Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Nia Deviana

"Percayalah pada mimpi-mimpimu,maka seluruh jagad raya akan membantumu mewujudkannya." (Paulo Ceolho)

(Review) 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

OPINI | 21 January 2013 | 15:25 Dibaca: 503   Komentar: 0   1

Berawal dari novel Dealova milik teman yang dipinjam secara bergilir di kelas semasa SMA, saya jadi salah satu orang yang menggilai novel. itu sudah berlangsung selama enam tahun. saking hobinya, hadiah ulang tahun pun (kalo boleh request) mintanya novel. Karena selain menghibur dan bisa memberi inspirasi, novel/buku itu sifatnya awet. Jadi, bisa diwarisin buat anak kalau udah nikah nanti. Hehehe.

Nah, ini adalah salah satu novel favorit saya. Paragraph demi paragraph di dalamnya mampu menambah rasa cinta saya pada Islam. Judulnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Novel ini merupakan sebuah karya nonfiksi yang ditulis Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Terbit sekitar bulan Juli 2011 dan telah masuk kategori best seller dengan tebal 412 halaman. Berbeda dari buku-buku perjalanan yang beredar di pasaran, di sini, Hanum mendedikasikan perjalanannya selama 3 tahun tinggal di Eropa sebagai wahana memperkaya dimensi spiritualnya. Mungkin belum banyak diantara kita yang tahu, bahwa Negara-negara Eropa seperti Wina, Paris, Spanyol pernah memancarkan sinar-sinar kebesaran peradaban islam yang begitu terang. Berikut sedikit banyak yang bisa saya petik dari novel tersebut.

1358756501299339642

99 Cahaya Di Langit Eropa

Entah apa yang membuat saya tergetar ketika pertama membaca judulnya. Mungkin Angka 99 yang dipadu dengan kata Cahaya. Dalam Islam, angka 99 melambangkan jumlah asma Allah atau sifat-sifat Allah SWT yang terangkum dalam asmaul husna. Sedangkan cahaya, berarti sinar yang menerangi. Dengan kata lain, novel ini menceritakan bagaimana peradaban Islam yang mengagungkan kebesaran Allah SWT pernah begitu terang benderang di Eropa.

Islam dan Eropa pernah Jadi Pasangan Serasi

Begitulah kalimat yang diungkapkan dalam buku ini. kalimat yang membuat saya tertarik untuk menoleh kemasa lalu. Namun, beberapa kejadian terakhir membuat hubungan keduanya menjadi pasang surut. Luka akibat perang salib yang mungkin masih membekas, serta adanya manusia-manusia yang ingin mengadu domba keduanya, menjadi faktor hubungan islam dan eropa merenggang.

Umat Islam Dahulu Vs Sekarang

Umat islam dahulu yang menyiarkan islam dengan perantara kalam (ilmu pengetahuan dan teknologi), membuat luas teritori peradaban islam pada kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekuasaan Roma di bawah Julius Caesar.

“…Bahkan Islam juga yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates. Juga meniupkan angin Renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, sebagai pusat peradaban pengetahuan dunia, merupakan ibukota kekhalifahan islam di Spayol. Benih-benih islam tumbuh menyinari tanah spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam.

Sebuah realita yang bertolak belakang dengan kondisi saat ini. dimana dunia islam mulai memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar seribu tahun yang lalu.”. (99 Cahaya Di Langit Eropa, h.5)

Bagian ini yang membuat saya sebagai umat islam merasa tertegun. Sependapat dengan apa yang diungkapkan Hanum. “Kemudian ketika ada Negara yang melarang pemakaian jilbab, pembangunan minaret, atau ada orang yang mengolok-olok islam dengan membuat video fitna, kita hanya bisa berteriak-teriak di depan kedutaan Negara sambil membakar bendera. Hanya itu.”

Lagi-lagi, saya merasa tertohok.

Menjadi Agen Muslim Sejati

“Barang siapa yang melupakan sejarah, ia pasti akan mengulanginya.” –George Santayana-

ini adalah bagian yang paling saya sukai. Belajar dari kisah imigran turki bernama Fatma Pasha yang tinggal di Wina, kita akan mengerti, bahwa menjadi agen muslim yang baik bukanlah dengan kekerasan dan paksaan, atau mungin teriakan jihad yang akan menelan banyak korban. Jelas bukan itu. Fatma telah belajar dari sejarah kekalahan islam di negaranya, bahwa menjadi agen muslim yang baik haruslah ditunjukan dengan menebar kebaikan dan perilaku positif kepada siapapun. Seperti Akhlak yang selalu diajarkan baginda Rasulullah SAW.

Dan setelah selesai membaca buku ini, saya berusaha meresapi untaian kalimat yang dikatakan sahabat Ali bin Abi Thalib ra :

“Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaannya yang tenggelam. Maka, jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkan keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 5 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 10 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 12 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Membangun Brand Image Melalui Service …

Ika Nesiha | 8 jam lalu

Kopdar Akbar dan Hadiah Berlimpah di Acara …

Fey Down | 8 jam lalu

Mencari Rezeki Tidak Sebercanda Itu …

Dhea Chairunnisa | 8 jam lalu

Menggugat Tuhan …

Dhea Chairunnisa | 8 jam lalu

Gugat Jokowi: Class Action atau Citizen …

Wilopo Husodo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: