Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Reananda Hidayat

Mahasiswa | Blogger amatir | Penikmat buku dan teh | Manchester United | reanhidayat.wordpress.com

Review The Geography of Bliss

OPINI | 09 January 2013 | 23:36 Dibaca: 80   Komentar: 0   0

Pencarian kebahagiaan. Si jurnalis penggerutu.

Dua kata kunci yang membimbing saya untuk menebus The Geography of Bliss dari rak buku. Apalagi sih profesi yang paling menyenangkan selain jurnalis? Apalagi sih hal paling absurd selain mencari dimana tempat dan siapa orang paling bahagia di atas bumi? Bagaimana kalau keduanya digabungkan?

Adalah Eric Weiner, mantan reporter New York Times yang memberikan jawaban misi aneh ini. Berbekal statistik dari seorang profesor di Belanda, tentang dimana warga negara paling bahagia di muka bumi, dia mulai pergi berkeliling dunia untuk mencari tahu alasan mereka. Mengapa penduduk Islandia yang jarang melihat matahari termasuk negara yang paling bahagia di dunia? Setiap orang mengatakan uang tidak selalu menjadi kunci kebahagiaan, tapi di Qatar? Seperti Swiss, apakah orang memang lebih bahagia jika taat pada peraturan? Mengapa Eric sampai pergi ke Moldova, negara pecahan Uni Soviet yang sudah pasti miskin? Sudah pernah dengar tentang Gross National Happiness yang dicanangkan oleh Bhutan? Atau kagetnya reaksi Eric ketika balik ditanya saat di Thailand: Mengapa memikirkan kebahagiaan saat bahagia itu adalah tidak berpikir?

Harus diakui, Eric Weiner adalah seorang jurnalis berwawasan luas. Terlihat dari tulisannya yang sering mengaitkan peristiwa sekitar dengan referensi penelitian yang pernah dibacanya. Misalnya, saat melihat warga Bhutan yang diam saja saat disuruh turun karena bus yang mereka naiki mogok di tengah jalan. Ini sama persis dengan percobaan seekor tikus yang dibuat tersetrum kalau bergerak saat ditempatkan di kandang yang sempit. Saat dipindahkan di kandang yang lebih luas, si tikus tetap tidak bergerak. Dia sudah belajar untuk tidak melawan, untuk tidak protes. Seperti warga Bhutan yang terbiasa untuk kecewa dengan fasilitas negaranya.

Hal klise yang kerap kita dengar adalah banyaknya orang yang pergi jauh, bahkan rela berpindah kewarganegaraan, karena merasa tidak nyaman dengan tempat asalnya. Eric juga menemui orang-orang seperti ini, beberapa dari negara yang sama dengannya, untuk mengetahui alasan mereka rela menempuh ribuan kilometer untuk satu kata tak terukur itu: bahagia.

Satu hal yang mungkin mengecewakan adalah kualitas terjemahan. Entah, rasanya buku ini akan lebih nyaman dinikmati jika susunan kalimatnya dibuat ‘lebih Indonesia’. Selain itu juga kualitas cetakan. Ada beberapa halaman yang tidak tercetak sempurna, terlihat jelas dari bayang-bayang huruf yang sangat menganggu untuk dibaca. Namun itu tidak mengurangi kecerdasan buku yang dibuat dengan literatur dan survey yang panjang ini.

Memoar ini, selain menawarkan jawaban tentang kebahagiaan, suka tidak suka juga melontarkan pertanyaan klise. Bahagiakah hidupmu? Dimana tempat yang paling membuatmu nyaman?

Jawabannya adalah rumah. The Geography of Bliss adalah kisah tentang pencarian surga itu. Seperti kalimat terakhir dari penulis, surga adalah sasaran yang berpindah-pindah.

Diambil dari blog pribadi saya disini

Tags: review novel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 17 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: