Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Bona Ventura Ventura

penyuka kata dan estetika @allewunder

Menulis Puisi: Perkara Hidup atau Mati (?)

OPINI | 21 May 2013 | 14:26 Dibaca: 243   Komentar: 4   3

Apakah masih ada fungsi orang menulis puisi? Apakah tak ada hal lain yang dapat dilakukan selain menulis puisi? Apakah dengan menulis puisi penyair bisa hidup layak?

Mari tengok ke rak buku laris di toko buku, jarang terdapat buku puisi di sana. Rata-rata buku laris terdiri novel dan buku ”how to.” lalu, mengapa buku puisi masih dicetak? Mengapa masih ada penerbit yang tetap mencetak, meski sudah sadar konsekuensinya. Penjualan terbatas dengan segmen pembaca yang juga terbatas.

Sejatinya puisi memiliki efek yang baik untuk para pembaca. Ada ungkapan bahwa sebuah bangsa yang bar-bar atau manusia yang kasar bisa saja belum pernah membaca puisi dalam sejarah hidupnya.

Seno Gumira Ajidarma dalam kata pengantar buku kumsi (kumpulan puisi) Renungan Kloset karya Rieke Dyah Pitaloka menulis bahwa setiap kali ada orang Indonesia menulis puisi, kita harus bersyukur, karena kalau toh ia tidak berhasil menyelamatkan jiwa orang lain, setidaknya ia telah menyelamatkan jiwanya sendiri. Puisi memang tidak bisa menunda kematian manusia, tapi puisi jelas menunda kematian jiwa dalam diri manusia yang masih hidup. Hal ini dimungkinkan, karena dari sifatnya, puisi membebaskan diri dari kematian budaya.

Mungkin itu satu alasan dari penerbit yang masih setia menerbitkan buku puisi, karena saat setiap satu buku puisi terbit, buku tersebut mengemban misi mulia: untuk membebaskan diri manusia dari kematian jiwa dan budaya. Pembaca dan penikmat puisi lambat laun jiwanya semakin lembut. Melalui kelembutan yang dimiliki, maka pembaca puisi akan memilih cara atau jalan damai dalam mengarungi hidupnya. Bahkan bagi seorang sastrawan dari Bali, Oka Rusmini bahwa menulis puisi baginya adalah semacam upacara penunda kematian. Dengan puisi saya berdialog dengan hidup, berkompromi dan berpikir tentangnya: menyadari bahwa saya benar-benar manusia. Mari mulai menulis minimal satu puisi di buku harian manual atau digital. Nikmatilah dan rasakan sensasi menulis dan membaca puisi. Minimal kita telah menyelamatkan jiwa sendiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: