Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Kornelius Ginting

yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin -”Scripta manet verba volant”. http://gintingkornelius.blogspot.com/ selengkapnya

Chairul Tanjung di Anak Singkong

REP | 10 December 2012 | 09:51 Dibaca: 4230   Komentar: 0   2

13551076171235662082

Buku Bagus

Buku ini merupakan salah satu buku fenomenal. Dimulai dari iklan yang tiada henti, hingga testimoni - testimoni yang tiada putus. Entah itu dari pejabat hingga masyarakat biasa.

Setelah kita membaca buku setebal 384 halaman dimana sudah termasuk biografi penulisnya yaitu Tjahja Gunawan Diredja. Seorang wartawan kompas. Kita dapat mengetahui siapakah Chairul Tanjung (Biasa disingkat CT) itu. Dilahirkan dari keluarga biasa - biasa saja. Bahkan ayahnya sempat bersebrangan idiologi pada masa pemerintahan saat itu. Sehingga semakin menyulitkan keadaan keluarga ini. Pernah tinggal di kawasan kumuh gambir pada masa itu. Bersekolah di SD-SMP VANLITH dilanjutkan SMU BOEDI UTOMO. Terakhir mengenyam pendidikan di FKG UI SALEMBA. Dari kecil CT sudah akrab dengan dunia wirausaha. Titik balik ia terjun secara total berwira usaha adalah ketika ia kuliah di FKG UI. Dimana ia melihat untuk membiayai kuliahnya sang ibu rela menjual salah satu kain halus yang dimilikinya. Ia pun bertekad sejak saat itu tidak akan meminta uang lagi kepada ibunya dan akan berusaha sendiri.

Dari modal seadanya, CT membantu teman kuliahnya hinga dosen dalam urusan memperbanyak makalah (fotocopi). Selisih harga yang ditawarkan banyak menarik temannya, keuntungan dari sinilah untuk membiayai kuliahnya. Tidak berhenti hanya pada bisnis fotocopi, hingga akhirnya CT diberikan sebuah ruang khusus untuk terus mengembangkan usahanya. Setelah sukses dengan bisnis ini, usaha lainpun digelutinya selama itu halal dan menjanjikan keuntungan. Dimulai dari usaha perlengkapan dokter gigi hingga jual beli mobil.

Semua bidang usaha ini tidak hanya berhenti ketika ia kuliah saja, bahkan kebablasan hingga saat ini. Lucunya adalah lulus dari kedokteran gigi tidak menarik minatnya untuk membuat praktek ataupun sejenisnya agar dapat mempraktikkan ilmu yang dimilikinya. Alih - alih demikian CT terlihat lebih serius dengan bisnis yang di gelutinya. Prinsip hidupnya dalam mengenbangkan bisnis adalah “kalau tidak bisa menjadi nomor 1, tinggalkan”. Jatuh bangun ia hadapi. Koneksi bangun. Semuanya ia lakukan dari nol. Dan tidak sedikitpun berkolusi dengan penguasa pada saat itu. Maka dari itu ketika  krisis mendera bangsa ini. Setiap usaha yang digelutinya tidak “rontok”. Alih - alih rontok, bahkan Bank Mega yang baru diambil alih dari Bank Tugu sudah dikategorikan bank sehat dan tidak terkena dampak krisis. Bahkan Bank Mega semakin berekspansi dengan Mega Syariahnya.

TV 7 yang semula di pegang oleh Jacoeb Utama (Kompasgramedia) yang pada saat itu mulai oleng dan kehilangan arah. Karena Jacoeb tahu yang akan membeli saham TV7 dan yang meneruskan usaha ini adalah CT. Jacoeb percaya dengan penggabungan TRANS TV dan TV 7 (TRANS7) akan memunculkan banyak tayangan yang bermanfaat dan berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemunculan 2 televisi tadi, sudah mampu bersaing dengan televisi - televis lainnya yang lebih dulu mucul.

Beberapa filosofi yabg dianut CT ” Fungsi manusia adalah berbagi, menjadi yang paling banyak berbagi, berbakti, dan paling banyak manfaatnya untuk orang lain sesuai ajaran agama”  di bab lainnya ia mengatakan ” Peradaban manusia yang unggul harus dibangun dan didasari oleh kasih sayang, berbagi, kejujuran, kemuliaan hidup, bukan semata - mata sikat - menyikat, sikut menyikut dan mencapai kedudukan dengan segala cara”.

Satu hal yang saya amati, dalam setiap detil perjalanan hidupnya. Dalam pelajaran apapun dia menyimak dengan baik dan berusaha untuk memadu padankan setiap hal yang didapatnya dengan kehidupan yang di jalaninya. Ia banyak belajar hal dari dunia teater. Bahkan ketika orang mungkin bertanya pada saat ini ke CT, lalu manfaat dia masuk FKG UI itu apa? Ia pun menjelaskan filosofi dokter gigilah yang mmmbuatnya dapat bertahan hidup di dunia bisnisnya. ” Jika dunia bisnis sudah tidak baik dan tidak sehat, dari pada dibiarkan semakin lama tidak sehat dan dikhawatirkan mengganggu yang lain, mau tidak mau seperti gigi, maka harus dicabut”.

Saya pikir buku ini hanya membahas tentang sisi bisnis beliau, sisi sosialnya pun di bicarakan. Bagaimana ketika Tsunami melanda Aceh. Ia terjun langsung untuk memberikan bantuan kepada korban. Bahkan ia sudah mendirikan CTF Chairul Tanjung Foundation untuk membantu para korban secara berkesinambungan.

Buku yang pada bulan oktober 2012 sudah memasuki cetakan yang ke delapan. Padahal cetakan awalnya bulan juni 2012. Diakhir buku ini terlalu banyak sudah hal - hal yang dicapai oleh CT. Group PARA yang sudah di bina semenjak awal, berlanjut ke bank Mega, Mega Syariah, Trans Corps, Portal majalah Detik, bahkan pasar retail Carefour pun di gandengnya. Tidak lupa kawasan hiburan Trans yang saat ini sudah ada di Bandung dan Makasar, pastinya akan bertambah lagi beberapa di daerah lainnya.

Untuk saat ini mendapatkan buku ini sangat mudah. Dari yang harga Rp.58.000 di Gramedia atau yang bajakan seharga setengahnya, dan itupun ditawarkan di lampu merah pinggiran jalan.

Satu hal lagi, sepertinya tulisan yang saya buat ini masih kurang mendiskripsikan isi dari buku ini. Sudah 2 kali pun saya baca buku ini sepertinya masih kurang saja.

Kemandirian dan displin, integritas, kepribadiaan yang memang mau bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak perduli apapun rintangan dan halangan yang di hadapi.

Terima kasih pak CT sudah mau berbagi inspirasi.

Tags: resensibuku

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 6 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 12 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Terlalu Banyak Omong = Tidak Bermutu …

Rachmadia Athaya | 8 jam lalu

Menikmati Kemenangan Jokowi …

Lilik Agus Purwanto | 8 jam lalu

Maju Mundur Cantik Kabinet Jokowi ala …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Ssstt….Ada Srikandi di Tol Laut …

Aqshaya | 8 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: