Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Najm Layla

sedang belajar menulis,,,

Bisikan “Quantum Ikhlas”

REP | 06 January 2013 | 08:56 Dibaca: 3018   Komentar: 0   2

Pagi ini, kembali kutatap layar putih. Kursor itu bergedip-kedip sembari memanggil-manggilku.

“Ayo menulis! Ayo menulis!”

Pikirku, “apa yang harus aku tulis hari ini? Hmmm…” Kuarahkan pandanganku pada buku-buku yang berserakan bekas malam. Apa tentang isi buku yang aku baca saja gitu? Sebaiknya seperi itu, dari pada nulis yang nggak karuan. Apa manfaatnya untuk orang yang baca. Ting! Oke deh…

Tik tok tik tok tik tok….

Buku yang modal pinjaman ini, keren banget! Yang bacanya juga keren. Hehehe.. jadi makin keren.. hehe.. Tapi sudah kumel dan tanpa jilid. Kebayang nggak tuh? Mungkin saking seringnya dibaca atau dipinjamkan. Oalah… Tak berprikebukuan. Ding! Hee… Ups!

Diantara buku-buku yang aku baca. Aku sangat menarik pada buku “Quantum Ikhlas”, Erbe Sentanu (2008). Banyak banget kata pengantar atau endorsement pada buku ini, lha wong ini buku yang aku baca cetakan ke duabelas, pantas saja.. hehehe… bukan hanya best seller tapi best book. Sebenarnya, buku ini disertai dengan CD Digital Player Alphamatic Brainwave. Sayangnya aku nggak dapat pinjaman CD –nya. Heu.. Padahal CD ini akan membantu kita merasakan langsung perubahan gelombang otak dan memudahkan kita masuk ke dalam zona ikhlas untuk memahami buku ini dari dalam hati. Tapi tak apalah. Bersyukur banget sudah bisa baca buku ini juga.

Buku ini menjelaskan tentang cara meraih kesuksesan dalam hidup yang sekaligus mengantarkan ke’ngeh’an ke dalam sanubari kita. ‘Ngeh’ atau kesadaran, hanya bisa datang dari hati yang bicara. Sangat berbeda dengan pengetahuan yang datang dari otak dan olah pikir manusia.

Bahasan buku ini diarahkan untuk bisa memahami mengapa sikap ikhlas sangat diperlukan dalam hidup ini, dan yang terpenting bagaimana mengenali rasa dan cara-cara mencapainya. Karena sebagian orang sering menafsirkan ikhlas secara salah. Komponen ikhlas yang terdiri dari sikap syukur, sabar, focus, tenang, dan bahagia, justru dianggap sikap yang lemah. Sikap itu dikhawatirkan akan membuat mereka kurang dihargai orang, tidak tercukupi segala materi, atau tidak tercapainya tukuan hidup karena tidak adanya ambisi. Padahal yang terjadi malah sebaliknya.

Dalam kondisi ikhlas yang sekarang telah dibuktikan secara ilmiah, manusia justru akan menjadi sangat kuat, cerdas, dan bijaksana. Kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan kita dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan.

Nah, bagaimana teman-teman? Penasarankah dengan isinya yang lebih mantap?

Aku tertarik pada hukum daya tarik menarik : The Universal law of Attraction.

“Manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan) nya sendiri.” Elizabeth Towne, 1906.

Untuk memahami Quantum ikhlas dengan baik, kita harus mengerti hukum ini. Perlu kita ketahui, berpikir tentang sesuatu-baik ataupun buruk- sama artinya dengan merencanakan sesuatu itu untuk terjadi . Jika kita berpikir tentang keindahan berarti kita merencanakan keindahan untuk terjadi dalam hidup kita. sebaliknya, jika kita berpikir (mencemaskan) tentag kesulitan, berarti kita merencanakan kesulitan itu untuk terjadi dalam hidup kita.

Sahabat, perbanyaklah kita mengucapkan kalimat bersyukur. Hindari mengeluh, karena dengan mengeluh kita melepaskan getaran negatif ke alam semesta yang akan menarik hal-hal negatif ke dalam hidup kita. Begitu pula sebaliknya. Yuk, kita perhatikan betul kata-kata yang akan kita ucapkan dan yang tidak terucapkan (di hati). Kita pasti bisa melakukannya.

So, rahasia sederhananya dalam bisikan “Quantum Ikhlas” : pikirkanlah hanya apa-apa yang kita inginkan untuk terjadi, bukan yang sebaliknya.

Ini baru langkah awal sobat di Quantum Ikhlas, silakan selami bukunya agar kita bisa menjadi manusia yang ikhlas dan absolut. Selamat menimba kekuatan hati yang sejati! Selamat membaca….. :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Malmö di Swedia: “Saudara” …

Cahayahati (acjp) | | 26 October 2014 | 10:02

Kenapa Harus Membela Ahok? …

Zulfikar Akbar | | 26 October 2014 | 09:55

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Staf Kepresidenan, Kekuasaan di Balik Tahta …

Mas Isharyanto | | 26 October 2014 | 10:42

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



HIGHLIGHT

Marquez Pecahkan Rekor Doohan …

Suko Waspodo | 7 jam lalu

Menanti Tweet Pertama Presiden Jokowi …

Dody Kasman | 8 jam lalu

Tentara yang Berjuang di Atas Kursi Roda …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Air Terjun Bojongkoneng di Sentul …

G T | 8 jam lalu

Merangkum Keindahan Indonesia Lewat Kisah …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: