Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Widyastuti Dhelan

Lahir di Yogya dibesarkan di Pasuruan, kuliah kembali di Yogya dan mulai bekerja di Bogor selengkapnya

Resensi Novel Tentang Aura Kecantikan

OPINI | 13 May 2013 | 23:08 Dibaca: 222   Komentar: 0   1

13685093461094522812 Foto Sampul Nuzula Fildzah
Membaca Novel Kemarau Di Kota Hujan ibarat membaca tentang aura kecantikan seorang wanita.Tokoh Aini Mardiyah adalah seorang gadis yang digambarkan sebagai seorang muslimah cerdas, cantik selain lahirnya juga cantik batinnya. Mungkin kita akan jarang menemukan wanita seperti Aini Mardiyah. Kecantikan Aini penuh dengan aura keindahan, keramahan, kedamaian dan kesejukkan. Memiliki kepribadian yang kokoh, percaya diri dan memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Yang terakhir ini wajar karena Aini dilahirkan dari latar belakang keluarga berada dan berpendidikan. Ayahnya seorang Dosen senior di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Tanah Air. Aini Mardiyah ini yang membawa hati Indra Susanto kembali tergugah dari kepedihan masa lalunya karena perpisahannya dengan Erika AmeliaMawardani.
Inti dari Novel ini sebenarnya adalah di Episode 8 : Surat Cinta Elektronik. Dalam episode ini semakin terbuka perasaan Indra dan Aini. Bagaimana mereka mengemukakan rasa rindu yang menggebu melalui email. Jarak antara Brisbane dan Bogor yang jauh tapi serasa dekat karena ada rasa rindu dalam email mereka. Inilah email Aini yang mulai menguak tabir cinta mereka :
Indra!. Kesibukkan kuliahku semakin padat. Minggu depan sudah ujian tengah semester. Aku harus mempersiapkan sebaik mungkin agar nilai-nilaiku cukup bagus. Seperti biasa aku selalu berharap kau mau berdoa untukku. Oh ya dua hari yang lalu aku terima email dari Erika. Dia bercerita padaku dua bulan yang lalu Erika  dikaruniai Allah bayi perempuan yang cantik. Ini adalah emailnya yang ketiga berupa kabar gembira. Aku juga bercerita padanya bahwa kau sekarang sudah jadi dosen. Erika senang sekali mendengar tentang beritamu. Dia juga pernah menanyakan padaku apakah Indra sudah punya kekasih. Untuk pertanyaan yang satu ini aku tak berhak untuk menjawabnya maka sambil bergurau aku mengatakan kepada Erika :”Tanya aja langsung sama orangnya!”.

Di setiap emailnya Erika selalu memberi kesan padaku bahwa nampaknya dia tidak merasakan kebahagiaan bersama suaminya. Dia mengakui suaminya sangat mencintainya, sabar penuh pengertian bahkan sangat memanjakannya. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan, kata Erika padaku. Sekarang ini setelah bayi cantik itu lahir dari rahimnya, Erika bertekad untuk mulai belajar mencintai suaminya. Dia harus berani menghadapi kenyataan. Hidup ini adalah masa depan bukan masa lalu, itu kata Erika. Dia memang tidak bisa melupakanmu Indra tapi sekarang dia harus belajar mencintai suaminya tanpa harus melupakanmu. Begitu dia menulis email itu padaku. Sengaja aku bercerita tentang Erika ini padamu Indra agar kamu juga bisa bersikap seperti Erika. Hidup ini adalah masa depan bukan masa lalu!”.
Email ini yang telah membuat Indra Susanto memiliki keyakinan bahwa Aini memang mencintainya. Berikut email Aini lagi :
Ya Indra tadinya memang aku tidak tahu apakah Indra Susanto sudah punya kekasih? Setelah aku tanyakan kepada hati terdalamku maka aku berani menjawab Indra Susanto sudah punya kekasih yang sangat mencintainya. Aku harus mengatakan kepada Erika agar dia juga merasa lega untuk mengarungi hidup ini adalah masa depan bukan masa lalu. Sesungguhnya aku juga ingin bertanya kepadamu Indra. Apakah Aini Mardiyah sudah punya kekasih?. Tentu aku memohon padamu untuk dapat menjawabnya. Aku yakin kau pasti tahu jawabannya. Jika tidak sebaiknya kau juga harus bertanya pada hati terdalammu. Aku akan sabar menunggu jawabanmu apakah malam ini, besok malam, lusa malam, malam bulan depan bahkan malam tahun depan atau bahkan malam ketika aku sudah lulus S2 dan pulang ke Indonesia.

Maka cinta mereka pun saling bersambut di Bandara International Soekarno-Hatta, ketika Indra menjemput Aini disana saat Aini pulang ke Indonesia dari Brisbane.

Novel fiksi ini berisi 150 halaman ini ditulis apa adanya dengan gaya bahasa yang mengalir begitu saja namun cukup untuk menjadi inspirasi bagi pembacanya terutama para wanita yang ingin menjadi sempurna seperti Aini Mardiyah.
Judul          : Kemarau Panjang di Kota Hujan
Penulis       : Hensa
Tahun terbit: April 2013
Halaman     :150 halaman
Ukuran        : 13 x 19 cm
Genre         :Novel
ISBN          : 978-602-7749-70-2

Sumber Bacaan : http://beautycantiq.blogspot.com/2013/05/resensi-novel-tentang-aura-kecantikan.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 5 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 7 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 11 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 13 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: