Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Akhmad Husaini

Tinggal di Angkinang, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Blog pribadinya : www.sketsahss212.blogspot.com selengkapnya

Buku Mengenal Kue dan Masakan Khas Banjar

REP | 03 April 2013 | 02:01 Dibaca: 978   Komentar: 0   0

Sejak SD saya menyukai bacaan yang berbau budaya Banjar. Bila pergi ke perpustakaan umum, bacaan budaya Banjarlah yang pertama kali saya cari. Juga bila membaca koran terbitan lokal, yang saya baca lebih dahulu hal-hal yang berbau budaya Banjar. Seperti kisah bahasa Banjar, kesenian Banjar, pariwisata Kalsel,dsb. Kini kliping koran tentang budaya Banjar bejibun di almari saya.

Dari sinilah saya kenal nama-nama penulis yang eksis menulis tentang budaya Banjar. Salah satunya adalah Syamsiar Seman.

Penulis buku ini sudah lama saya kenal lewat karya-karyanya. Namun baru kali ini bisa bertemu langsung sekaligus berjabat tangan dengannya. Yakni pada momen Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, belum lama tadi.

Beliau membuka stand penjualan buku karyanya di Taman Kota Tanjung, tempat kegiatan ASKS VII berlangsung. Puluhan judul buku dipajang. Setelah memilih lantas tiga buku saya beli. Kemudian saya minta tanda tangan beliau di halaman depan ketiga buku yang dibeli tersebut.

Dari ketiga buku itu ada satu buku yang paling menarik dan saya sukai. Buku itu berjudul Wadai banjar 41 Macam. Buku setebal 84 halaman itu merupakan cetakan ketiga. Diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Banua, Banjarmasin. Foto sampul depan adalah pasar wadai Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

” Untuk memperoleh bahan tentang wadai ini saya beberapa kali mengunjungi pasar wadai di Banjarmasin, Kertak Hanyar, Gambut, Martapura, Kandangan, Barabai, dan Amuntai,” ungkap budayawan kelahiran Barabai, 1 April 1936 ini.

Di buku tersebut penulis dalam uraiannya menggunakan bahasa banjar. Alasannya adalah nara sumber umumnya adalah mereka yang berprofesi sebagai pembuat dan atau penjual wadai (kue) khas Banjar. Sesuai aslinya mereka menjelaskan dalam bahasa Banjar. Terdapat istilah-istilah yang tidak ada atau sukar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Contohnya istilah kamir (adonan apam), lunyut kunyur-kunyur (bingka), sintal, bula-bula (santan), sagurakan (lama merebus), mamak (gumbili), dilayur (daun pisang), dsb.

” Selain itu juga sekaligus untuk melestarikan bahasa Banjar sebagai bagian dari budaya Banjar yang perlu dipelihara, dan dikembangkan agar eksistensinya sejajar dengan bahasa-bahasa daerah lain di Nusantara,” kata penulis yang belum lama tadi mendapat anugerah gelar keagungan dari Raja Muda Kesultanan Banjar, Pangeran H Khairul Saleh, berupa gelar Datu Mangku Adat.

Yang cukup berkesan pada buku ini dicantumkannya kata sambutan Ketua TP PKK Kalsel, Hj Hayatun Fardah, yang antara lain menyebutkan bahwa kuliner (masakan dan kue) daerah telah dilirik oleh dunia pariwisata, karena nilai rasanya yang khusus.

” Apabila ada seorang ibu yang mencoba mengolah wadai Banjar ini satu macam saja setiap hari, maka ibu itu akan menghabiskan waktunya selama 72 hari. Bahkan mungkin sampai 3 bulan,” ujar Syamsiar Seman.

Adapun 41 macam wadai Banjar yang terdapat dalam buku ini adalah : apam habang, apam putih, bubur habang, bubur putih, bubur baayak, babungku, babalungan hayam, bingka, cingkaruk habang, cingkaruk putih, cincin, cucur habang, cucur putih, cucur kuning, dodol habang, dodol putih, gagatas habang, gagatas putih, hintalu karuang, kakicak habang, kakicak putih, kakicak gumbili, kukulih habang, kukulih putih, kalalapun, lakatan putih bahinti, lakatan putih bahintalu, lamang, lupis, pupudak baras, pupudak sagu, papari, putu mayang, ruti baras habang, ruti baras putih, ruti sagu, surabi, tapai baras, tapai gumbili, ular-ular, dan wajik.

Sementara tambahan wadai lainnya adalah : apam Barabai, apam paranggi, amparan tatak pisang, bubur gunting, bubur kacang, bubur randang, buras, bingka Hamuntai, bingka barandam, bingka kantang, bingka tapai, cincin talipuk, dadar gulung, dodol Kandangan, guguduh pisang, guguduh gumbili, guguduh tiwadak, kalalapun Martapura, karupuk Marabahan, karupuk kulit sapi, patah, pundut nasi, rangai, ruti pisang, dan wadai duduitan.

Buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto pasar wadai di beberapa kota di Kalimantan Selatan. Seperti pasar wadai di Martapura, Kandangan, dan Amuntai.

Penasaran dengan isi buku ini ? Silakan beli di toko buku. Atau tertarik ingin membuat dan mencicipi wadai Banjar ? Tetapi tidak memliki bukunya, saya siap meminjamkan buku milik saya. Tapi ada syaratnya ? Syaratnya adalah kalau sudah bisa membuat wadainya, bagi-bagi dong kepada saya. He…hee…heee…heeeeee***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 14 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 15 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 16 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 19 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: