Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Achmad Holil

Bagian dari masyarakat RepublikBelajar.org yang memimpikan pendidikan Indonesia melahirkan manusia seutuhnya. Pengintegrasi Softskill ke Matakuliah. selengkapnya

Babon Guru Kurikulum 2013 Masih Bisa Diperbaiki

OPINI | 08 March 2013 | 05:16 Dibaca: 986   Komentar: 0   0

Penyiapan buku pegangan guru pada kurikulum 2013 yang disebut Babon menjadi pembeda dengan implementasi kurikulum-kurikulum sebelumnya. Babon akan mengarahkan guru untuk bisa melakukan pembelajaran di kelas dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, Babon disusun dengan elemen dan format sebagaimana panduan-panduan pembelajaran yang baik.

Namun, mencermati isi babon yang ada ternyata masih bisa diperbaiki diberbagai sisi. Berikut paragraf-paragraf yang akan menjelaskan domain pembelajaran mana saja yang bisa ditingkatkan. Moga-moga dengan masukan ini bisa sedikit mendongkrak pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Untuk melihat contoh Babon klik di sini atau pada gambar berikut

13620834931640766187

Salah Satu Gambar Dalam Babon Guru Kurikulum 2013 Kelas 4 (Sumber FB IGI)

Alokasi WaktuPpembelajaran

Update terakhir struktur pembelajaran kurikulum 2013 untuk SD kelas 4, Alokasi mapel Pendidikan Agama dan budi pekerti 4 Jam Pelajaran (JP), PPKn 4 JP, Bahasa Indonesia 7 JP, Matematika 6 JP, IPA 3 JP, IPS 3 JP, Seni Budaya dan Prakarya 4 JP serta Penjasorkes 4 JP yang totalnya 36 JP per minggu.

Dalam Babon ini pembagian alokasi waktu pembelajaran mapel sebagaimana tersebut di atas belum didapatkan. Setiap rencana pembelajaran hanya terbagi dalam kegiatan harian saja. Disisi lain pembagian kegiatan harian dalam buku Babon ini, apakah diperuntukkan bagi sekolah yang masuk 5 hari atau 6 hari perminggu? belum juga ditemukan keterangannya.

Dengan cara ini, dikhawatirkan guru dalam menyelesaikan kegiatan perharinya bisa melebihi atau mengurangi alokasi waktu yang semestinya. Penyelesaian kegiatan belajar seperti ini benar-benar tergantung pada “kecerdasan siswa” dan “kesigapan guru”.

Indikator Capaian Kompetensi

Penetapan indikator capaian kompetensi senyatanya adalah pilihan indikator yang dapat menggambarkan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Di dalam Babon tersebut, terlihat ada beberapa kompetensi (Penjasorkes, Bahasa Indonesia KD2) yang hanya memiliki satu indikator capaian. Artinya dengan satu indikator tersebut, guru sama saja hanya mengukur dari satu sudut/sisi saja.

Menurut Taksonomi Bloom, indikator capaian terdiri dari 3 ranah pembelajaran cognitif, affective, dan psycomotor. Terlihat dalam Babon tersebut, indikator dari setiap kompetensi dasar masih hanya diukur dari satu ranah. Contohnya matematika yang indikatornya hanya pada ranah cognitif, padahal kalau diperhatikan kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah mempergunakan penaksiran hasil perhitungan atau penerapan matematika yang tentu ada kaitannya dengan kemampuan ranah affective.

Taksonomi Bloom juga mengajarkan bahwa indikator capaian kompetensi itu berjenjang sesuai tingkat kemampuan yang akan diukur. Pada contoh babon yang ada, indikator capaian untuk sub tema 1 kegiatan hari ke 1 yang ditetapkan lansung pada ukuran tingkat kemampuan yang ke  2 (mencontohkan) atau 3 (melakukan). Bukannya itu meloncat, atau memang siswa kelas 4 akan ditargetkan pada tingkat kemampuan yang tinggi?

Strategi dan Model Pembelajaran

Sejatinya strategi dan model pembelajaran apa saja yang diterapkan tidak ada yang salah. Karena strategi dan model pembelajaran ini ditetapkan berdasarkan bagaimana siswa bisa belajar. Dalam Babon ini sudah terlihat berbagai strategi dan model pembelajaran. Pada contoh yang ada bagaimana siswa belajar dengan mengamati, mengeksplore dan mengkomunikasikan gambar untuk mencapai kompetensi menghargai kebhinekatugalikaan dan keberagaman, mencari tahu dan menghitung pembulatan dari harga yang ada pada buku pengangan siswa dan jika perlu ditambahkan latihan soal-soal lain yang telah disediakan, dan bermain peran untuk mencapai kompetensi dasar penjasorkes dan bahasa Indonesia.

Dari sekian variasi strategi dan model pembelajaran, semestinya masih bisa diefektifkan dan fokuskan untuk mencapai kompetensi. Misalkan untuk mapel penjasorkes dengan kompetensi dasar menghargai tubuh dan dipilih indikator melakukan aktifitas fisik secara teratur, tidaklah mungkin bisa tercapai bila siswa hanya diberikan kemampuan pemahaman.

Assessment

Maksud assessment dilakukan untuk mengukur seberapa jauh siswa memiliki komptensi yang diberikan. Oleh karenanya assessment yang dilakukan mesti sesuai dengan indikator capaian dari setiap kompeensi dasar. Pada contoh yang ada, untuk assessment kompetensi dasar Bahasa Indonesia dan penjasorkes digunakan sebuah rubrik penilaian. Terlihat kriteria penilaian dalam rubrik tersebut kurang sesuai dengan indikator yang ditetapkan pada kedua mapel tadi.

Artikel Lain:

- Mengintip Babon Guru Kurikulum 2013
- Kelasnya Kompasiana, Gurunya Kompasioner
- RPP Menyenangkan Kurikulum 2013

*) Juga di post ke RepublikBelajar.org

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 13 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 15 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 16 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: