Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Marlistya Citraningrum

penulis amatir. currently serving as monev officer at Indonesia Mengajar.

Sekelumit Catatan Tentang Inferno (Dan Brown)

HL | 05 June 2013 | 10:29 Dibaca: 7321   Komentar: 35   9

13703683531823175860

“Kamu tahu, Citra, alam itu punya cara tersendiri untuk mengontrol kita dan semua isinya. Lewat penyakit, lewat bencana alam, hal-hal yang kuasanya jauh di atas kemampuan kita untuk mencegah atau mengobati. Nature always has its way”.

Sekelumit pembicaraan dini hari dengan seorang sahabat terngiang kembali di pikiran saya begitu selesai membaca Inferno.

Novel terbaru dari Dan Brown ini begitu diantisipasi oleh banyak orang dan ulasannya sudah banyak muncul di berbagai media, dinantikan oleh banyak orang, termasuk saya. Awalnya saya enggan untuk membeli karena belajar dari Da Vinci Code dan Angels and Demons, dua novel pertama Dan Brown yang menghadirkan Robert Langdon, saya jadi tidak fokus mengerjakan hal lain dan malah tenggelam, menghabiskan energi untuk menyelesaikan kedua novel itu segera. Sementara The Lost Symbol yang tokoh utamanya Robert Langdon sama sekali tidak meninggalkan kesan untuk saya, Inferno sebaliknya. Novel setebal 461 halaman ini saya selesaikan dalam 3 hari, yang bisa saja sehari jika seandainya thesis itu bisa diabaikan sejenak (*ngarep).

Seperti biasa, meski ini pura-pura review, saya tidak akan memberikan gambaran plot yang jelas atau detail. As much as I’d like to do so, saya tidak suka diberi spoiler maka adillah bila saya juga tidak memberikan spoiler. Ulasan yang mungkin membuat Anda ingin atau malah tidak akan membeli Inferno. Kabarnya Inferno edisi bahasa Indonesia baru akan terbit bulan Agustus.

Inferno, bila ada yang tahu, adalah salah satu bagian (canticle) dari buku puisi karya Dante Alighieri “The Divine Comedy”. Puisi panjang ini dibagi 3: Inferno (neraka), Purgatorio (purgatori), dan Paradiso (surga). Dan memang, Inferno-nya Dan Brown banyak mengambil inspirasi dari Inferno-nya Dante Alighieri. Maka saya menyarankan Anda untuk membaca dulu Inferno karya Alighieri sebelum membaca Inferno karya Brown karena di dalamnya begitu banyak aspek dari Inferno-nya Alighieri, bahkan termasuk kisah hidupnya. Buku elektroniknya tersedia gratis di Project Gutenberg (unduh disini).

Ada satu kalimat yang diulang beberapa kali di novel ini.

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis”.

Tempat tergelap di neraka disediakan khusus bagi mereka yang mempertahankan ketidakberpihakan mereka pada saat krisis moral melanda.

Kalimat ini adalah inti dari keseluruhan cerita menegangkan yang dilakoni Robert Langdon dan seorang tokoh protagonis wanita (yang selalu saja ada menemani Langdon di setiap kemunculannya dalam novel Dan Brown). Kalimat yang menurut Dan Brown berasal dari Inferno-nya Dante, meski tidak ada kalimat persis seperti itu. Kalimat yang sepertinya “diturunkan” dari canto 3 (Inferno – Alighieri):

…….

Here sighs with lamentations and loud moans
Resounded through the air pierc’d by no star,
That e’en I wept at entering.  Various tongues,
Horrible languages, outcries of woe,
Accents of anger, voices deep and hoarse,
With hands together smote that swell’d
he sounds,
Made up a tumult, that for ever whirls
Round through that air with solid darkness stain’d,
Like to the sand that in the whirlwind flies.

I then, with error yet encompass’d, cried:
“O master!  What is this I hear?  What race
Are these, who seem so overcome with woe?”

He thus to me: “This miserable fate
Suffer the wretched souls of those, who liv’d
Without or praise or blame, with that ill band
Of angels mix’d, who nor rebellious prov’d
Nor yet were true to God, but for themselves
Were only.  From his bounds Heaven drove them forth,
Not to impair his lustre, nor the depth
Of Hell receives them, lest th’ accursed tribe
Should glory thence with exultation vain.”

…….

Bahwa sebagian besar dari kita sering memilih netral, tidak melakukan apa-apa ketika melihat sesuatu yang sebenarnya perlu ditindaklanjuti. Memilih mengalihkan perhatian dengan twitwar daripada menyimak bencana di negara mana. Memilih membuang pandang (meski trenyuh) dari seorang nenek tua penjual bunga.

Dan Brown menjabarkannya dalam petualangan panjang dan penuh kode, seperti biasanya.

Inferno mendapatkan banyak ulasan tajam di berbagai media luar negeri, tapi saya sebagai pembaca dan bukan kritikus menganggap buku ini menarik (call me foolish for doing so, but I do like the book). Bab per bab dikemas singkat dan menegangkan, yang membuat pembaca tidak sabar untuk melanjutkan ke bab berikutnya. Untuk buku yang tebalnya “hanya” 461 halaman, 104 bab jelas membuatnya penuh intrik. Kaya deskripsi, terutama dengan latar tempat yang berubah-ubah dan sarat sejarah, membuat saya ingin pergi berkunjung ke semua tempat yang disebutkan Brown di buku ini (sensasi serupa saat membaca Da Vinci Code dan Angels and Demons). Meski pilihan kata yang digunakan Brown sedikit datar alias mirip dengan buku panduan wisata, tidak mengurangi daya tarik tempat-tempat yang disebutkannya. Isu mendasar yang selalu ada bersama Langdon, anti Katolik (ah, anti sepertinya terlalu tajam, lebih halusnya “berseberangan dengan”), juga ada di Inferno. Sepertinya Brown punya pengalaman buruk dengan Vatikan atau dia ingin menunjukkan sisi “berandalnya” dengan perlawanan pada Katolik. Maklum, sesuatu yang kontroversial biasanya menjual.

Saya menikmati buku ini. Dengan plotnya yang cepat dan rapat, dengan penjejalan tentang sejarah tempat ini dan itu, dengan isu besar yang diusungnya, dengan akhir yang lagi-lagi, di luar dugaan. Juga dengan alur rumit, latar tempat yang beragam, serta berbagai teknologi, yang lepas dari faktual atau tidaknya, akurat atau tidaknya, memerlukan riset dan pemikiran panjang.

Lalu apa hubungannya kalimat pertama saya dengan Inferno? Ada. Silakan ditemukan nanti. Kabari saya yaaaa.

Beberapa fun fact:

Fun fact #1: Buku ini dirilis tanggal 14 Mei 2013, yang kalau ditulis dalam penanggalan internasional 5-14-13, yang jika dibalik menjadi 31415, lima digit pertama bilangan Pi.

Fun fact #2: sampul halaman depannya (versi hardcover Doubleday) memuat foto Dante Alighieri yang berada di dalam lingkaran, spiral tepatnya, dengan huruf dan angka tersebar acak, katanya sebuah kode.

Fun fact #3: saking populernya kucing, baik gambar atau video, di internet, Dan Brown sampai menyebutkan “cat videos” sebagai salah satu hal yang kita pakai untuk mengalihkan perhatian dari isu tertentu.

Fun fact #4: tidak hanya film dan serial televisi yang memasukkan product placement, Dan Brown juga memasukkan beberapa merk dalam Inferno, di antaranya NetJets dan Solublon.

All in all, selamat membaca!

XOXO,

-Citra

Judul                : Inferno
Pengarang      : Dan Brown
Penerbit          : Doubleday
Tebal                : 461 halaman

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 4 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 5 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 6 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Halal atau Haramkah Obatku?? …

Nurul Amalia | 7 jam lalu

Sepakbola Indonesia Refleksi Sebagian Orang …

Razak Alafghany | 8 jam lalu

Bipolar Itu ‘Istimewa’ …

Nur Rahmah Masda | 8 jam lalu

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 8 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: