Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Bona Ventura Ventura

#Dear TwitterBook, #LoveJourneyBook @leutikaprio

Menulis Puisi: Perkara Hidup atau Mati (?)

OPINI | 21 May 2013 | 14:26 Dibaca: 247   Komentar: 4   3

Apakah masih ada fungsi orang menulis puisi? Apakah tak ada hal lain yang dapat dilakukan selain menulis puisi? Apakah dengan menulis puisi penyair bisa hidup layak?

Mari tengok ke rak buku laris di toko buku, jarang terdapat buku puisi di sana. Rata-rata buku laris terdiri novel dan buku ”how to.” lalu, mengapa buku puisi masih dicetak? Mengapa masih ada penerbit yang tetap mencetak, meski sudah sadar konsekuensinya. Penjualan terbatas dengan segmen pembaca yang juga terbatas.

Sejatinya puisi memiliki efek yang baik untuk para pembaca. Ada ungkapan bahwa sebuah bangsa yang bar-bar atau manusia yang kasar bisa saja belum pernah membaca puisi dalam sejarah hidupnya.

Seno Gumira Ajidarma dalam kata pengantar buku kumsi (kumpulan puisi) Renungan Kloset karya Rieke Dyah Pitaloka menulis bahwa setiap kali ada orang Indonesia menulis puisi, kita harus bersyukur, karena kalau toh ia tidak berhasil menyelamatkan jiwa orang lain, setidaknya ia telah menyelamatkan jiwanya sendiri. Puisi memang tidak bisa menunda kematian manusia, tapi puisi jelas menunda kematian jiwa dalam diri manusia yang masih hidup. Hal ini dimungkinkan, karena dari sifatnya, puisi membebaskan diri dari kematian budaya.

Mungkin itu satu alasan dari penerbit yang masih setia menerbitkan buku puisi, karena saat setiap satu buku puisi terbit, buku tersebut mengemban misi mulia: untuk membebaskan diri manusia dari kematian jiwa dan budaya. Pembaca dan penikmat puisi lambat laun jiwanya semakin lembut. Melalui kelembutan yang dimiliki, maka pembaca puisi akan memilih cara atau jalan damai dalam mengarungi hidupnya. Bahkan bagi seorang sastrawan dari Bali, Oka Rusmini bahwa menulis puisi baginya adalah semacam upacara penunda kematian. Dengan puisi saya berdialog dengan hidup, berkompromi dan berpikir tentangnya: menyadari bahwa saya benar-benar manusia. Mari mulai menulis minimal satu puisi di buku harian manual atau digital. Nikmatilah dan rasakan sensasi menulis dan membaca puisi. Minimal kita telah menyelamatkan jiwa sendiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 7 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 7 jam lalu

Wisata Magelang – Menuju Kejayaan …

Sigit Mardiyanto | 7 jam lalu

Gejolak Pikiran setelah Berkunjung ke …

Mad Solihin | 7 jam lalu

Buku: antara Hidup dan Mati …

Onenation | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: