Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Themmy Doaly

Seorang yang biasa-biasa saja. Dan, dalam beberapa hal, sering merasa spesial ketika keluar dari kebiasaan selengkapnya

Teologi Pembebasan

OPINI | 24 January 2013 | 21:44 Dibaca: 1076   Komentar: 0   1

“… Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dengan mereka yang ateis, tetapi dibagi antara mereka yang tertindas dengan mereka yang menindas, antara mereka yang berusaha mempertahankan tatanan masyarakat yang tidak adil ini dengan mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan,” – Frei Beto, pemimpin gerakan kristen di Brazil.

Agama, ketika ia mengambil sikap diam, sering mendapat cibiran sebagai “candu”. Namun, ketika ia mencoba mengambil posisi dalam sebuah tatanan politik, dengan segera akan muncul gugatan dan batasan untuk itu. Lepas dari skeptisme tersebut, seorang sosiolog kelahiran Brazil, Michael Lowy namanya, berusaha untuk menunjukkan bukti bahwa agama tidak sepenuhnya diam. Ia bisa saja cair dan bergerak sesuai arahan manusia di belakangnya.

Awalnya, demikian catat Lowy, Teologi Pembebasan lahir dari tulisan tangan Gustavo Gutierrez, seorang Yesuit Peru. Pada tahun 1971, Gutierrez menerbitkan karya yang begitu berpengaruh dengan judul “Liberation Theology – Perspective” . Ia memiliki beberapa asumsi penting dalam buku itu, dan mengajak umat untuk menanggalkan paham ganda yang diwarisi dari pemikiran Yunani.

Ia tak percaya akan adanya dua kenyataan ganda, seperti yang selama ini dipradugakan: yang satu bersifat fana (temporal), yang lain bersifat rohani (spiritual). Dan lagi, ia menolak wajah biner sejarah, antara yang “suci” (sacred) , dan “duniawi” (profane). Hanya ada satu sejarah dan itu terjadi dalam sejarah manusia yang fana… “bahwa penebusan dan kerajaan Tuhan mesti dapat diwujudkan kini dan di dunia ini.”

Lowy kembali menggunakan gagasan Gutierrez untuk mencatatkan kritiknya yang begitu keras terhadap kepemilikan privat yang selalu saja mengalirkan keuntungan pada sekelompok kecil manusia, dengan mengorbankan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas. Ia meyakini revolusi sosial baru bisa terwujud bila terjadi perubahan kepemilikan secara tegas, dengan pemberian kekuasaan penuh pada kelas yang terhisap.

Nampak begitu jelas, dari gagasan Gutierrez yang dikutip Lowy, terdapatnya usaha untuk menggabungkan meterialisme dengan idealisme, menggabungkan dunia dengan surga. Pemikiran tersebut, secara teoritik sebenarnya terbilang sia-sia namun secara praktik ada hasil serta proses yang patut diperhitungkan. Bahwa retorika mampu membuat sesuatu, yang sebenarnya mustahil, menjadi gerak radikal yang tegar memperjuangkan cita-cita tanpa lelah.

Micahel Lowy menamainya “aksi mendamaikan agama dengan marxisme”. Sebagai gerakan, nampak perjuangan kelas di mana kaum tertindas berusaha melepaskan diri dari penghisapan kelompok penindas. Namun, ia tak bisa memungkiri bahwa di dalam gerakan pembebasan, sebagai pemimpin “gereja orang miskin”, Uskup dan Pendeta tetap berstatus sebagai sosok yang “bukan miskin”.

“Doktrin Teologi Pembebasan,” demikian dituliskan Lowy, “memperlihatkan gugatan moral dan sosial yang amat keras terhadap ketergantungan pada kapitalisme, sebagai sistem yang tidak adil dan tidak beradab”.

Meski menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai penggerak massa untuk menumbangkan rezim diktator, namun Teologi Pembebasan bukanlah gerak untuk membentuk struktur politik yang bersifat teokrasi. Barangkali, karena kelompok agama tidak bergerak sendiri, secara ide maupun praktik, kelompok Marxis menjadi kekuatan lain yang juga berusaha merubah tatanan sosial-politik.

Teologi pembebasan jelas bukan gerak retorik. Tokoh penggeraknya tidak hanya menghabiskan waktu berceramah di gedung gereja. Mereka ada di medan tempur dan membiarkan diri menjadi martir. Selalu ada cita-cita di balik sebuah perjuangan, dan para “tentara Tuhan” berharap mendatangkan surga lebih cepat: surga di dunia.

Catatan Michael Lowy menunjukkan keberhasilan gerakan Teologi Pembebasan, di beberapa negara – dari sisi ide maupun praktik. Pesan para tokoh penggerak berhasil memecah sikap diam pengikut Kristen di Amerika Latin. Gerakan mereka juga mampu menumbangkan pemerintah yang dinilai diktator-totaliter.

Lantas, di mana posisi Agama (dalam hal ini Kristen dan Katolik) di Amerika Latin setelah berhasil menggulingkan kekuasaan? Tak banyak yang dicatatkan Lowy selain pernyataan Church and Revolution in Nicaragua – Pusat Penelitian Gereja Antonio Valdivieso. Pernyataan yang sebenarnya, menurut saya, bernada kompromis pada kesalahan yang dibuat pemerintah baru, yang jika mengingat kembali cita-cita mereka, adalah pemerintah yang berhasil mendatangkan “surga di bumi”.

“Kami mengakui bahwa FSLN (Frente Sandinista de Liberacion Naconal – Front Sandinista untuk Pembebasan Nasional) memang adalah barisan pembela rakyat. Meskipun demikian, mereka dapat saja berbuat salah… Bahkan dalam soal yang sangat penting seperti masalah Miskito, masalah pembagian tanah, sensor pers, dan sebagainya. Juga membuat beberapa kekhilafan, menurut pandangan kami, dalam hubungannya dengan Gereja, misalnya: pengusiran sepuluh orang romo… (Tetapi) kami juga melihat adanya ketulusan di kalangan para pemimpin FSLN untuk mengakui dan memperbaiki berbagai kekeliruan tersebut.”

Dalam “Teologi Pembebasan”, Lowy mendeskripsikan bagaimana teks memecah keyakinan, atau katakanlah membentuk keyakinan baru. Ayat suci yang dikandung injil menghasilkan penafsiran yang bertolak belakang di antara pengikut Kristus. Di satu sisi mengajarkan kasih, pada saat yang bersamaan mengumandangkan perubahan lewat perang.

Sebenarnya, tulisan Lowy berusaha membantah keyakinan konservatif, di mana pengikut Kristen selalu membenarkan argumen pemerintah, yang dinilai sebagai “wakil Tuhan”. Agama mesti menyuarakan kebenaran. Ia harus bisa membawa umat keluar dari penindasan “Firaun” (label untuk pemimpin yang menyengsarakan rakyat).

Jika agama diyakini sebagai “propaganda paling murah”, gerak Teologi Pembebasan – yang berkembang di Amerika Latin era 1960’an – memberi pelajaran penting bahwa ada harga yang jauh lebih mahal akibat “propaganda murah” tersebut: ada pemimpin agama yang dibunuh, ada umat yang saling bantai.

Tak bisa dipungkiri kemampuan agama dalam menggerakkan penganutnya, termasuk yang terjadi di Amerika Latin. Terlepas dari hasil akhir, karena terdapat perpecahan di dalam institusi agama, namun proses mempengaruhi (barangkali juga memecah) cukup jelas untuk disaksikan: injil, misalnya, mampu menstimulus penganut Kristen untuk saling bantai.

“… Atas nama Tuhan, atas nama rakyat kita yang teraniaya, yang tangis mereka membumbung tinggi sampai ke Sorga, saya memohon kepada anda sekalian, saya meminta anda sekalian, saya perintahkan kepada kalian: HENTIKAN PENINDASAN INI!” seru Monsinyor Romero, pemimpin Teologi Pembebasan El Salvador, sehari sebelum ia terbunuh.

Terlepas dari tendensi Marxisme-nya, Teologi Pembebasan menjadi bukti bahwa agama (bisa) tidak diam. Ia bisa saja bergerak dan cair dalam suatu kondisi yang dibentuk. Dengan tidak mengabaikan doktrinisasi para pemimpinnya, gerak radikal ditunjukkan agama secara institusional untuk menciptakan, setidaknya mengusahakan, tatanan masyarakat yang diimpikan.

Namun, gerak institusi – termasuk agama – tak pernah lepas dari celah. Gerak itu, bukan saja berbentuk pertarungan secara vertikal, antara yang menindas dengan yang ditindas, tetapi bisa juga terjadi secara horizontal, antara sesama pemeluk agama, serta pertarungan antara mereka yang berlainan agama. Di Indonesia, sejak 1998 hingga kini, kita masih bisa menyaksikan penganut agama, yang sama-sama manusia itu saling bantai. Rumah ibadah dibakar, ada juga yang dirobohkan. Manusia-manusia, sambil menjual nama Tuhan, saling tikam.

Selain itu, ayat kitab suci – sebagai teks yang diam – sangat mungkin menimbulkan pertentangan serius dalam agama. Di mana keyakinan pada Tuhan mendapat tempat yang begitu rendah lewat penafsiran manusia. Atau meminjam pernyataan Goenawan Mohhamad “Tuhan bukan lagi di atas sana, tetapi diletakkan begitu hina hingga di kolong meja”.

Lewat tafsir tokoh agama, Tuhan bukan lagi sosok yang di luar akal manusia. Penafsiran itu membuat-Nya menjadi sesuatu yang bisa direngkuh, dijaga dan dimiliki secara privat maupun kelompok. Sehingga, siapa saja yang mengambilnya dari seseorang, akan dianggap pencuri yang pantas mendapat hukuman. Pada lain sisi, mustahil menjaga kemurnian teks kitab suci – yang sudah tentu memerlukan penafsiran pembacanya. Lalu, mengharapkan Tuhan berkomunikasi secara nyata, muka dengan muka, pada umat-Nya.

Setidaknya, keyakinan Dewi “Dee” Lestari yang menempatkan Tuhan dalam batinnya sebagai bentukan pengalaman, sedikit-banyak nampak paling bisa mengurangi pertikaian para pengikut Tuhan. Tak ada yang perlu dipermasalahkan jika kita meyakini Tuhan kita masing-masing, walau pada akhirnya disimpulkan bahwa “Tuhan tak pernah Esa”.

Bisa juga menoleh pada gagasan Gandhi bahwa “Tuhan tidak punya agama”. Suatu pernyataan yang jauh lebih humanis ketimbang tenggelam dalam tafsir yang begitu beragam. Bahwa manusia tak perlu “memperjuangkan” Tuhan dengan doktrin-doktrin agama lalu menumpahkan darah manusia lain yang berusaha mempertahankan Tuhan-nya.

Sampai di sini, saya belum juga menemukan jawaban memuaskan mengenai posisi agama dalam politik, termasuk gagasan Teologi Pembebasan. Agama memang menjadi alat untuk mengeluarkan diri dari penindasan, tapi agama yang sama – pada saat yang sama – juga mengambil posisi sebagai penindas manusia. Sehingga “surga di dunia” bisa datang bersamaan dengan “neraka di dunia”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 5 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 7 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 8 jam lalu

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 9 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: