta pertanggungjawaban Darsa yang sudah menghamili Sipah. Lasi tidak menyangka suaminya telah melakukan hubungan dengan orang lain. Lasi sakit hati dan sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Darsa kepada Sipah. Dan Lasi memutuskan untuk keluar dari Karangsoga tanpa pengetahuan siapapun.

Di tengah jalan Lasi menghentikan sebuah truk menuju Jakarta. Sopir truk milik Pak Tir itu bernama Pardi yang akan mengantarkan nira ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Lasi terdiam saja dan sampailah mereka di Jakarta. Pardi mampir di sebuah warung yang terletak di kota itu dan menitipkan Lasi di sana. Bu Koneng nama pemilik warung itu. Warung Bu Koneng adalah salah satu warung remang-remang yang biasa di singgahi oleh Pardi. Bu Koneng telah mendapat penjelasan dari Pardi siapa dan apa alasan Lasi ikut dengan dirinya, dan Pardi mengatakan bahwa Lasi adalah perempuan baik-baik yang tidak pantas dipekerjakan seperti perempuan-perempuan lain yang ada di warung itu. Setelah ditinggal oleh Pardi mengantar nira, Lasi dan Bu Koneng menjadi akrab dan Bu Koneng membujuk Lasi agar mau tinggal di rumahnya itu agak lama lagi. Dan Lasi pun akhirnya meminta kepada Pardi untuk meninggalkannya di rumah Bu Koneng. Hari-hari Lasi diisi dengan membantu pekerjaan dapur Bu Koneng. Lasi hanya sering melihat bagaimana banyak laki-laki hidug belang datang ke warung Bu Koneng. Dan ketika Pardi datang ke Jakarta untuk mengirim nira lagi, Lasi dibujuk untuk pulang ke Karangsoga. Tetapi, Lasi selalu menolak ajakan dari Pardi. Dan Lasi berusaha meyakinkan Pardi bahwa dirinya memilih tinggal di Jakarta dan tidak kembali ke Karangsoga.

Di Jakarta Lasi tinggal bersama Bu Koneng dan membantu pekerjaan dapur di rumah Bu Koneng. Pada suatu hari, teman Bu Koneng datang yaitu Bu Lanting dan kekasihnya yang lebih muda darinya. Bu Lanting langsung tertarik kepada Lasi untuk tinggal di rumahnya. Bu Lanting pun meminta kepada Bu Koneng agar Lasi tinggal bersamanya dan Lasi menerimanya. Ketika tinggal bersama Bu Lanting, Lasi diajak berkeliling kota Jakarta, berbelanja, menggunakan perhiasan dan memakai pakaian-pakaian yang serba modern. Ketika Lasi diajak oleh Bu Lanting ke salon, Lasi pun didandani dan dipotong rambutnya, sehingga dia nampak seperti perempuan Jepang dan Lasi menjadi wanita Jepang selama tinggal bersama Bu Lanting. Kemudian, Bu Lanting mengajak lasi ke studio foto dan memotret Lasi menggunakan pakaian kimono merah layaknya lasi seorang model profesional. Bu Lanting memperkenalkan Lasi kepada pengusaha kaya raya yang berumur 50 tahunan bernama Handharbenni. Handharbenni pun langsung tertarik kepada Lasi untuk dijadikan istrinya. Bu Lanting membujuk Lasi untuk mau menerima lamaran dari Handharbenni dan Bu Lanting memang pandai membuat Lasi selalu pasrah dengan kata-katanya. Lasi mulai berpikir bahwa hidupnya akan enak jika dinikahi Handharbenni . Siapa yang mau menolak keberuntungan, itulah yang selau diucapkan Bu lanting. Di sisi lain Bu Lanting sangat beruntung ketika Lasi mau menjadi istri Handharbenni, karena ia akan diberi harta melimpah oleh Handharbenni karena mampu memberinya bekisar merah, bekisar yang berarti Lasi adalah perempuan campuran Indonesia dan Jepang dan merah karena Lasi terlihat sangta cantik di fotonya ketika menggunakan kimono merah. Sebenarnya ada hal yang mengagetkan Lasi sebelum itu, Kanjat teman kecil Lasi anak pak Tir dari Karangsoga datang meminta Lasi untuk pulang ke Karangsoga, namun Lasi menolak. Sebenarnya kanjat sejak saat itu mulai tersentuh hatinya terhadap Lasi karena Lasi berubah menjadi perempuan yang sangta cantik, begitupun Lasi kepada kanjat, tapi mereka tidak saling mengungkapkan, hanya saja mereka saling bertukar foto dan menyimpannya masing-masing.

Setelah Lasi menjadi Nyonya Handharbenni, hidupnya tidak pernah kekurangan semua kebutuhannya tercukupi. Tetapi, Lasi merasa kecewa karena impoten yang diderita oleh Handharbenni. Dan yang membuat Lasi marah dalah perkataan Handharbenni yang memintanya untuk mencari kepuasan dengan lelaki lain. Hal itu membuat hati Lasi sakit dan minta pulang ke Karangsoga untuk sementara waktu. Di Karangsoga Lasi pulang dengan diantar mobil mewah lengkap dengan sopirnya. Semua warga karangsoga yang melihat kagum dan terperangah.

Lasi mulai membangun rumah orang tuanya. Suaminya juga datang memberi bantuan kepada Karangsoga untuk membangun berbagai macam infrastruktur. Setidaknya ini membuat tetangga Lasi yang dulu sering menghina Lasi kini mulai berbalik arah. Suatu hari Lasi menemui Kanjat setelah mendengar bahwa Kanjat membutuhkan dana besar untuk penelitiannya. Lasi bermaksud membantu Kanja, tetapi sebenarnya ada maksud lain yaitu Lasi ingin memceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. Lasi ingin cerai dengan Handharbenni. Kemudian Lasi memberanikan diri untuk bertanya kepada Kanjat, apakah kanjat mau menikahi Lasi setelah janda nanti. Tetapi kanjat masih bingung dan tidak menjawab pertanyaan Lasi.

Suatu hari Kanjat dan Lasi berniat mendengar akan adanya penebangan banyak pohon kelapa yang selama ini menghidupi penderes. Pohon-pohon kelapa itu ditebang karena akan dijadikan jalur aliran listrik untuk Karangsoga. Ternyata 8 pohon kelapa dari 10 pohon kelapa milik Darsa yang akan ditebang tanpa ganti rugi, mereka tidak bisa membayangkan akan makan apa keluarga Darsa nanti, apalagi kini Darsa sudah memiliki anak dari Sipah istrinya. Lasi dan Kanjat berusaha menenangkan Darsa dengan datang ke rumahnya. Tetapi, Darsa menanggapi dengan biasa saja, kemudian Lasi masuk ke rumah Darsa dan menemui Sipah dan memberikan uang untuk memnuhi kebutuhan hidup keluarga itu, setelah itu Lasi berpamitan kepada Sipah dan mencium anak Darsa dan Sipah yang sedang digendong oleh Sipah. Lasi dan Kanjat pun berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Di tengah perjalan pulang Lasi berpamitan bahwa keesokan harinya ia akan kembali ke Jakarta. Lasi juga menanyakan fotonya apakah masih disimpan oleh Kanjat, ternyata Kanjat masih menyimpannya dan Lasi juga masih menyimpan foto Kanjat. Perjalanan itupun hening seketika. Kanjat melihat pada kedalaman mata Lasi bahwa masih tersimpan pesona, tetapi Kanjat melihat kenyataan lain bahwa Lasi masih mempunyai suami, dalam mata lasi pula terlihat Darsa, Sipah,dan anaknya. Itulah yang seolah-olah menyindir Kanjat akan kegagalannya meringankan beban hidup para penyadap kelapa. Bagi kanjat, Lasi adalah harapan dan cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya. Dan Darsa adalah dunia para penyadap yang terus memanggil keterpihakan kanjat. Sudah menjadi kesadaran yang mendalam di hati Kanjat bahwa para penyadap menyimpan hutang yang sangat besar kepada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur, termasuk Kanjat sendiri.

Amanat :

Amanat yang terkandung dalam novel tersebut adalah bagaimana cara kita menghadapi realita kehidupan yang serba rumit ini. Mencoba bertahan hidup dengan keadaan yang pas-pasan, mencoba menerima kenyataan dengan ikhlas, tidak mudah untuk tergoda dengan harta, dan berusaha mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita cintai agar kita mendapatkan pasangan hidup yang tidak hanya baik di mata kita, tetapi juga sangat kita cintai.

Komentar :

Novel ini menceritakan dengan jelas dalam menggambarkan perbedaan situasi dalam kehidupan di pedesaan dan perkotaan. Pada awalnya mungkin orang akan bingung apa makna dari bekisar merah itu sendiri. Dengan membaca semua isi novel akhirnya orang itu mengerti apa yang disebut dengan bekisar merah itu. Alurnya juga sangat jelas dan mudah untuk diikuti. Tetapi, akhir kisah ini masih mengambang, sehingga membuat saya penasaran akan kelanjutan kisahnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 5 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 5 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 7 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: