Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Irwan Bajang

Penulis, Blogger, Konsultan Perbukuan. Juga Tukang Masak Tentu Saja :)

Menerbitkan Buku Secara Mandiri

HL | 09 March 2013 | 01:30 Dibaca: 1480   Komentar: 43   27

13627950331568563123

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Setelah menulis, penulis tentu saja harus memublikasikan tulisannya. Ada banyak pilihan ketika kita selesai menulis. Mengirimnya ke media, memublikasikannya ke blog atau website pribadi, atau menerbitkannya menjadi buku.

Untuk memublikasikan ke media, biasanya penulis mengirim ke koran, majalah, jurnal atau media apa saja. Untuk cerpen dan puisi biasanya dikirim ke koran atau majalah. Skenario dikirim ke Production House dan novel dikrim ke penerbit. Dari sanalah sumber penghasilan para penulis.

Honor di koran bervariasi. Koran lokal membayar Rp300.000,- sampai Rp600.000-, sementara koran nasional membayar lebih dari itu, bahkan angkanya bisa menembus Rp1.200.000,-. Majalah tentu membayar lebih. Sementara jika menulis novel, penulis biasanya dibayar dengan royalti. Royalti dihitung dari harga jual buku dan dibayarkan berkala, sebulan, tiga bulan ataun enam bulanan, tergantung kontrak. Atau dengan sistem jual putus, yakni sebuah naskah dibeli kontan dan dibayar penuh sesuai kesepakatan.

Selain itu, banyak juga penulis yang mengupayakan sendiri untuk menerbitkan karyanya. Mereka biasanya mendesain, mengedit dan mencetak lalu menyebarkan bukunya sendiri atau bersama tim. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova karya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, nah, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan bukunya sendiri.

Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing, baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping CD audio tersebut. Selain itu, penjualannya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi, karena makin banyak tersedianya kamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis misalnya, karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tersebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik. Di banyak negara, praktik self publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self publishing semakin dipenuhi oleh anggota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri, beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalti penulis pemula hingga 10%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulis marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal best seller. Karena itu, ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Penerbitan buku secara mandiri atau self publish (saya lebih senang menyebutnya indie), memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia.

Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah teknologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak miss-persepsi tentang buku indie atau self publish. Self publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipakai jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut.

Setidaknya, saya menangkap ada praktik atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hal yang tak disadari oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan, buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicuci, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati lebih.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan dalam penerbitan sebuah buku:

1. Penyuntingan/Editing

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal.

Banyak orang beranggapan mengedit naskah hanyalah sebuah upaya membenarkan ejaan. Anggapan ini sangat keliru. Sebab mengedit naskah bukan hanya semata membenarkan, tapi juga mengoreksi secara utuh sebuah tulisan. Menjadikan tulisan itu sebisa mungkin menjadi tulisan sempurna yang tak bisa lagi direcoki dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; emang iya? Masa sih? Ngaco nih buku! dan lain sebagainya. Beberapa hal penting dalam penyuntingan buku setidaknya termaktub dalam poin-poin sebagai berikut:

a. Restrukturisasi kalimat yang kacau,

b. Koherensi kalimat dan pengecekan logika bahasa,

c. Pemantapan gagasan,

d. Pengaturan plot, penempatan ulang ide secara rapi dan tertata,

e. Pengecekan fakta,

f. Pengecekan catatan referensi,

g. Dll.

Dalam beberapa kasus, terutama dalam skala penerbitan besar, seorang editor bahkan merancang juga konsep, ukuran buku, sudut pandang penulisan, pemilihan font, rencana cover dan rencana distribusi serta pemasaran. Juga termasuk pembangunan isu serta koordinasi timbal balik antara penulis dan penerbitnya. Pada bagian  inilah, peran penting seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layout, cover, proof, cetak, promosi, dan distribusi.

2. Penyelarasan Aksara/Proof Reading

Penyelaras aksara atau biasa disebut proof reading adalah tahap lanjutan dari editing buku. Ibarat mengecat sebuah motor atau mobil, bagian ini adalah bagian penghalusan, clearing, sehingga hasilnya makin mengilap, tidak ada bagian cat yang tak rata dan sebagainya.

Dalam penyuntingan, proof reading mengoreksi ulang hasil seorang editor. Mengecek kembali ejaan yang masih keliru, penulisan catatan kaki, hypenation atau pemenggalan kalimat, dan beberapa hal yang terlihat sepele lainnya. Posisi ini sangat vital, sebab seorang editor tentu tak luput dari kesalahan lain yang ia kerjakan. Proof reading menekan kemungkinan kesalahan yang tak diharapkan.

Seorang proof reader bahkan kadang membaca secara terbalik kalimat-kalimat dalam sebuah naskah buku agar ia bisa benar-benar konsentrasi memeriksanya kata per kata.

3. Tata Letak/Layout

Tata letak menyangkut bagaimana sebuah buku dirancang isinya, ukuran font, mau rata kiri kanan atau rata kiri saja, format quote, dan lain sebagainya. Dalam proses ini jugalah sebuah tulisan dirancang semenarik mungkin tanpa mengabaikan bagaimana konsep isi. Tata letak juga memasukkan gambar, foto, ilustrasi dan tabel untuk mendukung beberapa fakta sebuah buku. Tugas layouter atau setter adalah menjadikan buku nyaman untuk dilihat dan dibaca.

4. Pembuatan Sampul/Cover

Please Judge a Book with It’s Cover! Buku dengan cover yang asal-asalan adalah buku yang dibuat tidak sepenuh hati dan tidak serius. Sebuah cover harus dirancang sebagus mungkin, proporsi warna yang pas, perwakilan sebuah gagasan besar, juga sebagai ciri khas seorang penulis atau sebuah penerbitan. Cover bisa dibuat manual dengan skets, lukisan atau dengan software grafis seperti corel draw, photoshop atau adobe ilustrator.

5. Cetak

Tahap berikutnya adalah menyetak buku. Tahap ini jangan dianggap sepele. Pada tahap inilah sebuah penerbitan atau seorang publisher buku indie harus bergerilya mencari partner yang pas dan seimbang. Sebuah buku yang disusun dengan bagus kan tidak mungkin bagus jika eksekusi akhirnya tidak maksimal. Pilihan jenis kertas, cover, laminasi dan penjilidan yang rapi akan membuat prestise sebuah buku juga akan naik.

6. Distribusi dan Promosi

Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku, kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi, seperti buku foto atau diary yang diniatkan untuk kalangan sendiri atau terbatas.

Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proof, cover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.

Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita sendiri? Gampang! Teknologi sudah berkembang sangat pesat. Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebook, ebook akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggal download dan baca. Canggih! Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita hanya tinggal telepon dan pesan, maka buku akan segera di tangan.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebook, twitter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu sms atau telepon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca. Simpel sekali!

Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda. Banyak penyedia blog gratis, blogger, tumblr dan wordpress adalah yang paling popular. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup mengeluarkan beberapa uang Anda untuk memesan domain website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda sukai, http://www.bukusaya.com misalnya, atau http://www.namasasayasiapa.com. Sangat gampang.

Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti kafe, distro, toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau dalam tenggat waktu tertentu. Tapi jika Anda tak mau repot, Anda juga bisa memajang buku Anda di toko buku langsung. Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN buku saja. Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau menggunakan jasa distributor untuk pemasaran yang lebih jauh dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari harga netto buku, atau 50%-65% untuk memakai jasa distributor.

***

Ketika memutuskan self publish, beberapa fase di atas tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus ketimbang penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktik self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja profesional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

@IrwanBajang

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 9 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 11 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 9 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 9 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 9 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 10 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: