Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Hasan Sebastian

mahasiswa penerima beasiswa dari Yayasan Baitul Mal (YBM) BRI, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas selengkapnya

Resensi Novel 99 Cahaya di Langit Eropa

REP | 14 April 2013 | 07:22 Dibaca: 1575   Komentar: 0   0

http://illawise.com/wp-content/uploads/2012/05/99-cahaya1.jpg

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra
Kategori: Novel Islami
Tebal: 412 Halaman
Harga: Rp. 69.000,-

Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra dimana banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.”

“Perjalanan bukan sekedar menikmati keindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Tapi perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yg lebih tinggi, memperluas wawasan dan menambah keimanan,” kata Hanum dalam menguraikan hikmah perjalanannya.

Tinggal di Eropa selama 3 tahun merupakan arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya, penulis menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian ini pun telah mengantarkan putri kesayangan Bapak M. Amien Rais ini pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Dirinya tak menyangka jika sesungguhnya Eropa juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Eropa dan Islam. Keduanya pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Penulis pun merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya ini.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa ini bermula dari pertemuan penulis dengan seorang perempuan muslim bernama Fatma Pasha. Seorang imigran Turki yang tinggal di Wina, Austria. Sebagai seorang Turki di Austria, Fatma mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini, Fatma mencobanya lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati. Ia menyebarkan misi menjadi “agen muslim yang baik” , meluruskan arti jihad sebenarnya bukan dengan gencatan senjata dan berperang namun lebih luas dengan perantaraan kalam (pengetahuan).

Hanum dan Fatma lalu mengatur rencana. Keduanya mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Hingga akhirnya perjalanan pertama ini justru mengantarkannya ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban di Eropa.

Di Paris, Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Penjelasan Marion ini telah membukakan mata hati penulis dan membuatnya jatuh cinta lagi dengan agamanya, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh kasih dan damai.

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan kelam; saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, penulis merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Sebuah pengalaman yang makin memperkaya spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Ditulis dengan gaya bertutur personal, buku yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan sang suami tercinta, Rangga Almahendra ini akan membawa kita ke dalam lingkungan hidup yang riil. Penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam maupun pada saat ini. Cara penyampaiannya pun sangat jelas, ringan, dan lancar mengalir. Lewat kisah menarik ini juga, penulis akan membuka mata kita akan pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan.

Berbeda dari buku-buku traveling sebelumnya, akhir dari perjalanan penulis selama 3 tahun di Eropa ini justru mengantarkannya pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna, Allah SWT.



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: