Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Bonari Nabonenar

Bonari Nabonenar menulis (tidak banyak) dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Buku: Cinta Merah Jambu selengkapnya

Novel: Jalan Lain ke Jogja

OPINI | 03 March 2013 | 12:12 Dibaca: 216   Komentar: 0   0

Seperti diakui pengarangnya, naskah awal cerita Jalan Lain ke Jogja ini dituis dengan ponsel atau telepon genggam alias HP. Setiap satu atau dua paragraf dikirimkan sebagai surel (email) atau pesan ke kotak Facebook, tanpa tanda yang menyatakan urut-urutannya. Hal ini menimbulkana kesulitan babak pertama. Akibatnya, ketika potongan-potongan naskah saya unduh, saya rangkaikan, dan saya perlihatkan kepada pengarangnya, ketahuan bahwa urutannya menjadi acak. Alhasil, pengarang mesti bersusaha-payah mengembalikan ke urutan aslinya.

Kesulitan babak kedua timbul karena naskah awal yang ditulis dengan ponsel itu menggunakan pedoman “EYD” (ejaan yang di-sms-kan), penuh dengan singkatan, tanda baca yang salah letak, yang menyimpang jauh dari Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) .

Tugas saya sebagai penyunting adalah menguraikan singkatan-singkatan (bahasa SMS) itu dan menempatkan tanda baca pada posisi seharusnya. Tidak lebih dari itu. Apalagi mengingat cerita ini lebih merupakan cerita yang berbasis pengalaman nyata yang dialami penulisnya sendiri, tidak saya biarkan tangan saya memasangkan sayap pada kata-kata atau kalimat aslinya. Saya tahu, kata-kata bersayap hanya akan merusak cerita yang sudah bagus ini.

Sebagai corong realitas, cerita ini sangat bagus dan PENTING untuk dibaca oleh sesama perempuan, karena ini akan mengabarkan bahwa perempuan, siapa pun, tidak sendirian dalam upaya menegakkan keadilan dengan cara dan potensi masing-masing.

PENTING untuk dibaca oleh laki-laki yang akan segera sadar bahwa pola pikir masyarakat pada umumnya, atau bahkan kebudayaan kita, masih terlalu berpihak kepada laki-laki, bahwa bisa jadi laki-laki bukanlah apa-apa di hadapan para perempuan perkasa, yang mampu terbang melintasi berbagai negara -sementara laki-lakinya hanya bisa diam menunggu, bahkan, “uang rokok pun didapat dari belas-kasih orangtua!”

PENTING untuk dibaca para pejabat, para aparat negara, karena kepolosan cerita ini akan segera mengabarkan kegagalan negara dalam menyediakan cukup lapangan kerja, menyejahterakan, dan melindungi segenap warga dan tanah tumpah darah. Alih-alih melindungi, sebagian oknum aparat negara justru menjadi preman pemeras di terminal dan di bandara, seperti serigala yang selalu kelaparan bila mencium kedatangan para pekerja migran.

PENTING untuk dibaca para sastrawan yang sudah banyak bersenandung, ketika zaman boleh jadi justru lebih membutuhkan penulis-penulis yang berteriak seperti Asih Aspalia ini.*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 6 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 8 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: