Back to Kompasiana
Artikel

Buku

Bambang Trim

Penulis-Editor-Konsultan Penulisan-Penerbitan. Writerpreneur pemilik usaha Trimuvi (Cimahi) dan Detikata Media (Solo) ~ surel: bambangtrim72@gmail.com | selengkapnya

Komposisi Dahsyat Gorys Keraf

OPINI | 06 June 2013 | 08:04 Dibaca: 862   Komentar: 5   3

Memang jadul, tetapi kesan sistematis dan ilmiah sekaligus lengkap tidak dapat dilepaskan dari buku Komposisi karya Prof. Dr. Gorys Keraf. Pada masa 1980-1990-an siapa yang tidak kenal Gorys Keraf ketika mempelajari bahasa Indonesia. Bukunya menjadi buku induk yang digunakan mulai SD hingga perguruan tinggi.

Kover buku Komposisi versi cetakan XI, 1997

Kover buku Komposisi versi cetakan XI, 1997

Satu hal yang menarik, buku Komposisi melambungkan nama penerbit yang terletak di Ende, Flores yaitu Penerbit Nusa Indah. Generasi penulis sekarang sangat mungkin tidak pernah bersentuhan dengan buku Komposisi karya Gorys Keraf yang dahsyat. Beruntung saya menggunakan buku itu sejak kuliah semester I di Program Studi D3 Editing, Unpad. Tentu bagi yang tidak suka kerumitan, terutama tata bahasa Indonesia, buku yang diterbitkan sejak 1971 ini memang kurang renyah dibaca. Namun, saya yakin buku ini telah banyak menolong para mahasiswa dan akademisi untuk menghasikan karya tulis ilmiah yang bermutu pada masa terdahulu.

Ada dua belas bab dalam buku ini yang memaparkan banyak hal detail tentang karangan atau dalam buku ini disebut komposisi. Ambil contoh tentang bibliografi (daftar pustaka) serta catatan kaki yang dibahas lengkap. Mungkin saat ini Anda sudah tidak mengenal lagi berbagai singkatan dalam catatan kaki, seperti ibid., op. cit., atau loc. cit., di dalam buku ini Anda bisa mengetahui apa makna dan fungsinya–walaupun dalam konteks penulisan populer saat ini cara merujuk seperti itu sudah ditinggalkan.

Hal lain yang menurut saya sangat khas dari buku ini adalah bab tentang konvensi naskah. Namun, dalam bahasan ini Gorys Keraf menyebutkan “kata pengantar” adalah bagian yang ditulis oleh penulis, sedangkan dalam konvensi naskah sebenarnya ada pembeda antara “kata pengantar” (foreword) dan “prakata” (preface). Prakatalah bagian yang ditulis oleh penulis sendiri, sedangkan kata pengantar ditulis oleh orang lain. Tentang perbedaan ini telah disinggung oleh The Liang Gie (generasi sekarang juga sangat mungkin tidak mengenal beliau) dalam buku lawas juga berjudul Terampil Mengarang. Boleh jadi karena buku Komposisi dijadikan banyak acuan perguruan tinggi, penulisan “kata pengantar” pun sudah menjadi kelaziman dilakukan si penulis pada sebuah karya tulis ilmiah.

Ya, saya menengarai beberapa panduan penyusunan karya tulis ilmiah ataupun skripsi-tesis-disertasi yang ditetapkan sebuah lembaga pendidikan tinggi banyak sekali mengadopsi tata tulis yang termuat di buku Komposisi Gorys Keraf. Walaupun demikian, ada mata rantai yang terputus untuk generasi akademisi sekarang, contohnya soal tanda-tanda koreksi di dalam konvensi naskah. Tanda-tanda koreksi lazim digunakan, bahkan menjadi kebiasaan secara internasional untuk melakukan editing pada naskah tercetak. Gorys Keraf menyebut tanda-tanda ini sebagai bentuk komunikasi efektif antara mahasiswa dan dosen atau antara penulis dan penerbit.

Di setiap acara lokakarya atau pelatihan penulisan buku akademik, saya selalu bertanya perihal tanda-tanda koreksi ini. Biasanya 90% dosen/widyaiswara memang tidak mengenal tanda-tanda koreksi ini yang dapat mereka pergunakan ketika mengedit atau menyunting karya-karya dari mahasiswa. Hal demikian memang menyiratkan ada yang bermasalah dengan sistem pendidikan untuk kemampuan literasi kita. Hal-hal yang serba instan kini dengan luberan informasi tiada henti lebih disukai daripada harus berpayah-payah mendalami sebuah proses dengan segala detailnya, termasuk dalam menulis.

Karena itu, coba Anda cari “harta berharga” buku Komposisi ini yang mungkin masih ada di jejaring toko buku besar ataupun sentra buku-buku murah seperti di kawasan Palasari Bandung ataupun Pasar Senen Jakarta. Saya yakin versi bajakan buku ini dulu sangat banyak disebabkan buku ini menjadi buku acuan pada hampir semua perguruan tinggi–sama halnya dengan buku Dasar-Dasar Ilmu Politik karya Miriam Budiardjo dan Psikologi Komunikasi karya  Jalaluddin Rakhmat. Namun, tentu disarankan Anda membeli versi aslinya sebagai penghargaan terhadap Pak Gorys Keraf.

Tertarik? Memang rasanya kurang afdol kalau Anda menempuh jalan penulisan, tetapi justru belum membaca buku ini. Dalam tulisan lain saya juga akan membahas salah satu maestro penulisan ilmiah yang juga pakar manajemen, The Liang Gie. Semangat.[]

©2013 oleh Bambang Trim

Praktisi Penulisan-Penerbitan Buku; Tukang Buku Keliling; Komporis Buku

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 9 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 10 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: